Pendekar Maha Sakti

Pendekar Maha Sakti
Malam Kegembiraan dan Air Mata


__ADS_3

Malamnya, Tetua Liang sangat gembira, sebab ada 3 muridnya yang lolos ke babak ke 2, yang tak disangkanya adalah kemenangan Wang Ci yang ketika ditanyain malah lupa kenapa dia bisa menang. Malam itu mereka semua makan dengan senang dan kenyang, yang paling gembira tentulah Wang Ci, ternyata walau ia tidak ingat, ia berhasil membuat nama gurunya menjadi harum. Serasa dunia semakin indah , apalagi kalau dipuji oleh Xiau Lin pujaan hatinya atas kemenangannya. Tetapi mimpi apa aku semalam ? senandung wang ci..


Namun mimpi harus segera dikubur, Malang tak dapat ditolak, takdir tak tau kemana ? Di tengah malam, ia dibangunkan oleh Tetua Liang, muka gurunya merah , matanya melotot, raut mukanya terlihat marah sekali,  lalu menyeret dia ke ruang tengah. Terheran2 Wang Ci, apa yang terjadi ? Di sana dia melihat Tetua Chen, Chen Mei Kui dan Hui Lien di sana. Tetua Chen dan Chen Mei Kui melihatnya dengan pandangan kejam , tajam penuh hawa kebencian dan pembunuhan, sementara Hui Lien terlihat tak berdaya sembunyi di belakang Tetua Chen. Wang Ci lalu berdiri mematung, mukanya bingung, bagaikan kerbau bengong siap dipancung.


“Hayo, ngaku, kamu pake apa sehingga membius Hui Lien, mencabuli dia dengan merobek semua pakaiannya lagi !!” gelegar suara tetua Chen sambil menampar muka Wang Ci yang terbengong sampai berjejak. “Lupa ya ? pura-pura lupa ya ? Kamu yang berilmu rendah memakai cara curang, Hui Lien baik hati tidak memakai segenap tenaganya kepadamu, tapi kamu malah membiusnya, beruntung ia memiliki tenaga terakhir pas kamu merobek2 bajunya, meraih jubahmu dan meninggalkan arena ke penginapan.!!”


Wang Ci kebingungan, ia memang lupa, namun ia tau sifatnya sendiri, ia adalah seorang pecundang tapi yg tau diri, tak pernah berharap banyak di hidupnya, selalu tulus dan kerja keras, bagaimana mungkin tiba2 ia tersilap mata dan hati melakukan hal yang begitu memalukan ? Namun apa daya ? Ia benar-benar kebingungan dan tak berdaya. Wang Ci hanya bisa menunduk dan menunduk tanpa berkata apa2.


Chen Mei Kui jauh lebih sadis, langsung Wang Ci diseret ke ruang sebelah, ditampar, dipukulin, digebukin, ditendangin , lalu pake high heels lagi, terus ditendangin. Jurus tendangan tanpa bayangan + High Heels diluncurkan,, Bruk.. Brak.. Buk.. Buk…Buk.. 10 x. Wang Ci yang kesakitan seperti biasa cuma bisa telungkup seperti kura-kura. Bingung, sedih, sakit dan tak percaya takdir hidup ini. Tubuhnya biru hitam terkena pukulan dan tendangan tanpa ampun dari Chen Mei Kui, untungnya memang ia udah terbiasa kerja keras, daya tahan tubuhnya kuat luar biasa. Pakaian dan celananya sobek-sobek sebab Chen Mei Kui memakai kekuatan jari juga mencakarnya habis-habisan.  “Huh.. Awas kamu, kukebiri kalau berani dekat2 Hui Lien lagi “ ancam Mei Kui ganas.


“ Tetua Chen, “ Ujar ketua Liang dengan lembut, “Lebih baik kita selesaikan persoalan ini secara diam-diam saja, sebab kalau sampai hal ini tersebar ke semua murid yang lain, tentu itu tidak baik bagi kita kedua belah pihak, bagaimana pendapatmu ? , Mungkin Wang Ci Cuma terkena hawa nafsu sesaat, selama ini ia selalu taat baik dan tulus, tidak pernah berbuat hal2 yang aneh2 walaupun ilmu nya rendah”

__ADS_1


“Tidak bisa, dia harus dibunuh, ia merusak nama baik murid saya ! , Murid tak tau diri, Bagaimana kamu mengajari akhlaknya!!  Saya sengaja datang tengah malam begini agar tidak ada yg tau hal ini” Ujar ketua Chen geram.  


“ Tapi peraturan Lembah, tidak boleh ada pembunuhan kalau tidak disetujui oleh minimal 3 dari 4 ketua yang ada.” balas Tetua Liang sabar , “bagaimana kalau kita tanya pendapat Hui Lien, haruskah kita bunuh Wang Ci ? , ataukah ada jalan lain, biar dia yang memutuskannya  apakah mau membunuhnya ? putus asa ketua Liang atas keras kepalanya Ketua Chen.


“Hui Lien, kamu yang dinodai, ini ada pedang , silahkan kamu ke sebelah dan bunuh dia ” perintah Tetua Chen sambil memberikannya sebuah pedang yang berkilau tajam. Baginya harga diri muridnya itu harga mati, nanti saja baru berunding dengan tetua yang lain, bunuh saja dulu.


