Pembalasan Zevanya.

Pembalasan Zevanya.
Bab 25


__ADS_3

Hari ini Dani akan bertemu klien di perusahaannya, dia terpaksa berangkat pagi sekali dan bahkan meninggalkan Zeva yang masih terlelap.


Kebiasaan Zeva setelah hamil, dia akan terlelap kembali setelah melakukan kewajibannya.


"Bun, kalau ada apa-apa kabarin aku ya" ucap Dani sebelum beranjak pergi.


"Iya Nak, ponsel mu selalu aktif saja" balas Bunda mengulum senyum.


Dani hanya terkekeh, dia lalu pergi dari mansion dengan sang Asisten, Maxi.


"Bagaimana dengan pencarian Mauren?" tanya Dani.


"Masih berlanjut, kita sudah kehilangan jejak nya dari Rumah kumuh itu" jawab Maxi.


"Cari dan jangan biarkan dia lepas, dia akan membahayakan Zeva nanti nya" tegas Dani.


Maxi mengangguk, dia memang mengakui cukup ceroboh karena meninggalkan Mauren yang ternyata sudah bangun dan malah kabur.


🍌


Zeva menggeliat, dia meraba ke samping dan sudah kosong tidak seperti biasa nya.


"Mas" panggil Zeva lirih sambil membuka pelan mata nya.


"Loh kok gak ada, memangnya jam berapa sekarang" gumam Zeva kembali.


Zeva bangkit dari tidur nya, dia lalu menatap pada jam yang ada di hadapannya.


"Ya ampun jam 9, kenapa aku suka sekali tidur pagi-pagi begini sih" gerutu Zeva kesal.


Dia melangkah ke arah kamar mandi, Zeva akan membersihkan tubuh terlebih dulu sebelum pergi mencari Dani.


Hampir setengah jam bersiap, akhirnya Zeva selesai juga dan keluar kamar.


"Bunda" panggil Zeva turun ke lantai bawah.


"Udah bangun sayang? Sini duduk sama Bunda" ucap Bunda dengan tersenyum lembut.


"Bunda, Mas Dani kemana?" tanya Zeva setelah mendudukan dirinya di samping sang mertua.


Bunda tersenyum, dia lalu mengelus lembut perut menantu nya.

__ADS_1


"Dia sudah pergi sejak tadi pagi, karena ada meeting dengan klien" jelas Bunda tersenyum.


Huh.


Zeva membuang nafas kasar, dia lalu menyenderkan kepalanya ke bahu sang mertua.


"Kita telepon Ibu Kania yuk, dia pasti sangat rindu padamu, sayang" ucap Bunda dengan mengambil laptop nya.


"Iya Bun, aku juga mau protes padanya kenapa pergi ke Aus lama dan tak ngabari aku lagi" gerutu Zeva dengan wajah gemas nya.


"Lihatlah Dani, pipi Istrimu semakin cabby dan ah rasanya Bunda ingin mengatakan dia gendut" batin Bunda menahan tawanya.


Bunda lalu mencoba menelpon Kania, Zeva menunggu nya dengan tangan yang menyangga wajah di depan laptop.


"Ish kenapa lama sekali ngangkat nya Ibu" protes Zeva saat panggilan Vidio di laptop sang mertua.


"Eh Bumi kenapa marah-marah sih, maaf ya Ibu tadi lagi nemenin Oma" ucap Kania dengan terkekeh geli.


"Lalu kenapa lama di Aus? Terus Oma di ajak lagi dan pergi gak bilang" omel Zeva kembali, Bunda hanya diam saja dengan tertawa kecil melihat bagaimana Zeva marah sama Kania.


"*Maaf ya sayang, malam itu kami benar-benar sangat urgent dan tak bisa menemuimu. Dan kami akan menetap lumayan lama disini karena perusahaan Om mu lagi ada masalah" jelas Kania sangat hati-hati dan lembut.


"Jangan protes dulu, nanti kami akan pulang saat waktu kelahiran kamu tiba" lanjut Kania dengan cepat*.


"Kalian menyebalkan sekali" rajuk Zeva dengan wajah cemberutnya


"Bunda, aku mau makan dulu saja lah" pamit Zeva dengan beranjak dari sana.


Bunda mengangguk dan tersenyum.


"Maaf ya Kania" ucap Bunda tersenyum.


"Tidak apa, aku maklum kok dia kan lagi hamil dan itu sangat menggemaskan. Pasti kamu tersiksa karena menahan gemas untuk mencubit nya" kekeh Kania.


Bunda dan Kania terus saja berbincang, bahkan Bunda tidak tahu bahwa Zeva keluar karena ingin makan di temani oleh Suami nya.


Hingga setelah 1 jam bercerita, Bunda mematikan sambungannya karena khawatir pada Zeva yang tak kunjung datang.


"Bi, dimana Zeva?" tanya Bunda.


"Loh bukannya tadi udah izin sama Ibu mau nyusul Tuan Dani ke perusahaan" jawab Bibi dengan raut wajah bingung.

__ADS_1


Deg.


"Ya ampun, aku harus menelpon Dani" ucap Bunda panik.


🍌


Sedangkan di perusahaan Dani, Zeva baru saja turun dari taxi yang mengantar nya.


Dia melangkah ke dalam perusahaan dengan hati-hati.


"Hei siapa anda, kenapa berani sekali mau masuk ke dalam lift petinggi" teriak Resepsionis di depan.


Zeva hanya diam, dia lalu menatap nya dengan malas.


"Hei wanita culun, kenapa kau diam saja" teriaknya lagi dengan menggema dan mengundang para karyawan yang berlalu lalang disana karena akan makan siang


"Memangnya kenapa? Aku kan mau bertemu dengan Suamiku" balas Zeva dengan kesal.


"Kau ngaku-ngaku ya, ah kau hamil ya" celetuk salah satu karyawan dengan menunjuk perut Zeva yang menonjol.


"Cih, kau pasti wanita muraha* yang akan menjebak salah satu petinggi disini ya" bentak resepsionis.


Plak.


Zeva menampar nya dengan kuat, dia sangat emosi mendengar ucapan karyawan disana.


"Kau berani nya menamparku, hah" teriaknya lagi dengan kesal.


Bruk.


"Sayang"


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2