
2 Tahun Kemudian.
Hari ini, tepat ulangtahun Zevanya yang ke 27 tahun, dan selama 2 tahun ini Sonia di bikin pusing karena tidak menemukan keberadaan Zevanya dimana pun.
Hanya segelintir orang yang tahu akan keberadaan Zeva, bahkan Surya dan keluarganya pun tidak tahu.
π
Dani sudah bersiap sejak pagi tadi, bahkan dia selalu menyunggingkan senyumannya dengan sangat manis.
Bahkan Maxi dan Ayah pun di buat menggelengkan kepala oleh kelakuan Dani.
"Cepat sana pergi, kau durhaka karena menjauhkan Ayah dari Bundamu" kelakar Hanan dengan mendorong Putra nya keluar dari Rumah.
"Hehe, aku pergi jemput menantu dan Istrimu dulu ya Ayah" ledek Dani dengan segera pergi ke arah mobil.
Hanan menggerutu dengan kelakuan Putra nya, namun dia juga bersyukur karena Dani terlihat sangat bahagia dengan adanya Zeva.
"Max, sepertinya ada penguntit di belakang kita" ucap Dani setelah mobil mereka keluar dari halaman Rumah nya.
"Kau benar, makannya aku melajukan mobil ke arah perusahaan" balas Maxi santai.
Dani mengangguk, lalu dia menatap ke belakang lewat kaca tengah.
"Seperti mobil yang sama yang pernah mengikuti kita tempo lalu" ucap Dani.
"Kalau di lihat sih iya, tapi aku lihat sekarang bersama dengan Fairus" balas Maxi.
Heh.
Dani terkekeh, dia sudah berapa kali terlibat pertemuan dengan Fairus dan dia sangat tidak menyukai nya karena tipe orang yang suka menjilat.
Hingga mobil yang di lajukan Maxi masuk ke basement perusahaan.
Mereka bertukar mobil dengan anak buah nya, dan membiarkan mobil Dani keluar kembali dari perusahaan.
Namun baru beberapa menit anak buah nya sudah memberitahu bahwa mobil tersebut mengikuti mereka.
"Ayo cepat berangkat" ucap Dani tak sabaran.
"Sabar sedikit napa" balas Maxi menggerutu.
"Sudah rindu ini" kekeh Dani dengan tatapan menyebalkan.
Maxi hanya mendengus dan melajukan mobil nya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Dani sontak langsung terkekeh melihat wajah Maxi yang kesal.
πΏπΏ
Tepat jam 3 sore, Dani dan Maxi tiba di halaman Rumah yang sederhana namun sangat asri.
"Sayang" panggil Dani dengan lantang dan penuh kebahagian.
Ceklek.
"Masuk cepat" ajak Bunda Dani.
Maxi dan Dani mengeryitkan dahi, namun sedetik kemudian mereka berdua masuk dengan segera.
"Ada apa, Bun?" tanya Dani bingung.
"Semalam ada yang mematai Rumah ini, Mas" jawab Zeva keluar dari arah dapur
Glek.
__ADS_1
"Ya ampun bidadari" celetuk Maxi.
Bugh.
"Menunduk sialan, dia Istri ku" bentak Dani dengan kesal.
Maxi langsung saja cengengesan dan pergi mendekati Bunda Dani.
Sedangkan Zeva menggelengkan kepala nya dan menghampiri Dani.
Cup.
"Bagaimana kalau kita langsung pergi?" tanya Zeva setelah mendapatkan kecupan di kening nya.
"Yang di katakan Zeva benar, aku yakin sebentar lagi orang yang mengintai mereka akan kembali lagi kesini" timpal Maxi.
Dani mengangguk, lalu dia dan yang lainnya keluar dari pintu rahasia dengan mobil berbeda.
Maxi duduk di samping Dani, dia memperhatikan Cctv yang ada di halaman Rumah itu.
"Lihat dia sudah kembali dan memang mematai Rumah itu" ucap Maxi menunjukan ponsel Dani.
"Dia bahkan berani memasuki halamannya dan melihat mobil itu" lanjut Zeva dengan menunjuk ke arah ponsel kembali.
