
Fairus menyuruh Mauren untuk duduk dengan benar, dia akan menanyakan sesuatu.
"Ada apa, Dadd?" tanya Mauren.
"Apa kamu mengetahui Zevanya? Dia kuliah sama denganmu dan penampilannya culun?" tanya Fairus.
Mauren terdiam, dia lalu mengangguk saat mengingat seseorang itu.
"Ya aku tahu Dadd, namun sudah beberapa hari ini dia tidak ke kampus" jawab Mauren.
"Kenapa Nak?" tanya Sonia.
"Katanya sih kecelakaan dan harus di rawat di Rumah sakit, aku tak tahu di Rumah sakit mana karena yang aku dengar dia di bawa oleh yang menabraknya" jawab Mauren.
Fairus dan Sonia saling pandang, lalu keduanya membiarkan Mauren kembali ke kamar nya.
"Aku yakin pasti mereka menyembunyikan kembali Zevanya" ucap Sonia.
"Sabar, ini masih ada waktu 2 tahun lagi untuk kita mencari nya" balas Fairus dengan lembut.
Sonia hanya mengangguk, dia lalu beranjak untuk masuk ke dalam kamarnya dan di ikuti oleh Fairus.
Setelah keduanya di kamar, Sonia duduk di ranjang dengan menyandarkan tubuh nya.
"Lalu kemana Ratih dan Fatur?" tanya Sonia.
"Dia ketahuan dan di bawa oleh anak buah Kumbara" jawab Fairus mengepalkan tangannya.
"Bagaimana bisa? Apa mereka melakukan hal ceroboh hingga bisa tertangkap?" tanya Sonia kembali dengan kaget.
Fairus menceritakan semuanya, dia juga sangat jengkel akan sikap kedua anak nya yang ceroboh dan tak mau menuruti perkataan mereka.
"Kenapa mereka ceroboh sekali, kita sudah bilang untuk langsung pulang kesini" ucap Sonia dengan kesal
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Sonia kembali.
"Aku akan memeriksa keaslian berkas yang Fatur berikan saat itu dan semoga saja itu asli" jawab Fairus.
Sonia langsung mengangguk, dia memilih untuk istirahat terlebih dulu karena merasa sangat lelah badannya.
πΏπΏ
Sedangkan di sebuah Rumah, terlihat Ratih dan Fatur masih terlelap dalam pingsannya.
Mereka tidak tahu saja ada bahaya yang sedang mengincar mereka berdua.
"Ck, pengkhianat begini memang pantas di hukum mati" ucap salah satu penjaga.
"Kau benar, dia sudah di beri enak malah berbuat rendahan begini" balas yang lainnya.
Hingga datanglah satu orang yang mereka ketahui adalah kaki tangan Bos nya.
"Siram mereka dengan air dingin" ucap pria tersebut.
"Siap Bos" balas keduanya dengan semangat.
Byur
Byur
"Ahhhhh dingin" teriak Ratih dengan kaget.
__ADS_1
Sedangkan Fatur langsung berusaha bangun namun tidak bisa, dia hanya gelagapan saja dan membuka mata nya.
"Hei lepaskan aku" teriak Ratih dengan masih tangan dan kaki terikat.
"Lepaskan mereka dan berikan hukuman cambuk untuk keduanya" ucap pria dengan memakai topeng.
Deg.
Ratih langsung diam saat mendengar ucapan pria itu, dia bahkan beringsut mendekati Fatur.
"Kak, aku takut" lirih Ratih dengan bergetar.
"Aku juga sama" balas Fatur.
Hingga kedua anak buah tersebut membuka ikatan mereka dengan kasar, jerit kesakitan dari Ratih terdengar begitu memilukan.
"Hei diamlah, belum juga aku cambuk" ucap anak buah Dani.
"Jangan, jangan cambuk saya" jerit Ratih histeris.
Namun sayang, jerit dirinya tak di hiraukan oleh keduanya. Mereka langsung saja memberikan cambukan pada Ratih dan Fatur dengan membabi buta.
Ratih dan Fatur terus saja menjerit kesakitan dan meminta ampunan. Namun kedua orang itu tidak mendengarkannya sama sekali.
"Hentikan" ucap Bos mereka.
Hiks Hiks.
"Siram dengan air garam" perintah nya lagi.
Byur.
