
Berita kembali nya Zeva pun sudah di dengar oleh Sonia dan Fairus. Mereka mengetahui dari teman kampus Mauren yang kebetulan tadi siang hadir dalam acara tersebut.
Malam ini, Sonia termenung duduk di balkon kamar nya. Fairus masih berada di perusahaan untuk memantau pekerjaannya yang sudah terbengkalai beberapa hari lalu.
"Bagaimana jika Zeva mengambil semuanya dari ku?" ucap Sonia dengan menatap langit malam.
"Aku takut jika Mauren akan hidup susah nanti nya" gumamnya kembali.
Sonia memikirkan hal selanjutnya, dia perlu memiliki beberapa rencana matang agar tidak kembali gagal lagi.
Hingga lamunannya tersadar saat mendengar derit pintu balkon di buka.
"Ada apa hmm?" tanya Fairus.
"Tidak apa-apa, aku hanya memikirkan bagaimana dengan kemunculan Zeva besok di perusahaan" jawab Sonia menghela nafas kasar.
Fairus duduk di samping Sonia, dia lalu meletakan berkas yang tadi dia bawa.
"Kamu tenang saja, aku sudah punya rencana untuk menyerang mereka. Zeva itu hanya anak kemarin sore yang belum tahu seluk buluk nya perusahaan" jelas Fairus tenang.
"Dan aku juga sudah meminta Mauren melakukan perannya" lanjut Fairus.
Sonia mengangguk, dia merasa lega karena Fairus selalu bisa di andalkan jika sedang begini.
"Kita harus terang-terangan kembali seperti dulu, saat kita menghadapi Igra dan komplotannya" ucap Sonia dengan mata tajam.
"Kau benar Sayang, kita jangan kalah karena disana ada hak kita juga" balas Fairus.
Sonia tersenyum smirk, dia punya rencana untuk besok pagi. Dia juga cukup yakin akan rencana hal itu akan berhasil.
πΏπΏ
Pagi hari nya, cuaca di Jakarta sangatlah cerah. Bahkan matahari sudah naik dengan indah nya ke atas langit.
Zeva sudah bangun sejak tadi, dia sudah membantu sang Bunda membuat sarapan pagi ini.
"Sayang" panggil Dani dari atas tangga.
"Bayi besarmu noh" ucap Bunda dengan terkekeh geli.
Zeva hanya tersenyum kecil, dia lalu pergi dari ruang makan dan menghampiri Dani.
"Kenapa, Mas?" tanya Zeva
"Ayo ke kamar dulu, pakaianku belum di siapkan" jelas Dani dengan membawa Zeva segera.
"Hei itu sudah aku siapkan di kamar ganti" protes Zeva dengan memicingkan tatapannya.
Dani hanya diam, dia mengunci pintu lalu memeluk Zeva dengan erat.
"Jangan keluar dulu, aku rindu" lirih Dani sambil menyembunyikan wajah nya di ceruk leher Zeva.
"Semalam kan udah meluk sampai gak bisa kemana-mana" kekeh Zeva mengusap lembut kepala Dani.
Dani hanya diam, dia terus saja memeluk Zeva dan membawanya ke arah ranjang.
Bruk.
"Massss" rengek Zeva karena kaget.
Cup
Cup
__ADS_1
Cup
"Nanti malam ya" ucap Dani dengan kerlingan mata nya.
Blush.
Zeva langsung memalingkan wajah nya yang sudah memerah karena malu.
"Mas mandi dulu, nanti kita telat ke kantor nya" ucap Zeva lirih.
"Baiklah, segera bersiap dan kita sarapan bersama Ayah dan Bunda" balas Dani lembut.
Zeva menganggukan kepala nya, dia lalu bangkit dari ranjang setelah Dani pergi dari atas tubuh nya.
π
Dani hanya mengantarkan Zeva ke D'Vanya karena dia ada meeting penting dengan klien dari Amerika.
Zeva pun tak mempermasalahkannya, dia melangkah dengan pasti ke arah lift khusus CEO.
Para karyawan disana hanya menyapa dengan sekilas dan setelahnya pergi kembali bekerja.
Ting.
Pintu lift terbuka dan Zeva langsung menuju ke ruangannya yang sebelum nya di isi oleh Surya.
"Selamat pagi, Nona" sapa Yoga dengan sopan.
