
"Sayang"
"Nona"
Teriakan antara Yoga dan Dani begitu lantang dan mengundang orang-orang berkerumun.
"Tuan, aku akan mengejar mobil itu" ucap Yoga setelah memastikan Dani datang.
"Pergilah dan tangkap dia" balas Dani datar.
Dani lalu membawa Zeva ke dalam mobil milik nya, dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi karena begitu khawatir.
"Kenapa aku sampai lengah, ini adalah ulah Sonia aku yakin" gumam Dani dengan geram.
Hingga mobil tersebut pun tiba di Rumah sakit elit yang kebetulan tak jauh dari sana.
Dani menggendong Zeva masuk ke dalam, dan untung saja ada perawat dan dengan cepat mengambil alih nya.
"Tuan, anda bisa tunggu disini dulu" ucap sang perawat saat akan masuk ke dalam ruang UGD.
"Tolong selamatkan Istri saya" balas Dani lirih.
Perawat tersebut hanya mengangguk, lalu dia masuk setelah Dokter datang.
Dani mengabari Ayah dan Bunda nya, setelah nya dia duduk tak tenang di sana.
"Awas kau Sonia, kau sudah berani menyentuh Zeva. Aku sudah peringatkan kamu namun kamu seolah tuli" geram Dani.
"Nak" panggil Bunda.
Dani memalingkan wajah nya dan disana sudah ada Bunda dan Ayah nya yang memang sedang berada di luar hingga cepat sampai kesana.
"Bagaimana cerita nya Dan? Kenapa kamu lengah" ucap Ayah dengan wajah bengis nya.
"Ini terlalu cepat, aku yakin Sonia dan Fairus sudah merencanakan semua ini" balas Dani mengepalkan tangannya.
Drrtt.
Drrt.
Ponsel Dani bergetar, dia melihat siapa yang menelpon nya.
"Bagaimana Ga?" tanya Dani langsung.
"Dia utusan Sonia dan aku sudah menyerahkan pada Maxi" jawab Yoga.
"Bagus, kamu kembali ke perusahaan saja dan handle disana" ucap Dani.
Tut.
Dani memutuskan panggilannya dan kembali duduk bersama dengan Ayah dan Bundanya.
Ceklek.
"Bagaimana Dok?" tanya Dani begitu cepat.
Dokter tersenyum melihat gurat ke khawatiran di wajah Dani yang sangat terlihat.
"Semuanya baik-baik saja, pasien hanya terdapat beberapa luka di tubuhnya. Mungkin kecelakaan barusan hanya menyenggol tubuh nya saja, tetapi karena kondisi pasien yang lemah sampai mengakibatkan pingsan" jelas Dokter.
Huh.
Dani membuang nafas lega, dia menyuruh Dokter memindahkan Zeva ke ruangan VIP yang ada disana.
🍌
__ADS_1
Dani menyuapi Zeva yang sudah sadar sejak tadi, kini disana hanya ada mereka berdua karena Ayah dan Bunda pamit pulang untuk membawa ganti Dani dan makanan.
"Mas, ini sudah kelewatan dan Sonia harus kita urus dengan cepat" ucap Zeva.
"Aku sudah menyerahkan semuanya pada pengacara dan bukti-bukti itu juga sudah masuk ke kantor Polisi yang tingkat keamannya tinggi. Disana Sonia tidak akan bisa berkutik ataupun keluar dengan leluasa" balas Dani dengan tersenyum.
"Dan pengacara itu sudah Maxi amankan, ternyata dia adalah anak dari rekan kerja Fairus yang pernah di tolong nya" jelas Dani kembali.
"Aku sudah ingin membuatnya mendekam di penjara, biar dia merenungkan kesalahannya" ucap Zeva.
"Mas, aku ada ide" ucap Zeva kembali, dia lalu membisikan sesuatu pada Dani.
Dani mengangguk setuju dan langsung menyuruh Maxi dan Yoga datang ke Rumah sakit untuk membahas nya.
Meski agak beresiko namun itu tidak ada apa nya saat Sonia membunuh Ayah dan Bunda Zeva dengan sadis.
"Kamu harus tetap ada dalam pengawasanku tapi, jangan jauh-jauh" tegas Dani yang mana membuat Zeva tersenyum.