"Syukurlah kita langsung pergi" ucap Bunda Dani dengan nafas lega saat mobil sudah memasuki area jalan raya.
Zeva mengangguk, dia lalu memeluk Ibu mertua nya dengan erat.
"Eh kalau udah manja gini" kekeh Bunda dengan mengusap lembut rambut Zeva.
Dani tersenyum kecil, dia rasanya ingin memeluk sang Istri yang sudah sangat di rindukannya.
-Flashback.
Hingga membuat kesalahan pahaman disana dan warga disana menuduh Dani dan Zeva kumpul kebo.
Hingga Dani mengambil keputusan untuk menikahi Zeva agar mereka tetap aman dan tidak terus di tuduh.
Tibalah hari dimana Zeva akan di nikahi oleh Dani, pernikahan itu sederhana namun sangat khidmat untuk Dani dan keluarganya.
'SAH'
Hingga kata sah keluar dari mulut warga disana, Zeva meneteskan air mata nya dengan haru dan bahagia.
-Flashnow.
Mereka tidak berhenti dimana pun, karena Ayah Dani memberitahu bahwa Sonia sudah kembali menyerang.
Untung saja Zeva membawa bekal makanan, jadi mereka bisa makan di perjalanan.
Hari sudah malam, sekarang giliran Maxi yang akan mengemudi dan Dani akan istirahat di belakang.
Bunda pindah ke depan karena Maxi belum makan sama sekali.
Dan dengan kepekaan nya, sang Bunda langsung menekan tombol agar pembatas menutup segera.
"Bunda tahu kok" celetuk nya dengan tertawa pelan.
"Ya ampun Bunda" gerutu Zeva.
Grep.
Dani memeluk Zeva dengan erat, dia bahkan mengendus leher jenjang istrinya dengan dalam.
"Rindu" lirih Dani dengan setengah berbisik.
__ADS_1
Zeva tersenyum, dia mengusap lembut punggung dan kepala Suami nya.
"Baru juga gak ketemu 3 bulan ini" balas Zeva dengan pelan.
"Ck kamu menyebalkan tahu sayang, bukannya pulang pas selesai wisuda ini malah mau liburan disana tanpa aku lagi" rengek Dani dengn wajah cemberut.
Cup.
"Kan perlu liburan sebelum berperang" kekeh Zeva dengan mengecup kening Dani.
Cup.
Cup.
Dani membalas kecupan Zeva dengan bertubi-tubi, keduanya lalu terkekeh dan Zeva merebahkan kepala nya di dada bidang sang Suami.
Hingga lambat laun akhirnya Zeva terlelap di pelukan Dani, dia begitu terlihat kelelahan dan Dani dengan sigap mengubah sandaran kursi nya agar Zeva nyaman.
Jam menunjukan angka 2 dini hari, Dani membawa Zeva ke dalam kamar nya.
Sedangkan Maxi dan Bunda nya masuk ke dalam kamar masing-masing.
π
Sedangkan di Desa, Sonia murka karena tahu disana Zeva bersembunyi dan hari ini mereka berhasil kehilangan kembali jejak nya.
"Argghhh Sialllll" geram Sonia masuk ke dalam mobil nya.
"Kita kembali ke Kota" ajak Sonia pada sopir nya
"Baik Nyonya" balasnya patuh.
Sonia lalu menelpon Fairus dan menanyakan kabar di Kota, namun disana tak ada yang janggal karena sejak tadi Fairus tidak melihat mobil Dani keluar perusahaan selain kembali ke Rumah nya.
Begitupun dengan Surya, keluarga itu melakukan aktifitas biasanya dan tak menunjukan gelagat aneh.
"Huh, siapa yang bersama dengan Zeva kalau begitu" gumam Sonia pusing.
Dia baru mendapatkan info kalau Zeva selama ini ada di Desa itu dari anak buah nya yang kebetulan asli orang sana.
"Lihat saja Zeva, aku akan merebut kembali hakku dengan terang-terangan jika kau tak mau memberikannya secara sukarela" gumam Sonia kembali dengan sorot mata tajam.
Sonia memutuskan untuk tidur karena perjalanan lumayan panjang dan juga jauh.
Dia akan istirahat sebelum besok merencanakan semuanya dengan matang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1