
Matahari menampakan dengan cahaya yang masih malu-malu, udara di Jakarta sedang mendung dan juga semalaman hujan mendera di sekitarannya.
Pagi ini Zeva sudah siap-siap untuk pergi ke Restoran, dia kebagian jadwal pagi selama 4 hari ini dan nanti setelah nya akan mendapatkan jadwal malam.
Tepat jam 7 pagi Zeva berangkat ke Restoran dengan menggunakan sepeda motor nya, dia melajukan motornya dengan hati riang dan mencoba damai dengan semua masalah nya.
"Semangat Zeva" gumam nya dengan memarkirkan motor di khusus pekerja.
Zeva masuk lewat pintu samping, dia lalu mengganti pakaiannya dengan seragam pelayan.
"Kamu Zeva ya, anak baru?" tanya salah seorang wanita yang juga sedang ganti pakaian.
"Iya Mbak, aku di bagian cuci piring" jawab Zeva dengan ramah.
"Wah berarti sama aku dong patner nya, salam kenal ya aku Febi" ucap nya dengan sopan dan senyuman yang ramah.
Zeva mengangguk dengan tersenyum.
"Kenapa gak ambil jadi pelayan saja? Padahal kan ada lowongannya?" tanya Febi.
"Kakak ngelawak nya kebangetan, bagaimana mau jadi pelayan lah aku culun dan dekil gini. Bisa-bisa pelanggan kabur lagi" jawab Zeva dengan tertawa kecil.
Pluk.
"Kalau kamu memang cekatan tak masalah Ze, yang penting kerja itu tekun dan cekatan" timpal salah seorang teman kerja nya.
"Bener tuh" ucap Febi ikut membenarkan.
"Hehe tak masalah Kak, yang penting dapet uang buat makan sama bayar kos. Kalau bayar kuliah gratis" balas Zeva cengengesan.
"Ayo ah kerja, kita bereskan dulu di dalam baru setelah chef dan Restoran di buka langsung ke tempat masing-masing" ajak temannya dengan segera.
Zeva dan Febi pun mengangguk, keduanya langsung menyapu dan mengepel. Bahkan yang lain pun ikut serta membereskan Restorannya.
Hingga tepat jam 9 Restoran sudah di buka, Zeva dan Febi ke dapur untuk ke tempat kerja nya. Begitupun dengan yang lainnya, mereka ke tempat masing-masing.
Tak berselang lama, pelanggan pun datang satu persatu dengan sendirinya.
Kesibukan Zeva cukup mengalihkan semua perasaan dan hati nya yang sedang kalut, dia juga sangat cekatan dalam bekerjasama dengan Febi.
Keduanya sibuk dengan cucian yang datang dan pergi, namun mereka tak pernah mengeluh sama sekali.
"Kak udah lama kerja disini?" tanya Zeva di sela pekerjaannya.
"Belum, baru 5 bulanan lah" jawab Febi.
"Ada yang suka julid gak sih Kak karyawan disini?" tanya Zeva berbisik.
Febi terkekeh geli.
"Gak ada, disini semuanya baik dan gak ada yang julid apapun itu. Kami disini selalu di buat nyaman dan sudah seperti keluarga" jelas Febi.
"Ahh syukurlah, aku ngerasa agak ngeri aja sih Kak apalagi aku kayak gini" lirih Zeva.
"Gak ada yang bakalan julidin kamu kok, apalagi kerja kamu cekatan begini" timpal Chef yang sedang istirahat sejenak.
__ADS_1
Eh.
Kaget Zeva dan Febi, lalu keduanya melirik ke arah Chef yang sedang duduk santai.
"Kerja Chef" kekeh Febi.
"Gantian sama dia, cape saya" balas Chef dengan helaan nafas kasar.
Mereka bekerja sambil berbincang, sampai waktu jam istirahat pun tiba.
Zeva makan lebih dulu dan nanti akan gantian dengan Febi, mereka tidak bisa barengan karena jam istirahat adalah jam rawan.
🍌
Tepat jam 7 malam Zeva selesai dengan jam kerja nya, dia mengganti pakaiannya kembali sebelum beranjak pulang.
