PENGULANGAN WAKTU

PENGULANGAN WAKTU
CHAPTER 9


__ADS_3

...***...


Di rumah Amanda.


Saat itu ia baru saja selesai melaksanakan sholat isya. Namun pikirannya saat itu benar-benar sangat bercabang, ia ingat dengan apa yang telah dilakukan Arman padanya.


"Dosa gak ya?. Dipeluk sama laki-laki yang bukan mukhrimnya?." Dalam hatinya saat itu sangat bingung dengan apa yang telah terjadi saat itu.


Namun saat itu ada pesan masuk di hp-nya, dan ia segera memeriksa pesan yang ternyata dari Arman?. Sontak ia terkejut dengan isi pesan yang dikirim Arman padanya.


"Maafin sikap aku tadi ya?. Semoga aja kamu enggak marah sama aku."


Amanda tersenyum kecil sambil membaca pesan itu.


"Kalau kamu udah tahu salah, lain kali jangan ulangi lagi, ya?. Nanti dosa loh."


Arman membaca balasan dari Amanda, ia malah cengengesan tidak jelas.


"Tapi, kita masih bisa kek biasanya kan?. Soalnya cuma kamu yang bisa buat aku betah di kampus."


Amanda mengernyit heran dnegan pesan yang ia baca kali ini.


"Ampun deh. Kamu ini ada-ada aja."


Arman membacanya dengan senyuman lebar. "Itu aku lakukan supaya aku bosa memantau kamu lebih dekat lagi. Karena ini adalah misi yang sagat penting buat aku." Dalam hatinya sangat sesak mengingat apa yang telah terjadi dimasa depan.


"Besok di kampus kita ketemuan di mana?. Aku pengen banget nempel sama kamu."


Amanda kembali mengernyit membaca pesan dari Arman. "Lah?. Ni anak kebentur di mana ya?. Kok malah ngajak ketemuan di kampus." Amanda semakin bingung. "Lah?. Bukannya besok minggu?. Ngapain ketemuan di kampus?. Mau bersih-bersih di kampus?."

__ADS_1


Deg!.


Arman sangat malu membaca pesan itu, rasanya ia ingin segera menghilang saking malunya dengan apa yang ia rasakan saat itu. "Astaghfirullahhal'azim ya Allah. Kok bisa lupa ya?." Dalam hati Arman sangat malu dengan sikapnya yang seperti itu. "Malu banget sumpah. Terus gue harus balas apa?. Malu banget." Arman sampai guling-guling di kasurnya saking malunya hati gue baca pesan dari amanda." Dalam hatinya menangis malu dengan ucapannya tadi. Dan saat ia memeriksa jam yang tertera di hp-nya saat itu memang malam sabtu sekarang. "Ah!." Ia mendadak bangun dari guling-guling yang ia lakukan tadi. "Malam munggu dong ya, kan?." Mendadak hatinya sangat senang. "Masih jam setengah sembilan, ya kan?." Dalam hatinya mulai senang. Saat itu ia segera mengambil pakaiannya. "Eh. Jangan lupa kasih tahu ke ayang beb, kalau aku mau datang ke rumahnya."


"Maaf, tadi aku lupa. Tapi sebagai gantinya aku akan ke sana. Jadi kamu tetap di rumah, sambut kedatangan pangeran kamu ya?."


Amanda ngakak guling-guling baca pesan itu, ia tidak dapat menahan tawanya saat itu. "Malah mau ke sini?. Pangeran dari mana coba?." Entah kenapa ia merasa ada yang lucu dengan ketikan yang dikirim Arman padanya. Amanda mencoba untuk menghentikan tawanya, ia langsung mencari baju yang agak sopan. Karena ia tidak ingin memberikan kesan yang buruk pada Arman nantinya. "Ya udah lah, kalau memang mau datang ke rumah?. Ya, apa boleh buat. Dari pada ketemuan di kampus yang sepi?." Ia malah tertawa cekikikan membayangkan jika ia bertemu dengan Arman di kampus yang tidak ada penghuninya.


