
Setelah pengujian dengan batu, besok adalah waktu pengujian ilmu silat. Jadi semuanya kembali ke penginapan masing2 dahulu , beristirahat, makan dan bersantai, Udara juga terasa dingin menjelang malam, Perlahan-lahan gerimis mulai turun , membawakan dingin yang lebih menusuk tulang dari yang ada. Setelah itu hujan berangsur2 menjadi deras, dan dalam kegelapan yang semakin gelap, terasa angin bersiut-siut memekakkan telinga.
“Kalian harap serius ya besok, kalau Wang Ci saya maklum kalau kamu kalah di babak I (satu)” kata ketua Liang kepada murid2nya, sambil menatap tajam ke Wang Ci yang merunduk tak berdaya seolah mau hilang dari hadapan gurunya. Ingin ia menjadi kecil.. kecil.. kecil sekali… “Sekarang semua pergi tidur dan segarkan badan agar kuat bertanding besok. “ ujar ketua Liang.
__ADS_1
Wang Ci yang merasa rendah diri merenungi bakatnya yang rendah di kamarnya, lalu ia merasa sangat putus asa , untuk apa saya hidup ? Takdir begitu kejam kepadanya. Selain itu ternyata ia memendam cinta juga kepada Xiau Lin , anak gurunya. Kebersamaan selama ini, Xiau Lin orangnya baik, tidak memandang status dirinya yang anak ketua, selalu baik hati menolongnya. Tetap mau berbicara dan bercanda dengannya, Plak!!.. Wang Ci memukuli kepalanya, “Dasar Tak tau diri !” pikirnya, Hatinya galau sekali, tak bisa tidur, ia pergi ke luar, mau menyiksa tubuh dan batinnya agar semua deritanya dapat disalurkan, berjalan keluar penginapan, membiarkan tubuhnya basah oleh dinginnya hujan yang disertai petir yang menggelegar. “LANGIT, mengapa engkau begitu kejam padaku !!, Petir sambarlah aku kalau kamu mau!!” teriak putus asa Wang Ci. Air mata mengalir dengan deras dari sudut matanya, lalu ia berlari dalam ketidak berdayaannya, lari terus tanpa tau kemana. Lari dan lari membawa kesengsaraan hatinya.
Ternyata , tiba-tiba ia telah sampai ke Hutan, Hutan yg dikenal dengan nama “Hutan Larangan”, hutan larangan ada disebelah kiri lembah pengujian, dikatakan itu adalah hutan yang penuh dengan binatang yang kelam, setan2 gentayangan serta roh –roh penasaran. Pohon-pohonnya tinggi menjulang, di dasarnya ilalang tumbuh setinggi 2 meter, penuh juga dengan tumbuhan berduri yang tajam. Tapi Wang CI seperti udah tak sadarkan diri, diterobosnya semua itu , lalu tiba-tiba dia sudah ada di sebuah Gua yang sangat gelap dan luas. Besarnya lebih kurang 1 atau 2 li. Di sana ia berteriak2 menyesali nasibnya.
__ADS_1
Kera itu ternyata adalah peliharaan dari Penghuni lembah es dan api, namun kera ini ternyata hewan berbakat, ia mempelajari jurus2 dari elemen es dan api ketua2 lembah es dari penglihatannya ketika para Tetua berlatih ilmu,tapi kera tidak tau bahwa jurus elemen tidak boleh dilatih dua-duanya, sebab akibat kekuatan elemen yang berlawanan akan menyebabkan kegilaan, akibatnya kera itu menjadi seperti gila. Bertahun-tahun ia hidup dalam kegilaan di Hutan Larangan. Sampai ketika Wang Ci menghisap kekuatan kedua elemen yang dipelajarinya itu. Akhirnya kera itu terbebas dari kegilaannya, lalu ngik ngik segera kabur ke luar ke hutan yang lebat sambil mukanya memperlihatkan terima kasih yang sangat besar kepada Wang Ci.
Takdir kadang memang aneh, tetapi itulah hidup. Tanpa sadar Wang ci yang pelupa mendapatkan ingatan tentang pertarungan Papa Mamanya perlahan-lahan mulai terbayang di matanya. Ingatan tentang pernyelamatan hidupnya oleh orang tuanya. Ia harus tegar, ia anak seorang Ksatria yang perkasa. Ia tak boleh putus asa.
__ADS_1
Sementara di luar gua, angin semakin menderu-deru membawa kebisingan dan hujan terus turun semakin lebat, dan perlahan Wang Ci beringsut dari gua, dengan tegar berjalan melewati hutan larangan. Hidup harus dihadapi. Tanpa disadari, tulisan2 di punggungnya seakan hidup, bersinar redup aneh. Ilmu dan segel apa yang telah ditanamkan oleh Sang Pendekar Misterius ?