
" apa kabarmu Liza ? " tanya nyonya Shinta lembut sembari tersenyum..
" aku baik-baik saja Shinta, hanya saja nasibku yang tragis.. hahahahha " tawa ibunya Wina terdengar miris oleh nyonya Shinta..
nyonya Shinta memeluk ibunya Wina dengan sangat erat.. ia begitu sedih dengan kondisi ibu Wina yang sangat memprihatinkan... air matanya pun lolos seketika..
" sudahlah aku tidak apa-apa, tidak perlu seperti ini "
" Liza, maafkan aku ya tidak pernah mengunjungimu selama ini " lirih nyonya Shinta.
ibu Wina memegang erat tangan sahabat kecilnya itu ia pun tersenyum hangat.
" sudahlah kau kan sibuk aku mengerti keadaanmu "
nyonya Shinta memandang wajah ibu Wina dengan pilu, ibu Wina terlihat pucat juga tubuh yang semakin kurus.
" kau sakit ? "
" hanya tidak enak badan saja " ibu Wina berbohong.
" kau sudah minum obat ? "
" sudah tadi "
" maaf ya aku merepotkan mu "
" tidak, aku tidak repot justru aku sangat senang kau datang berkunjung "
nyonya Shinta tersenyum ia tahu bahwa sahabatnya itu banyak menyimpan kesedihan yang mendalam.
" Liza itu anakmu ? " tanya nyonya Shinta seraya menunjuk sebuah foto yang menempel di dinding.
" iya dia anakku satu-satunya, namanya Wina umurnya baru menginjak dua puluh dua tahun"
nyonya Shinta berjalan menuju foto Wina yang menempel di dinding itu, ia memperhatikan dengan seksama gambar Wina yang sangat mirip dengan mantan calon istri anaknya. nm
" cantik kan Shinta " ucap Liza seraya tersenyum.
" i... iya cantik Liza "
" apa dia ada di rumah? " sambung Shinta.
__ADS_1
" tidak, dia sedang keluar dengan temannya mencari lowongan pekerjaan "
" lowongan? " Liza tampak berpikir sesuatu.
" apa dia saja yang ku jadikan istri Dika, sepertinya dia anak yang baik. dia pasti bisa memulihkan Dika " batin Shinta.
" Hem begini Liza, apa kau mau membantu ku ?" tanya Shinta.
" apa itu ? kalau aku bisa bantu aku akan membantumu "
" aku ingin anakmu menikah dengan anakku, apa kau mau ? "
Liza tercengang kala mendengar pernyataan sahabatnya itu. ia bahkan tidak bisa berkata-kata.
" Shinta, kau mau menjadikan anakku sebagai menantuku ? "
" iya Liza apa kau setuju ? "
" begini Liza, putraku sedang mengalami depresi berat ia tinggal oleh kekasihnya yang sangat mirip dengan anakmu "
" maksudmu anakku menjadi penggantinya begitu ? " wajah Liza berubah datar.
" kenapa kau hanya memikirkan anakmu ? bagaimana dengan anakku ? apa ini tidak bahaya untuknya, bisa-bisa ia juga kena dampaknya " raut wajah Liza mulai kesal.
" aku yakin sekali Dika anakku perlahan akan berubah setelah Wina menikah dengannya, kau tenang saja aku akan selalu mengontrolnya "
" tapi Shinta... "
" tolong aku Liza, aku sudah hampir putus asa. bantu aku kali ini saja aku akan membantu pertobatan mu " lirih Shinta seraya berlutut di kaki Liza yang sudah terlihat marah.
" perobatan? aku hanya tidak enak badan Shinta. bukannya sakit keras " bohong Liza.
" aku tahu Liza kau sedang melawan kanker leukemia, aku melihat bungkusan obatmu di atas lemari itu ketika aku melihat foto Wina tadi "
Liza pun menunduk.
" Liza, apa kau tidak kasihan dengan anakmu. siapa lagi tempatnya berlindung jika kau sampai tidak ada " ucapan Shinta meyakinkan Liza yang menunduk sambil terisak.
hening seketika.
" Baiklah Shinta aku menerima tawaranmu, tapi aku tidak mau Wina tahu hal ini. maksudnya nikahi dia bukan karena kita menjodohkannya tapi karena sebuah insiden, kau aturlah bagaimana caranya. karena kalau kita bicara jujur dia pasti akan menolaknya " ungkap Liza.
__ADS_1
Shinta memeluk Liza dengan hangat, akhirnya sahabatnya luluh dan mau membantunya.
" baiklah biar aku yang akan mengaturnya, aku akan menyuruh Lastri untuk mencari pembantu untukku, dan kau menyuruh anakmu untuk mendaftarkan diri padanya "
" baiklah aku setuju " ucap Liza tersenyum.
" buat aku hingga sembuh ya supaya anakku masih punya keluarga "
" insyaallah Liza, kita serahkan semuanya pada tuhan "
mereka pun kembali berpelukan.
* flashback off*
" Hem mbak Lastri bisa tolong beri ponselnya pada ibuku ? aku ingin bicara "
" aduh maaf Wina, mbak Lastri lagi diluar kota ini mengurus beberapa orang yang ingin bekerja. nanti ya kalau mbak Lastri sudah kembali, mbak Lastri akan telepon kau "
" oh begitu, baiklah mbak terimakasih ya " Wina pun menutup panggilan teleponnya, ia duduk bersandar di dinding kamar yang sekarang sudah menjadi gudang itu.
tok... tok..
seseorang mengetuk pintu, Wina tidak mau membukanya ia memilih membiarkannya hingga ketukan pintu itu tidak terdengar lagi.
tak lama suara kunci pintu terdengar, dan pintu pun terbuka. Wina terperanjat kala Dika sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah datarnya.
" ada apa ? " sergah Wina.
" ayo ikut aku "
" aku tidak mau "
Dika tidak mau mengulur waktu ia masuk kemudian menarik tangan Wina dengan agak kasar dan berjalan keluar rumah.
" kita mau kemana?!"
" pulang"
" tapi "
" kalau kau bicara lagi aku akan menciummu!" ucap Dika dingin.
__ADS_1