
Dani mengantar Zeva untuk melakukan serangkaian cek kandungan. Tepat hari ini adalah dimana Bulan ke 3 kehamilan Zeva dan hal itu membuat Dani bersemangat.
Zeva menyunggingkan senyumannya pada Dani, dia terlihat begitu bahagia karena Suami nya selalu siaga kapanpun dia butuh.
"Ayo sayang" ajak Dani saat mereka tiba di Rumah sakit.
Zeva mengangguk dan mulai turun dari mobil dengan perlahan, kemudian keduanya melangkah masuk ke ruangan Dokter yang mana akan memeriksa nya.
"Gak apa kan kita ngantri?" tanya Dani sambil membawa Zeva duduk.
"Tidak apa, Mas" balas Zeva lembut.
Keduanya duduk di kursi antri, terlihat ada beberapa Ibu hamil yang sudah berperut besar disana yang ditemani Suami mereka.
Hingga manik mata nya menangkap seseorang yang di kenal nya sedang berjalan ke arah ruangan Administrasi.
"Loh itukan Romi, bukannya dia sedang di luar negeri?" gumam Dani mengerutkan kening.
"Mas, kamu juga lihat Romi?" tanya Zeva saat mendengar lirihan Dani.
Dani menatap Istri nya menganggukan kepala, dia lalu menunjuk ke arah dimana Romi berada dengan dagu nya.
"Huh rasanya aku itu ingin sekali menonjok dia jika ingat bagaimana kelakuan dia dulu pada kita" ucap Zeva dengan lirih.
"Lihatlah dia itu sangat menyebalkan, Mas" lanjut Zeva kembali.
Dani hanya tersenyum saja, lalu dia bangkit dari duduk nya.
"Ayo sekarang giliran kamu" ajak Dani lembut.
Zeva mengangguk dan memegang tangan Dani lembut, kemudian keduanya melangkah masuk ke ruangan Dokter.
🍌
Setelah dari Rumah sakit, Zeva merengek ingin jalan-jalan dulu ke Taman Kota. Dia ingin menikmati waktu sore dengan santai di Taman.
__ADS_1
"Mas kita duduk disana, namun beli makanan dulu ya" ucap Zeva dengan antusias menunjuk ke kursi yang ada di pinggir Taman.
"Baik Tuan Putri" balas Dani tersenyum.
Zeva membawa Dani ke beberapa pedagang, dia membeli lumayan banyak makanan dan minuman. Setelah nya baru dia duduk di kursi yang sudah tadi di incar nya.
"Gini enak kan Mas, nikmati sore yang cerah dengan udara alam" celetuk Zeva sambil ngunyah makanan.
"Iya sayang, apapun untukmu" balas Dani lembut.
"Oh iya, kenapa kamu bergaya kembali jadi Zeva dulu?" tanya Dani penasaran.
Zeva menghentikan kunyahannya, dia lalu meminum air yang tak terlalu dingin.
"Aku gak tau kenapa mau aja, Mas. Apa kamu keberatan?" tanya balik Zeva dengan tatapan dalam.
"Ya jelas tidak sayang, mau kamu kayak gini ataupun tidak aku akan tetap tulus mencibtaimu. Sejak kau masih dalam kandungan saja aku jaga, apalagi sekarang yang sedang mengandung buah hati kita, kamu ini" kekeh Dani dengan mengusap lembut pipi Zeva.
Zeva langsung tersenyum malu, dia bahkan menundukan kepala nya karena malu dengan sekitar nya.
Plak.
"Ish Mas kau ini" gerutu Zeva dengan memukul lengan Dani pelan.
Dani hanya cengengesan saja, kemudian dia menyodorkan makanan kembali pada Ibu hamil tersebut.
"Eh lo Zeva kan?" tanya seorang pria dengan menunjuk ke arah Zeva.
Zeva dan Dani menatap nya dengan biasa saja, dan Zeva hanya mengangguk.
"Wih cowo lu ganteng juga, dapat ngangkang lu ya. Secara lu kan culun, dekil begini mana ada yang mau" celetuk Romi dengan tertawa.
Deg.
Dani mengepalkan tangannya dan sudah ingin melayangkan pada wajah Romi, namun Zeva menahannya dengan gelengan kepala tegas.
__ADS_1
"Lalu kenapa? Apa masalah buat kamu? Apa kamu masih suka membully orang hingga sampai sekarang nganggur? Emm apakah udah lulus atau malah tinggal kelas" ledek Zeva dengan santai nya, bahkan tangannya menggoyangkan minuman.
"Apa maksud mu hah, aku ini pewaris tunggal Herman dan aku mana mungkin nganggur" bentak Romi mengundang perhatian orang-orang disana.
"Kalau tak nganggur ngapain disini? Sana kerja" ucap Dani dengan lantang.
Romi menatap Dani intens, dia merasa kenal namun masih samar.
"Ayo sayang pergi dari sini" ajak Dani pada Zeva.
"Ayo" balas Zeva beranjak dari duduk nya.
Romi mengepalkan tangannya, dia menatap Zeva penuh benci. Sejak Zeva kuliah di kampus yang sama dengannya, dia sudah mendapatkan banyak masalah dan tak kunjung bisa membalasnya hingga akhir nya Zeva pindah dan menghilang saat itu.
"Ck, cewe udik aja gitu di banggakan, pantas nya di jadikan pembantu" teriak Romi saat melihat Dani dan Zeva sudah pergi.
"Kalau syirik bilang saja Mas" celetuk pengunjung disana dengan santai.
Heh.
"Ngapain syirik sama cowo tadi, dia hanya mendapatkan cewe dekil begituan juga" balas Romi dengan penuh hina.
"Ya kalau gak syirik jangan ngehujat gitu, biarin saja" timpal cewe yang ada disana.
Romi langsung berlalu dari sana dengan wajah kesal nya, dia memang akan pergi ke Taman untuk membeli makanan di Apartemennya yang Resto nya berhadapan dengan Taman.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.