"Arrggghhhhhh"
Teriak Fatur dan Ratih saling bersahutan, bahkan Ratih menangis dengan histeris karena sakit yang dia rasakan di sekujur tubuh nya.
"Ini hukuman karena sudah membuat wanita yang kami jaga menangis, bahkan kalian membuat dia kehilangan Nenek nya" ucap pria itu dengan datar.
Lalu dia pergi dari sana dengan di ikuti anak buah nya, mereka meninggalkan Fatur dan Ratih dengan santai.
Namun sebelum mereka pergi, mereka memberikan obat pada keduanya untuk di pakai.
"Hiks Hiks, ini sangat sakit Kak" lirih Ratih dengan terus terisak.
"Buka baju mu dan biar Kakak yang mengobati nya" ucap Fatur dengan bergetar menahan sakit.
Ratih mengangguk, dia membuka baju dan membiarkan Fatur mengobati luka nya.
Ssttthhh.
Ringisan Ratih terdengar dengan bergetar, antara menahan perih dan tangis agar tak pecah.
"Ini salah kita yang tak mendengarkan ucapan Daddy, aku yakin dia juga marah dan akan membiarkan kita disini" lirih Ratih.
"Harusnya sejak awal kita tidak mengikuti kemauan mereka agar hidup kita damai, aku tahu Mommy Sonia itu jahat dan belum menerima kita" balas Fatur.
Ratih lalu menganggukan kepalanya dan menyuruh Fatur membuka baju, dia akan mengobati luka sang Kaka.
"Ya Kakak benar, aku tahu dia hanya menyayangi Mauren saja. Daddy pun begitu" balas Ratih dengan meneteskan air mata.
"Harusnya kita sama Bunda saja ya" ucap Ratih kembali.
__ADS_1
"Sudahlah jangan menangis, kita terima hukuman ini dan semoga saja dia memberikan kita kebebasan dan kita pergi dari sini untuk memulainya dari awal" balas Fatur dengan lembut.
Ratih mengangguk kembali, dia lalu merebahkan tubuh sakitnya di atas lantai.
"Tidurlah agar sakitnya tidak berasa" ucap Fatur.
"Kaka juga tidur" balas Ratih.
Fatur mengangguk dan ikut merebahkan tubuh nya di samping Ratih.
Keduanya terlelap dengan ringisan yang masih terucap dari bibir keduanya.
π
Dani melihat semua nya dari kamera pengintai yang ada di ruangan itu.
Dia sudah ada rencana agar keduanya taubat dan kembali pads Bunda mereka dengan baik.
"Bawa keduanya ke Desa dan suruh bekerja dengan baik, laporkan setiap saat perkembangannya" ucap Dani pada Maxi
"Siap Bos" balas Maxi patuh.
Maxi lalu menyuruh anak buah nya untuk melakukan tugasnya, dia juga menyuruh untuk memberikan suntikan agar Ratih dan Fatur tetap tidur saat di perjalanan.
Dan malam itu juga Fatur dan Ratih di bawa ke pedalaman Desa yang entah ada dimana.
Mereka akan di hukum disana dengan tak ada apapun dan untuk makan saja harus mencari nya.
Hingga tepat jam 2 dini hari mereka tiba di Desa itu.
"Bangun" bentak anak buah Dani.
Ratih menggeliat dan membuka mata nya dengan perlahan.
Lalu Ratih menggoyangkan tubuh Kakak nya agar bangun, dia takut pada anak buah yang tadi mencambuknya.
Setelah melihat Fatur bangun, anak buah Dani menyuruh keduanya masuk ke dalam gubuk.
"Kalian akan di hukum di Desa ini, disini kalian akan bekerja untuk menghidupi kalian berdua. Bos kami masih memberi hukuman kecil dan tak sampai membunuh kalian berdua" jelasnya dengan lantang.
"Terimakasih, kami akan menerima hukuman ini" balas Fatur dengan lega, begitupun dengan Ratih.
Lalu para anak buah Dani pun pergi dari sana, mereka meninggalkan Fatur dan Ratih di gelap malam yang sunyi.
"Ayo masuk dan kita istirahat, besok kita harus memikirkan bagaimana kita akan hidup kedepannya" ajak Fatur.
Ratih mengangguk setuju, lalu mereka masuk ke dalam kamar yang ada di gubuk itu.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.