
Dani menatap lekat netra Ayah nya, dia lalu memberikan map yang sejak tadi dia bawa.
"Jadi benar dia adalah orang nya" gumam Ayah Dani.
"Benar Ayah, aku juga tak menyangka dan mengira bahwa dia sendiri datang kepadaku" balas Dani yang kebetulan mendengar gumaman sang Ayah.
"Lalu bagaimana rencana mu, Nak?" tanya Bunda Dani.
"Dani akan selalu menempel padanya Bun, karena malam kemarin ada pria misterius yang memantau tempat kos nya. Dan aku rasa bahwa ada pengkhianat di kubu Om Surya" jelas Dani.
Bunda Dani langsung saja menatap tajam anak nya.
"Kenapa kalian lama sekali bergerak nya, aku takut dia kenapa-napa!" gerutu Bunda dengan wajah kesal nya.
Dani dan Ayah saling tatap, mereka berdua memang belum bergerak karena takut salah sasaran dan sekarang mereka sudah membuktikannya.
"Bunda tenang saja, sekarang kita tahu bahwa itu adalah Putri dari Alm. Igra dan kita pasti akan segera bertindak" balas Dani tegas.
"Bagus , jangan hanya omong doang. Dan kamu Mas, cepat temui Surya dan Kania segera agar kita bisa leluasa membahas Zevanya dan Sonia yang semakin gencar menerornya" tegas Bunda dengan wajah serius.
"Baik sayang, ayo sekarang kita tidur dulu dan besok pergi ke Amerika untuk menemui Surya" ajak Ayah dengan lembut.
Dani menggelengkan kepala melihat kelakuan keduanya, lalu dia pun masuk ke dalam kamar nya sendiri.
π
Dani merebahkan tubuh nya di ranjang empuk nya, dia lalu memejamkan mata sebentar, lalu bangkit dan mengambil ponselnya.
[Aku besok tidak ke kampus karena sedang izin, aku sedang di Kota menengok orangtua]
Ting.
Pesan terkirim dan Dani pun hanya mendengus karena nomor Zeva tak aktif.
"Uh pasti sudah tidur" gumam nya.
"Kau tahu Ze, aku sudah kemana-mana mencarimu dan mendapatkan kabar bahwa kamu sudah pindah ke Jakarta lagi. Mulai saat itu aku mencari mu dan pada akhirnya kamu sendiri yang menghampiri ku" gumam Dani.
"Aku dan orangtuaku sudah berjanji pada Ayah mu, kau akan aku jaga karena berkat kebaikan hati Ayah dan Bunda mu kami bisa sesukses ini. Aku mengira aku tak akan mencintaimu secepat ini dan ternyata aku sudah mencintaimu" gumam nya lagi.
"Aku akan menemani mu memberi pelajaran pada Bibi mu itu, aku yakin lambat laun dia akan sadar dan akan menyerang keluargamu satu persatu" gumam nya lagi.
Dani sudah mendapatkan firasat bahwa Sonia akan membuat ulah lagi agar Zeva keluar dan dia bisa leluasa menghabisi nya.
Semua kunci ada di Zeva, harta dan kekayaan Tuan Igra dan Ayah nya sudah atas nama Zevanya. Dan karena itulah Sonia berbuat nekad, dia sudah merancang untuk membuat Zeva luluh dan memberikan semua nya pada dirinya.
__ADS_1
"Aku yakin bahwa Zeva bukan wanita lemah dan akan takut akan ancaman" ucap Dani yakin.
Lalu Dani memilih memejamkan mata nya, besok siang baru dia akan kembali ke tempat kos nya dan paginya akan memantau perusahaannya yang sudah lama dia tinggalkan.
πΏπΏ
Ke esokan pagi nya Dani sudah bersiap, dia memakai setelan jas yang pas di tubuh kekar nya.
"Selamat pagi Tuan" sapa Asistennya ketika dia sampai di ujung tangga.
"Hmm" balas nya dengan wajah datar.
Dani dan Asistennya langsung pergi, mereka akan menyelesaikan pekerjaannya sampai siang hari karena Dani tidak bisa lama-lama.