"Kak Feb, aku duluan ya" pamit Zeva dengan bergegas keluar dari ruang ganti.
"Hati-hati" balas Febi.
Zeva hanya melambaikan tangan, lalu dia naik motor dan melajukannya dengan segera.
"Huh lumayan lelah" ucap Zeva dengan lirih.
Saat sampai di dekat gerbang kos nya, Zeva menghentikan laju motor nya karena melihat seseorang sedang memantau tempat tinggal nya.
"Siapa dia? Tidak mungkin kalau anak buah Bibi Sonia" gumam Zeva.
Zeva mendekati nya dan bersembunyi di belakang mobil milik seseorang itu.
[........ ]
"Dia bukan Zeva yang kita cari, dia wanita berbeda dan kemungkinan wanita yang bersama Surya adalah Zeva asli" jelas nya lagi.
[..... ]
"Baik Nyonya" balas Pria itu.
Pria tersebut menyimpan ponsel nya di saku celana, dia berdiam diri agak lama disana.
"Huh buang waktu gue aja, udah tahu Zeva itu di tangan Surya dan pastinya akan di bawa kemana dia pergi" gumam nya dengan masuk ke dalam mobil.
Namun belum sempat melaju, pria itu melihat ban nya yang kempes dua-dua nya yang belakang.
"Ck sial banget sih, sudah salah target dan sekarang ban kempes lagi" geram nya dengan meninju udara.
Sedangkan Zeva sudah pergi dan masuk ke dalam kamar kos nya. Dia mengepalkan tangan menahan emosi yang meledak.
"Aku yakin bahwa ada pengkhianat diantara anak buah Om Surya, aku harus menelponnya sekarang" ucap Zeva mengambil ponsel.
Zeva masuk ke dalam kamar dan menyalakan kran air agar tidak ada yang menguping pembicaraannya.
Sebelum menelpon, Zeva memilih ngirim pesan agar tak ada yang curiga.
Drrtt.
__ADS_1
Drrrt.
"Halo om" sapa Zeva lirih.
[Ada apa, Nak?] tanya Surya langsung.
"Apa disana tidak ada siapapun, ini sangat penting" ucap Zeva.
[Om hanya sedang bersama Ibu saja] balas Surya.
"Barusan ada seorang pria yang misterius dan ternyata dia adalah utusan Sonia. Aku yakin bahwa anak buah Om ada yang berkhianat, hati-hati lah" jelas Zeva.
[Seperti nya memang begitu, kamu disana juga hati-hati dan jangan gampang percaya dengan yang belum tentu] balas Surya.
Tut.
Panggilan terputus dan Zeva pun keluar dari dalam kamar mandi.
"Ahh aku langsung tidur saja, lelah banget" ucap Zeva dengan membuka kepangannya tapi tidak dengan penampilannya yang masih dekil.
Malam itu Zeva lewatkan dengan tidur karena lelah seharian bekerja, bahkan dia juga tak ingat yang belum membersihkan diri.
🍌
Sedangkan di luaran sana, pria tadi belum pergi dan masih memantau keadaan.
Dia sebenarnya sudah lelah dan ingin pergi, namun Bos nya sama sekali tidak menyuruh nya pergi dari sana.
"Huh sial banget, udah harus ganti ban eh malah harus bertahan lagi disini" gerutu nya dengan kesal.
Hampir pagi dia disana dan tepat jam 4 pagi dia pergi dari sana.
Dia dongkolnya dia melajukan mobil ke arah penginapan yang ada disana, dia bahkan sudah menatap sayu karena lelah dan ngantuk.
"Huh ngantuk banget ini" gumam nya dengan menguap berkali-kali.
Pria itu berhenti di Hotel yang tak jauh dari kos Zeva, dia akan tidur seharian karena lelah dan ngantuk.
"Aku tidak akan kesana lagi karena percuma, dia bukan Zeva karena tidak ada yang mencurigakan ataupun gerak gerik yang membuat curiga" gumam nya sebelum tidur.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1