Pendekar Maha Sakti

Pendekar Maha Sakti
Pertarungan Persahabatan


__ADS_3

Tentu saja tidak semua pibu ditulis di sini, nanti pembaca pada bosan lalu pada tidur , jadi penulis akan menuliskan 3 pibu saja, yaitu pibu Xiau Lin, Wang Ci dan tentu saja Chen Mei Kui.


Akhirnya, pagi sudah menjelang, kicauan burung yang nyaring dan merdu menyambut datangnya mentari pagi, Alam terlihat begitu tenang, damai dan mempesona, hilang sudah hujan lebat dan petir di malam hari, kehidupan itu memang silih berganti, terkadang terang terkadang gelap,terkadang senang terkadang susah, semua akan ada waktunya, dan tentu saja semua berharap semua akan indah pada waktunya. 


Pagi itu para murid-murid menyiapkan 4 tempat untuk pertarungan ilmu, ukurannya lebih kurang 10x10 meter, berbentuk bulat, aturan pibu sederhana saja, lawan dipilih berdasarkan undian, lawan yang menyerah atau terpukul keluar dari arena berarti kalah, dilarang keras membunuh lawan, jadi tidak boleh memakai senjata tajam dari logam atau dari unsur selain es dan api. Setiap tempat dijaga oleh 1 tetua, tetua boleh menetapkan yang kalah dan menang agar tidak ada kematian di dalam tempat pibu. Tempat pibu berjauhan sehingga tidak saling mengganggu. Dan tentu saja di tempat tetua yang jaga , pasti yang pibu bukan dari murid tetua agar tidak terjadi pilih kasih.

__ADS_1


Karena jumlah murid ada 50 orang, maka akan ada 25 pibu di hari pertama. Undian dilakukan, setiap murid mengambil nomor. Ada yang mukanya berseri-seri, ada yang mukanya masem, tapi yang jelas muka Mei Kui tetap cantik, anggun dan dingin tanpa perasaan, liat nomor saja tidak. Tinggal ambil dan pergi dengan anggun. Sungguh indah dan menakutkan. Tatapannya memandang rendah semua lawan-lawannya. Wang Ci an Xiau Lin juga mengambil nomor, Xiau Lin dapat lawan dari keluarga Chen, berarti lawannya wanita juga. Wang Ci juga dapat lawan dari keluarga Chen. Hmm. Lawannya wanita nih. “???”. Beruntung untuk kedua murid keluarga Liang yang lain, mereka dapat no masing2. Artinya mereka akan bertarung sesama teman dan salah satunya pasti akan lolos ke babak ke dua.


Pibu Xiau lin di no. ke 4 di tempat pibu no.4 juga. Dijagain oleh Tetua Lim. Dari pihak Chen keluarlah seorang cewek cantik yang terlihat kekar dan tinggi semampai, berbaju biru langit , dengan gesit dan mantap langsung melompat naik ke atas tempat pibu. Xiau Lin tentu tak mau kalah, berbaju merah delima, ia pun bersalto dengan indahnya. Tepuk tangan membahana tentunya, dan seperti biasa di mana ada cewek cantik bertanding, penontonnya bejibun banyaknya. Sama-sama mengeluarkan pedang yang dibentuk dari air menjadi es, Cuma bentuknya beda, kalau Xiau Lin, kecil panjang dan tipis, lawannya lebih tebal dan kasar pedangnya.


Sama-sama hebat, sama –sama jurus es, terlihat pertempuran berlangsung dengan seru, seperti latihan saja, tetapi setelah beberapa waktu, Trang.. Trang.. Terlihat lawan mulai serius mengerahkan tenaga inti es, kekuatannya terus bertambah, Xiau Lin tidak mau kalah, tampaknya mulai menarik nafas mengerahkan tenaga maksimum. Jurus pedang air dan es terus bertabrakan dengan sengit di udara, akibatnya , “Brakkkk”. Pedang Es yang dibentuk dari air yang dibekukan dengan hawa es keduanya patah terbelah dua , Kelihatannya akhir pertarungan akan beradu kuat dengan silat tangan kosong, Lawan terlihat tersenyum, tentu saja kalau lawan secara fisik ia yakin akan menang, tubuhnya tinggi kekar dibandingkan dengan Xiau Lin yang kecil mungil. Hiatt.. Segera ia membuang pedangnya yang patah lalu mulai mencecar Xiau Lin dengan pukulan2 jarak jauh berhawa dingin yang ampuh, namun xiau lin segera berkelit ke sana ke mari menghindari bentrokan fisik. Indah bagaikan burung menari2 dengan gesitnya. Pertempuran terlihat berat sebelah dimana lawan terus mencecar Xiau Lin dengan pukulan2 yang berbahaya.

__ADS_1


Namun Xiau Lin yang tetap tenang sambil mencari strategi , ia terus menari berputar-putar membingungkan lawan, baru setelah lawan terlihat mulai kelelahan dan mengendurkan serangan , Xiau Lin mulai menarik nafas panjang , mengumpulkan kekuatan sinkang nya, pedang buntungnya diangkatnya tinggi2 ke udara, terlihat embun pagi di rumput-rumput dan pohon di luar tempat pibu tertarik ke pedang patah yang ada di tangan Xiau Lin. Semua tertegun tercengang melihat atraksinya, Pedang esnya terbentuk kembali, lalu dengan cepatnya Xiau Lin telah melakukan lombatan salto yang tinggi di udara, seluruh kekuatan ilmu es di hentakkan ke bawah dengan kekuatan yang tangguh. Inilah jurus “Pedang Perkasa”, Seluruh kekuatan sinkang dipusatkan di pedang, pedang terlihat berkilau – kilau demikian indahnya, Lawan tertegun melihat perubahan jurus pembentuk pedang diikuti dengan jurus yang penuh hawa pembunuh , tak berdaya, dia hanya bisa menyilangkan kedua tangannya membuat perisai pertahanan menunggu serangan tiba-tiba dari lawan.


“Cukup!, “, tiba-tiba tetua Lim menghentikan pertarungan sambil menahan pedang air es Xiau Lin dengan sebuah kibasan dari lengannya sehingga pedang Xiau lin melenceng, Itu agar tidak membuat luka parah lawannya. Sebuah keputusan yang bijaksana. Terlihat di arena, sebuah garis panjang dan dalam akibat tebasan dari Jurus Pedang Perkasa. Benar-benar jurus yang perkasa. Mengerikan kekuatannya.


“Xiau Lin menang !!” umum Tetua Lim dengan perlahan namun menggema ke seluruh arena.

__ADS_1


Cuit..cuit.. semua penonton tersenyum melihat kemenangan Xiau Lin secara dramatis, Tetapi banyak yang mulai berpikir, seberapa hebatnya Xiau Lin sehingga bisa menarik embun dan membentuk pedang es yang patah. Hebat ilmunya, secara ilmu tenaga sinking udah termasuk tinggi. “Yes”, Xiau Lin membentuk huruf Y di jari kirinya tanda kemenangannya sambil mengembangkan senyumnya yang indah , di sana Wang Ci yang melihatnya merasa terharu, terpesona lalu ikut bertepuk tangan keras untuk saudara seperguruannya. Setelah salaman Xiau Lin cepat2 ke tempat pibu tempat suhunya berada mengabarkan kemenangannya, dengan begitu udah dipastikan 2 dari 4 murid tetua Liang berhasil lolos ke babak ke 2.


__ADS_2