PENGULANGAN WAKTU

PENGULANGAN WAKTU
CHAPTER 10


__ADS_3

...***...


Arman baru saja sampai di rumah Amanda. Meskipun jantungnya pada saat itu berdebar-debar dengan sangat kencang, ia mencoba memberanikan dirinya untuk masuk.


"Assalamualaikum." Ucapnya, kebetulan pada saat itu pintu rumah Amanda masih terbuka.


"Wa'alaikumussalam." Balas dua orang yang berada di ruang depan.


"Masuk nak arman." Ayah Amanda mempersilahkan Arman untuk masuk.


"Eh?. Ada om ternyata?." Arman semakin gugup dengan melihat adanya ayah Amanda di sana. "Apa kabarnya om?." Arman langsung Salim dan mencium tangan ayah Amanda.


"Baik, alhamdulillah." Jawabnya. Ia hanya tersenyum kecil melihat sikap Arman yang sangat sopan. "Kalau kamu sendiri gimana kabarnya?." Ia balik memberikan pertanyaan kepada Arman.


"Alhamdulillah saya baik om." Arman hanya bisa tersenyum kecil saja.


"Alhamdulillah, om senang dengarnya." Akan tetapi pada saat itu matanya tertuju dengan penampilan Arman. "Tapi kamu kok rapi amat?. Mau ngajak amanda keluar ya?." Tentu saja itu menjadi tanda tanya baginya.


"Eng-eng-enggak om. Lagian ini sudah malam om. Keluar malam-malam ntar masuk angin." Arman tampak semakin gugup dengan pertanyaan itu.


"Hahaha!. Kamu ini ada-ada saja." Ayah Amanda malah menertawakan Arman.


"Ternyata arman bisa bercanda juga?." Dalam hati Amanda tidak menduga sama sekali, jika Arman berani bercanda seperti itu pada ayahnya?. "Kalau begitu aku ambil cemilan dulu ya?." Amanda tentu saja berinisiatif untuk mengambil cemilan untuk mereka mengobrol.


"Sekalian ambil minuman segar supaya ngobrolnya lebih enak. Biar arman kelihatan makin segar." Ayah Amanda malah semakin bercanda?. Hingga menimbulkan gelak tawa bagi mereka. Akan tetapi pada saat itu Amanda berjalan ke belakang untuk mengambil cemilan sehingga ayahnya tinggal berdua saja dengan Arman.


"Hahaha. Bisa saja si om mah." Arman hanya cengengesan saja.


"Lagian kamu sih. Udah lama nggak main ke sini. Jadinya om nggak punya teman untuk ngobrol." Jika dilihat dari raut wajahnya memang tergambar seperti itu.

__ADS_1


"Ya?. Mau gimana lagi om?. Tugas kuliah sih banyak, sampai ketemuan sama amanda aja palingan di kampus doang." Hanya itu saja yang dapat ia jawab. "Soalnya udah capek sama tugas di kampus om. Jadinya kita nggak bisa keluar main lagi, udah capek duluan dibebani tugas kampus." Arman tentu saja mengatakan apa yang ia rasakan.


"Hahaha!. Yang sabar, nanti kamu bakalan jalan sama amanda dengan sepuas hati kamu kalau udah nikah kok." Ayah Amanda sama sekali tidak menduga dengan jawaban itu. "Yang sekarang kamu jalani yang ada dulu. Walaupun cuma ketemuan sama amanda di kampus doang?. Ya nikmati aja."


"Aamiin. Moga aja ya om?." Arman merasa sangat senang dengan ucapan ayah Amanda. Perasaannya mulai lega, karena ayah Amanda sama sekali tidak marah kepadanya.


"Ayah emangnya direstuin kami menikah?." Tiba-tiba saja Amanda datang dengan membawa beberapa camilan di nampan.


"Oh?. Ya jelaslah." Jawabnya dengan penuh percaya diri. "Tentu saja ayah sangat merestui pernikahan kalian." Ia melihat ke arah Arman. "Tapi kalian selesaikan dulu masalah kuliah kalian. Kalau sekarang ya belum tentu ayah izinkan kalian menikah." Ia malah terkekeh kecil dengan ucapannya sendiri


Sedangkan Arman dan Amanda malah tersipu malu mendengarkan ucapan itu.


"Hahaha. Ya itu pasti om. Selesaikan dulu masalah kampus." Suasana hatinya benar-benar berbunga-bunga. "Tapi terima kasih om udah berikan restu." Dari raut wajahnya terlihat sangat jelas bagaimana ia tersipu malu.


"Loh?. Jangan senang dulu." Lah?. Apakah ayah Amanda berubah pikiran?. "Memang aku ngasih restu, tapi kamu harus melalui ujian dari aku dulu." Ayah Amanda terlihat seperti seorang dosen yang akan memberikan ujian yang sangat berat kepada mahasiswa.


"Walah?." Arman terkejut sambil menepuk jidatnya. Ia seperti kehilangan harapan setelah mendengarkan ucapan itu.


"Olalala. Kirain apa?." Sungguh, ia tidak menyangka jika ayah Amanda memiliki jiwa humor yang sangat bagus.


"Ahahaha!. Ayah ini ada-ada." Amanda malah tertawa mendengarkan ucapan ayahnya.