Memang ia telah pacaran dengan Arman selama dua minggu ini. Tapi ia tidak menduga sama sekali jika Arman memiliki sifat yang seperti itu "Aku pikir dulu dia itu orang yang kaku, tapi enggak nyangka jiwa humorisnya keluar baru sekarang." Amanda tidak menyangka jiwa humoris Arman akan muncul sekarang?.


Sementara itu Arman baru saja selesai memilih pakaiannya, dan ia tidak menduga akan gugup ke rumah Amanda?. "Njir, malah gugup. Biasanya gak perhatian sama penampilan kalau ketemu sama amanda. Tapi sekarang malah beda ya?." Ia memperhatikan penampilannya saat itu di kaca. "Aku harus pakai baju apa ya?." Ia malah bingung dengan pakaiannya. "Dih!. Kok malah ribet kek gini?. Enggak biasanya."


"Ekhem!." Azira Marwa, itu adalah nama ibunya. Namun saat itu ia melihat anak laki-lakinya yang berkelakuan aneh.


"Ibu?." Arman semakin gugup dengan suara teguran dari ibunya yang terlihat galak.


"Mau ke rumah amanda, kan?. Rapi banget penampilan kamu?. Mau ngajak amanda malam mingguan ya?."


Deg!.


"Lah?. Kok bengong sih?." Azira menatap aneh anaknya.


"Eng-eng-enggak kok bu." Mendadak ia terkena serangan gagap.


"Enggak salah?." Tebaknya dengan nada menggoda.


"Ibu." Rengeknya dengan aneh.


Arman semakin malu diperlakukan seperti itu oleh ibunya. Sedang ibunya semakin tertawa melihat tingkah anaknya.

__ADS_1


"Ya sudah, jangan malam-malam di sana. Ibu udah bilang kok, kalau anak ibu mau ke sana ke ayahnya amanda. Supaya kamu nanti enggak diusir, karena datang menemui seorang anak perempuan pada malam hari." Dengan nada yang menggoda ia berkata seperti itu.


"Terima kasih ibu. Ibu memang terbaik." Arman tidak mengetahui jika ibunya tahu hubungannya dengan Amanda?. Bahkan memiliki nomor ayahnya Amanda?. "Bukan bermaksud untuk berpikiran buruk sama emak sendiri, hanya waspada aja." Setidaknya itu lah yang ada di dalam pikiran Arman saat itu.


"Ah!. Kamu ini sekali muji?. Kalau lagi ada maunya kan?." Azira tidak dapat menahan tawanya. Sedangkan Arman hanya bisa cengengesan saja mendengarkan ucapan ibunya.


***


Di rumah Amanda.


Saat itu ayah Amanda melihat anaknya yang sedang rapi-rapi.


"Kamu rapi banget. Apa karena arman mau datang ke sini?." Ia tersenyum kecil.


"Jadi ayah sudah tahu kalau arman akan datang ke sini?." Amanda sedikit terkejut.


"Ibunya yang mengabari ayah." Ia mendekati anaknya, setelah itu mereka duduk bersama sambil menunggu kedatangan Arman.


"Emangnya ayah gak marah kalau ada laki-laki yang datang ke sini?." Amanda ingin mengetahui apakah ayahnya akan membiarkan anaknya begitu saja bersama orang lain.


"Kalau boleh jujur ayah takut banget kalau kamu ketemuan sama cowok di luar sana." Ia menatap anaknya dengan perasaan cemas. Tapi karena arman yang datang ke sini tanpa mengajak kamu ke luar dengan alasan belajar kelompok?. Ya ayah izinkan." Lanjutnya.


"Kenapa?." Amanda masih belum puas dengan jawaban itu.


"Sebab. Laki-laki yang baik?. Adalah laki-laki yang dengan niat baik, datang ke rumah dengan cara yang baik pula. Bukan laki-laki yang membawa anak gadis orang dengan alasan belajar kelompok, tapi malah mengajak ke hotel."


"Iya sih yah."


Bagaimana kelanjutannya?. Next.

__ADS_1


...***...


__ADS_2