
Dibawa siang terik matahari, Aluna menyusuri jLan menuju kios milik tante Hesti, gadis yang memakai kiban coksu tersebut memutuskan jalan kaki sayang uangnya ia pake untuk nik ojol, apalagi selam menikah sandy tidak pernah memberinya uang.
Aluna membuka tas punggungnya, ia mengambil dompet kecil yang lusuh yang selama ini ia pake untuk menyimpang uang-uang dari kios bu Hesti.
'275 ribu lgi , apakah mungkin sampu akhir bulan. " gadis cantik itu menghembuskan nafasnya. "
Tin. tin. tin.
Suara klakson mobil dari arah belakang, sedikit mengejutkan ku dan akupun menepi, takut mobil hitn itu menambarakku
Dari arah kemudi , kuliat ke arah pria yang sedikit membuka sedikit kecamtan ya, dan menyebutkann namaku.
"Aluna ayo ikut. ? aku sedikit mengikuti melihat siapa yang memanggilku.
"Aldy"
Aku tak menyangka bisa melihat pria yang pernah menjdi kakak kelasku waktu selasa SMA. Aldy pratstya adlah pria yang banyak di kagumi di kala putih Abu-Abu , Kini berda di hadapanmu. Pria yang perna berjanji tidak kan meninggalkanku , pemuda yang selalu baik padaku saat aku di pwrlakukan oleh mma Heni dan kk Maura tak manusiawi.
"Hey malah bengong ayo masuk cepat. " Ucap pemuda yang keliatan makin dewasa, tapi ketampanan nya makin bertambah, hidung yang mancung, bibir yang keliatan merah dan basah, karena Aldy bukan pria perokok, bahkan Aldy tidak menyukai bau rokok pembunuh tersebut.
Akupun menuruti keinginan teman msa kecilku tersebut , rumah keluarga Aldy memang hnya berjarak beberapa rumah dari rumah mama Heni, tetapi karena pekerjaan pap nya yang memiliki bisnis di mana-mana , jadi keluarg Aldy memutuskan pindah ke kota lain, bahkan selam ini aku tak tahu Aldy pindah kemana selama ini, karena no pria tersebut tidak dapt di hubungi lagi.
__ADS_1
"Kamu apa kabar Aluna"ucap Aldy sambil menarik jilbab ku karena memang sifatnya yang humoris
" kabarku selama ini baik kak. kakak selam ini pergi kemana selama ini . " tanya ku pda pria yang berlesung pipi tersebut
" kabarku bik, kamu jangan khawatir aku kan menetap di sini. "
" bagus dong akhirnya aku ada teman "
" iya kak turunian aku di kios itu kaka. " aku menunjuk kios yang tak jauh dari hadapan kami.
"Loh kamu ngapain disana, mu belikan bunga buat aku. " ucapan sandy yang membuatku terkekeh.
"Aku bekerja di sana kak" jawabku pada pria yang 2 tahun lebih tua dariku.
"Tidak kok, papa memberiku uang kok aku cuman mau mandiri kn aku udah dewasa. " jawabku selamanya pertayaan sandy.
Sebelum aku turun Aldy menyodorkan HP yang perkiraan 30 juta tersebut padaku
"Kasi masuk no. ponselmu ke dalam kok mlah bengong"Aldy mengjitak kepalaku
" Aww sakit tahu kepalaku" ucapku kepada sandy
__ADS_1
setelah aku memasukkan nomor ku dalam handphone nya aku segera turun. aku tak enak karena daritadi tante Hesti menatap kami
"Assalamualaikum tante Hesti" aku mengalami tante Hesti dan di bals dengan senyuman dari tante Hesti wanita bw jilbab Abu-Abu tersebut.
Setelah selesai kerja aku baru tiba di rumah sandy sekitar jam 7 malam
Prok
Prok
Prok
Suara tepung tangan terdengar dari yang gelap menjdi terang bertepatan dengn suara tepuk tangan Sandy
"Hebat siapa laki-laki yang membawamu pergi hari ini? berapa bayaran sekali kencanmu hmm? apa aku tak pernah memberikan uang kamu menjalankan diri. " Sinis Sandy menatap remeh.
"oww apa kamu sadar tuan kamu tak perna menafkahi ku, bhkan byran tmng ku jnjikan untukku ketika menjdi pembantu dirumhmu gak ku bayarkan, apa ku anggap aku patung tak membutuhkan uang untuk makan? apa kamu takut uangmu habis jik membayar jasaku. " entah dari mn keberanian ku membalas demi kian.
"Brengsek" dia melengkatkan pot bunga ke arahku dan mengenai pelipis kan aku sehingga mengeluarkan cairan merah
Perlahan ku usap aliran darah yang berwarna merah pekat dan berkata
__ADS_1
" Terimkasih"