Pada saat itu mereka benar-benar menikmati bagaimana kedekatan antara calon keluarga yang baik. Setidaknya mereka mendekatkan diri terlebih dahulu sebelum memasuki zona yang benar-benar zona yang tidak bisa diganggu gugat lagi. Akan tetapi pada saat itu mereka tidak menyadari sama sekali jika ada sosok hitam yang sedang memperhatikan apa yang telah mereka lakukan.


"Kamu harus ingat, apa tujuan kamu sebenarnya datang ke masa ini. Kamu jangan bermain-main lagi. Karena mereka semua akan bergerak jika kamu tidak menyadarinya." Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran sosok hitam yang telah mengantar Arman kepada masa itu.


...***...


Di sebuah tempat tongkrongan.

__ADS_1


Barata Jaya dan Nicola Andra pada saat itu mereka sedang bersama untuk merencanakan sesuatu.


"Kabar yang aku dengar?. Amanda sudah jadian sama arman." Barata Jaya seperti sedang memanasi temannya itu. "Bukannya lu naksir berat sama dia?." Ia sedikit mengetahui bagaimana perasaan yang dimiliki oleh Nicola Andra.


"Arman itu benar-benar sangat kurang ajar." Suasana hatinya pada saat itu benar-benar sangat panas. "Padahal udah gue bilangin sama dia, kalau amanda incaran gue!. Eh?!. Malah ngelunjak dia sama gue." Ia benar-benar menunjukkan bagaimana perasaan marah dan benci yang ia rasakan.


"Terus lu cuman diam doang?." Barata Jaya seperti api yang sedang berkobar untuk memanasi Nicola Andra. "Emangnya lu ngomong apa sama dia sampai dia nggak mau dengerin lu?." Ia berkata seperti itu seakan-akan ia benar-benar terbawa suasana.


"Gue udah bilang ke dia kalau amanda itu incaran gue." Nicola Andra semakin geram. "Tapi dia masih aja nggak mau dengerin gue." Hampir saja ia melampiaskan amarahnya pada saat, ia banting minuman yang ia pegang tadi.


"Kalau gitu lu kasih aja pelajaran sama dia, biar dia kapok ngambil sesuatu dari lu tanpa izin." Ia tepuk pinggang temannya itu.


"Gue akan main halus sama dia." Nicola Andra sedang memikirkan cara yang bagus untuk membalas perbuatan Arman. "Karena gue benci sama orang yang telah berani mengambil apa yang gue sukai." Ia kepal kuat tangannya untuk mengekspresikan bagaimana kemarahannya ia rasakan.


"Sip!. Gue suka gaya lu. Kalau lu butuh bantuan gue?. Kapan aja gue bantuin lu." Barata Jaya berdiri, dan ia tepuk-tepuk pelan pundak Nicola Andra. "Soalnya gue juga pengen menghajar dia. Udah dari dulu gue benci sama dia." Sepertinya ia memiliki dendam pribadi yang harus ia selesaikan.


"Tapi kita jangan nunjukin secara langsung ke dia, kalau Kita sebenarnya nggak suka sama dia." Nicola Andra tersenyum kecil sambil membayangkan apa yang akan ia lakukan setelah itu.


"Lu tenang aja." Ia kembali duduk. "Kita ini aktor yang hebat, mana mungkin dia nyadar kalau kita itu hanya pura-pura baik sama dia." Dengan penuh percaya diri ia berkata seperti itu.


"Yoi bro!." Setelah itu mereka malah salaman tas ala anak kekinian.


Sepertinya mereka benar-benar memiliki rencana yang jahat terhadap Arman. Mereka yang memiliki niat yang tidak baik terhadap Arman. Apakah mereka berhasil melakukan rencana itu?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.


...***...


Di sebuah ruangan yang sedikit gelap. Ada seorang wanita muda yang terlihat sangat frustasi dengan apa yang telah terjadi. Suasana hatinya pada saat itu sangat diuji penuh kesabaran. Suasana hatinya yang dipenuhi dengan tekanan serta pikirannya yang jahat.


"Bagaimana mungkin arman bisa jadian sama cewek buruk rupa itu?." Ada perasaan benci yang ia sampaikan melalui kata-kata. "Arman itu milik aku!." Teriaknya dengan penuh frustasi. Di ruangan yang gelap itu ia melihat semua foto koleksi Arman. "Tidak akan aku biarkan siapapun juga mendapatkannya." Dengan amarah yang sangat membara ini ambil salah satu foto yang ada di sana. "Aku harus memikirkan cara yang tepat untuk menyingkirkan wanita itu." Ia tatap foto itu dengan penuh amarah yang bergejolak. "Aku sama sekali tidak rela, jika ada orang lain yang berani dekatin ayang bebku. Hanya aku yang boleh mendekati arman." Entah firasa dari mana ia mengatakan seperti itu. "Akan aku singkirkan siapa saja yang berani mendekatinya. Termasuk dia." Sorot matanya berubah menjadi tajam ketika ia mengetahui jika Amanda telah jadian dengan Arman beberapa waktu yang lalu?. "Aku pasti memiliki cara untuk menghajarnya." Dengan amarah yang sangat membara ia langkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu. Ia banting dengan kuat pintu ruangan itu hingga hampir saja pintu itu copot dari tempatnya. Siapa wanita misterius itu?. Simak terus ceritanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2