"Ehem iya iya sayangku" balas Zeva mengulus senyum.
"Zevanya Aulia Graham" ucap Dani dengan tatapan tajam.
Zeva sontak saja langsung tertawa, dia suka sekali menggoda Dani sampai kesal begini.
"Iya iya aku mengerti kok, jangan ngambek ah" balas Zeva menghentikan tawa nya.
Zeva langsung memeluk Dani, dia begitu bersyukur karena Dani selalu bersamanya. Bahkan saat dimana dia harus berjuang demi hak orangtua nya, Dani selalu mensuport dan jadi garda terdepan dalam mendukung Zeva.
"Tetap di sampingku apapun yang akan terjadi di depan sana" lirih Zeva dalam pelukan Dani.
"Kau adalah segalanya sayang, bagaimana bisa aku meninggalkanmu begitu saja" balas Dani lembut.
🍌
"Bun, bawa pesanan Zeva gak?" tanya Zeva dengan menelisik.
"Bawa sayang, tapi besok makannya ya" jawab Bunda dengan lembut.
"Yah padahal aku sudah mau banget" ucap Zeva dengan lemah.
Dani langsung menghentikan kunyahan makannya, dia meletakan makanan dan menghampiri sang Istri.
"Ada apa? Kenapa murung?" tanya Dani yang seolah tak suka jika sang Istri cemberut begitu.
Zeva menggelengkan kepala nya, dia lalu merebahkan tubuh nya di ranjang.
"Bun, kenapa?" tanya Dani.
"Dia mau makan rujak dan Bunda takut akan mempengaruhi kondisi kesehatannya, Nak" jawab Bunda.
Bunda lalu mendekati Zeva kembali, dia mengusap punggung sang menantu.
"Bunda janji besok akan memberikan itu padamu, sayang. Tapi untuk saat ini jangan dulu ya, Bunda takut nanti sakit kamu malah bertambah" ucap Bunda dengan lembut.
"I iya Bunda" balas Zeva tersendat.
Dani terlonjak kaget, dia lalu melihat Istrinya yang di rasa sedang menangis.
"Loh kok nangis, mau banget makan rujak?" tanya Dani dengan panik.
Ceklek.
"Tuh Dokter sudah kemari" ucap Ayah Hanan dengan meletakan ponsel nya.
"Apa ada keluhan atau sakit yang anda rasakan, Nona?" tanya Dokter mendekat ke ranjang pasien.
__ADS_1
Zeva menggelengkan kepala nya, dia lalu menyeka air mata nya.
"Dia mau makan rujak" ucap Bunda.
Dokter manggut-manggut dengan tersenyum.
"Tidak apa, berikan saja Nyonya" balas Dokter itu dengan ramah.
"Apa anda belum mengatakan kabar baik ini, Nona?" tanya Dokter pada Zeva.
Pluk.
Zeva sontak menepuk jidat nya karena lupa.
"Ada apa?" tanya Dani penasaran.
"Nona Zeva sebenarnya sedang hamil, Tuan. Jadi dia menginginkan rujak karena mengidam" jelas Dokter dengan lugas.
Deg.
Hah.
"Ha hamil" ucap Ayah dan Bunda kaget.
Dani? Dia sudah memeluk Zeva dengan erat dan memberikan kecupan di wajah nya dengan penuh kebahagian.
"Bocah semprullll" teriak Ayah dengan kesal.
"Dasar anak tengil kau Dani" timpal Bunda dengan memukul kepala Dani.
Hahaha.
Sontak saja Zeva langsung tertawa karena lucu, dia lalu meminta Ayah dan Bunda nya untuk memeluk dirinya.
"Berapa usia kandungan menantu saya, Dok?" tanya Ayah antusias.
"Sudah mau 2 bulan, Tuan" jawab Dokter.
Lalu sang Dokter pun permisi dari sana, sedangkan Bunda langsung menata rujak buatannya ke dalam piring yang ada disana.
Dani masih saja tertawa kecil dan hal itu yang membuat Ayah semakin kesal.
"Bagaimana kalau insiden tadi membuat kalian kenapa-napa hmm" ucap Ayah mengusap lembut kepala Zeva.
"Kami kuat Opa, doakan saja kami selalu sehat" balas Zeva tersenyum.
"Amin" balas Dani, Bunda dan Ayah bersamaan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1