Ting.
Ponsel Dani bersuara saat mobil keluar dari pelataran mansion megah nya.
[Yasudah cepat selesaikan, aku tak ada teman di kampus Kak]
Balasan dari Zeva yang mana membuat Dani tersenyum kecil.
Dani terus saja bertukar pesan dengan Zeva, dia cukup terhibur karena rengekan Zeva yang seolah menganggap dirinya tempat aman.
"Tuan" panggil sang Asisten.
"Pria yang mengintai Nona muda sudah aku singkirkan, dan dia sudah di tempat biasa" jelasnya.
Dani mengangguk kecil, dia lalu menyimpan ponselnya karena Zeva akan pergi ke kampus.
"Tolong awasi Zeva yang ada di kampus, aku yakin Romi pasti akan mengganggu nya" ucap Dani datar.
"Siap Tuan" balas sang Asisten.
Hingga laju mobi nya berhenti tepat di loby perusahaan milik Dani.
Keduanya melangkah dengan penuh wibawa, bahkan para karyawan hanya menyapa dan langsung kembali bekerja.
Dani langsung duduk di kursi kebesarannya, dia memeriksa dan memberikan tandatangan pada beberapa berkas tersebut.
πΏπΏ
Sedangkan di belahan Dunia lainnya, terlihat seseorang yang sedang mengamuk karena salah seorang anak buah nya tidak kunjung memberi info.
Hingga terdengarlah derap langkah yang mendekati nya, dia bisa melihat bahwa Putri nya yang mendekati dirinya.
__ADS_1
"Mom, aku akan kembali ke Indonesia besok" ucap Putri nya, Mauren.
"Ya besok kita akan kesana, kau harus kembali kuliah" balas Mommy nya, Sonia.
"Hmmm, Mauren juga sudah rindu dengan Romi" kekeh nya dengan berlalu dari sana.
Sonia terdiam, dia memandang langit sore yang lumayan cerah.
"Aku akan membuat si Tua bangka itu menderita, hingga kau akan menampakan dirimu sendiri di hadapanku! Aku tau yang melindungimu banyak, namun aku bersyukur karena keluarga Kumbara belum menemukan keberadaan mu wahai keponakan ku" ucap Sonia dengan seringai licik.
"Aku sudah tak sabar untuk menunggumu di umur 27 tahun, dan aku juga sudah yakin bahwa Surya sudah memberikan semua hak dan wewenang padamu, karena umurmu sudah mau 25 tahun" ucapnya lagi dengan melangkah duduk di kursi goyang.
"25 tahun lalu aku membunuh Kakak angkatku dan berharap harta itu ke tanganku, namun sayang aku terlalu meremehkannya. Dia sudah menebak taktiku dan sebelum ajal nya tiba, dia sudah mengubah semuanya atas nama Putri nya. Kalau aku tahu itu yang terjadi maka aku akan memeliharanya" gumam Sonia mengepalkan tangannya.
Sonia bangkit dari duduk nya, dia memanggil kepala pelayan agar menyiapkan barang-barang yang akan di bawa serta ke Indonesia.
"Aku datang Zevanya" gumam nya dengan penuh seringai.
Sonia mendapatkan kabar bahwa Zeva masih ada di Indonesia dan yang bersama dengan Surya bukanlah Zeva.
Dia cukup geram akan kelakuan Surya, dia akan datang dan mencari Zeva di Indonesia.
"Aku tak akan susah karena wajahmu sangat mirip dengan Kakak ku, Igra" gumam nya lagi dengan terkekeh keji.
Sonia melangkah masuk ke dalam kamar nya, dia akan istirahat untuk melakukan perjalanannya besok ke Indonesia.
"Lebih dulu aku akan menyapa si Tua bangka, dan kalau ada kesempatan aku akan melenyapkannya" ucap Sonia penuh tekad.
Sonia merebahkan tubuh nya di atas ranjang, dia terlelap dengan buaian semua mimpi yang belum kenyataan.
Sonia memimpikan akan kehidupannya yang akan segera menjadi kaya raya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.