Tapi aneh di tatapan mata Ketua Chen,  di sampingnya Hui Lien malah terlihat kebingungan, kelihatan bingung, muram dan serba canggung tindakannya, “Tetua, kita pulang saja ya..” Katanya kepada Ketua Chen dengan pelan. “Kasihan , dia kan udah dipukulin habis2 an oleh Chen Mei Kui, udah dihukum. Lupakan saja ya ?, maafin saja ya ?”


Di sebelah Tetua Liang hanya bisa memandang muridnya yang badannya bilur-bilur bekas cakaran dan biru lebam bekas pukulan dan tendangan sedang berlutut lemah. “Ah, muridku, saya mengerti engkau masih muda, tapi kenapa kamu bisa jatuh ke jalan yang sesat!” “Suhu tak bisa membantumu , kamu tetap harus menerima hukuman dari suhu!” “Keluar kamu!! , berlutut di bawah batu jauh dari pondok ini dan renungi kesalahan dan dosa-dosa mu sampai pagi. Semoga saja Tetua  Chen tidak membunuhmu.


“Suhu, terima kasih atas kebijaksanaamu, maafkan muridmu ini !” dengan terbata-bata dan berurai air mata Wang Ci dengan tegar menerima titah gurunya sambil berlutut, menyembah dan memeluk kaki gurunya, lalu ia berjalan gontai dan lemah keluar pondok, berjalan menyeret kakinya   sekitar 100 meter ke belakang, dan di bawah batu yang besar, ia berlutut di sana, memaki dirinya sendiri, kenapa dia bisa berbuat hal-hal sesat seperti itu ?

__ADS_1


Takdir memang kejam. Tak mengenal perasaan. Langit malah semakin tidak berpihak kepadanya, hujan mulai turun dengan lebat, membuat luka di tubuhnya terasa begitu sakit, namun terlebih sakit lagi hatinya, merasa bahwa ia telah menjadi jahat. Kenapa ? Ia berteriak ke langit dalam kebimbangan dan kebingungan.. Kenapa ? Sambil berurai air mata yang terasa hangat di pipinya yang diterpa dinginnya angin dan hujan malam. Rasanya waktu begitu lama berlalu, baru saja ia begitu gembira telah membuat Keluarga Liang senang , kini tiba-tiba saja ia malah telah mencoreng nama Keluarga Liang. Kelelahan Fisik, siksaan fisik mulai menerpanya , tapi kelelahan secara emosi yg paling membuatnya goyah, terasa ia mau mati saja, pandangannya  mulai berkunang-kunang. Dinginnya angin malam terasa begitu mendalam, masuk ke tulang sumsumnya. Tubuhnya mulai  gemetar tak kunjung henti..!


Lalu, seolah dalam mimpi, dalam pandangan mata yang samar ketika Ia hampir pingsan, ia melihat seorang bidadari datang kepadanya, memayunginya sehingga ia tidak merasakan lagi terpaan hujan, bau wangi parfum sang bidadari begitu harum sehingga ia merasa mabuk kepayang. Apakah ia udah masuk halusinasi tingkat tinggi dan sudah menjadi gila ? Mungkinkah dewa berpihak kepadanya lalu mengirim bidadari mengiringinya ? Apakah ia akan mati ?


Tidak.! , ia mengoyang2kan kepalanya mengusir kepusingannya, Lalu ketika ia mengangkat kepalanya dan penglihatannya sedikit terang, Dari matanya yg berlinang air mata, ia seolah melihat wanita itu mirip dengan Xiau Lin ? atau Chen Mei Kui ?. Mungkinkah ? Kenapa ? Namun tubuhnya yang kedinginan begitu gemetar, tangannya bergetar begitu keras, suaranya pun bergetar. “Kamu Ssssiapa ?” 


Tanpa di duga, melihat dia gemetaran,  tiba-tiba wanita itu memeluknya dengan lembut, menyandarkan kepala Wang Ci yang lemah di bahunya. Kehalusan kulit wajahnya terasa di wajah Wang Ci, Kehangatan tubuhnya lebih terasa sekali dikulitnya yang dingin, wanita itu kemudian memeluknya dengan semakin erat, memberikan kehangatan tubuhnya ke tubuh Wang Ci yang begitu dingin dan lemah dan gemetar, 


Keharuman tubuhnya begitu tercium karena dekatnya. Hangatnya nafasnya melewati lehernya. Lama, terasa begitu lama, begitu tenang, begitu damai, lupa akan segala penderitaannya, Hati adalah sumber segalanya, ketika hatinya menjadi hampa, kosong dan damai, semua menjadi begitu tak berarti lagi, pukulan , tamparan, cacian semua seakan terlupakan.


Berjam-jam lamanya ia dalam pelukan bidadari itu. Ia tak punya kekuatan apapun untuk menolak,  ia hanya bisa pasrah dipeluk oleh bidadari itu. Tak ada kekuatan apapun tersisa darinya lagi. Samar-samar ia mendengan sebuah ucapan yang lirih dari mulut wanita itu. “Maafkan saya ya..” lalu Wang Ci merasakan matanya semakin berat, semakin berat, lalu ia pun pingsan dan hujan pun perlahan mulai berhenti. 

__ADS_1


__ADS_2