"Pagi, ayo ke ruangan saya" balas Zeva dengan wajah datar nya.
"Perubahan yang sangat mencengangkan" batin Yoga.
Yoga membacakan jadwal Zeva hari ini, dia hanya ada pertemuan bersama dengan perusahaan x di Restoran dan setelah nya hanya menandatangani beberapa berkas saja.
"Semangat Ze, perjalanan mu baru akan di mulai hari ini" gumam nya dengan penuh yakin.
"Satu persatu aku sudah mengumpulkan jejak mu Bi Sonia, hanya tinggal mengurum pengacara itu saja dan kamu tak akan bisa berkutik sama sekali" gumam Zeva kembali.
Yap, selama ini Zeva tidak tinggal diam. Dia bersama Dani mengumpulkan bukti kejahatan Sonia dan Fairus. Namun mereka hanya tinggal menyingkirkan pengacara yang selalu bisa mereka andalkan karena alasan hutang budi.
Sedangkan Surya, dia kembali ke perusahaannya yang sudah dia rintis bersama dengan Kania sejak dulu.
Satu demi satu berkas sudah selesai Zeva kerjakan, dia begitu teliti akan semuanya karena takut akan pengkhianatan yang di lakukan oleh Ratih terulang kembali.
Hingga tak terasa sudah tiba waktunya Zeva untuk ke Restoran dimana dia akan bertemu dengan klien.
Tok Tok
"Nona, sudah waktunya anda bertemu dengan klien" ucap Yoga setelah masuk ke dalam ruangan Zeva.
"Ayo berangkat" balas Zeva yang sudah siap.
"Berkasnya sudah siap semua?" tanya Zeva setelah keduanya masuk ke dalam lift
"Sudah Nona" jawab Yoga.
Hening.
Tak ada percakapan apapun kembali, Zeva membalas chat dari Dani yang menanyakan keberadaannya.
Ting.
Lift terhenti di lantai dasar, keduanya lalu masuk ke dalam mobil yang sudah standbay sejak tadi.
__ADS_1
Yoga melajukan mobil nya ke arah Restoran yang sudah di pesan oleh klien nya.
"Ga, mana berkas nya?" tanya Zeva.
"Yang warna merah Nona, itu semua sudah ada disana" jawab Yoga.
Zeva mengambil berkas tersebut dan mempelajari nya dengan teliti.
"Ini pembangunan Hotel di Bali, tapi kenapa mereka memakai bahan materialnya nomor 2" ucap Zeva bingung.
"Itu adalah berkas yang asli, mereka mengajukan pada perusahaan kita dengan material nomor 1 dan saya sudah menyelidiki bahwa perusahaan itu adalah punya Tuan Fairus" jelas Yoga.
"Jadi mereka mau menipu kita?" tebak Zeva.
"Seperti nya begitu Nona, namun mereka salah taktik dan malah menggunakan Mauren untuk pertemuan kali ini" jelas Yoga kembali.
Heh
Zeva membuang nafas kasar nya, dia lalu kembali fokus pada berkas tersebut. Hingga akhir nya mereka sampai juga di Restoran yang sudah di pesan oleh sang klien, Mauren.
Yoga dan Zeva masuk ke dalam Restoran, mereka sudah bisa melihat Mauren yang sedang duduk bersama dengan Fairus.
"Halo Kakak" sapa Mauren dengan manja.
Brak.
"Maksudnya apa ini? Apa anda akan menjebak perusahaan saya?" tanya Zeva dengan melemparkan berkas tersebut dan tak menghiraukan ocehan Mauren.
"Apa maksud anda?" balik tanya Fairus dengan tergagap.
"Jangan mengelak lagi karena semuanya sudah jelas, mau kalian perbaiki atau kita sudahi kerja sama ini" tekan Zeva dengan wajah menahan emosi.
"Kau sombong sekali" teriak Mauren dengan kesal.
"Diamlah, kau disini tak di perlukan sama sekali" bentak Zeva dengan lantang.
Glek.
Mauren langsung ciut dan duduk di belakang Fairus. Sedangkan Fairus sendiri malah menatap Zeva nyalang.
"Ayo kita pergi" ajak Zeva dengan kesal.
"Baik Nona" balas Yoga patuh.
Saat Zeva sudah berada di luar Restoran, entah bagaimana ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arah dimana Zeva berdiri.
Ckitt.
Brak.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.