
...***...
Saat itu Arman bersama sosok hitam yang sama sekali tidak dia kenali. Akan tetapi entah kenapa pada saat itu ia sama sekali tidak takut. Sosok hitam itu seakan-akan sangat akrab dengan dirinya, entah kenapa ia merasakan begitu dekat dengan sosok hitam itu.
"Kenapa kamu membantu aku?. Sebenarnya kamu ini siapa?."
"Anggap saja aku adalah orang yang berharga bagimu."
Arman hanya terdiam saja, karena baginya yang paling berharga adalah Amanda. Apakah ia bisa menganggap sosok hitam itu adalah Amanda?.
"Lalu apa yang akan aku lakukan sekarang?. Kenapa mereka ingin menangkap aku?. Mereka bahkan menuduh aku sebagai pembunuh dari amanda istri yang aku cintai." Hatinya pada saat itu merasakan sakit yang sangat luar biasa. "Aku yakin ini adalah permainan nicola dan kedua temannya itu." Tentunya ia mengetahui siapa dalang dibalik masalah yang terjadi pada dirinya.
"Kamu tenang saja. Aku akan membantumu untuk melakukan pengulangan waktu." Dengan lembut ia mengusap kepala Arman.
"Pengulangan waktu?." Arman sedikit heran dengan ucapan itu.
"Ya. Kamu akan melakukan pengolahan waktu. Di mana semua akar permasalahan itu terjadi. Kau harus mencegah mereka semua agar tidak berbuat jahat kepada istrimu dan juga kepadamu."
"Tapi bagaimana caranya aku melakukan itu?. Apa yang harus aku lakukan?." Tentu saja Arman tidak mengetahui caranya.
"Kamu tenang saja. Aku akan mengantarkanmu kepada waktu itu. Tapi kamu harus ingat, tujuanmu hanyalah untuk mencegah apa yang telah terjadi di masa lalu. Jangan bertindak melebihi batas yang telah ditentukan."
"Apakah kembali ke masa lalu aku akan mengubah masa depan?."
"Itu semua tergantung usahamu. Jika kamu melakukannya dengan benar, maka masa depan akan berubah sesuai dengan harapanmu."
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan melakukannya. Aku tidak rela amanda pergi meninggalkan aku dengan cara yang seperti itu." Ya. Saat itu ia telah bertekad bahwa ia akan menyelamatkan istri yang sangat ia cintai. Tapi bagaimana cara ia melakukan itu?. Simak terus ceritanya.
...***...
Kepolisian masih mencari keberadaan Arman yang masuk ke dalam hutan yang angker itu. Dengan menggunakan anjing pelacak, mereka terus mencari keberadaan Arman.
"Apakah kalian yakin?. Jika dia masih hidup di hutan ini?." Matanya menatap betapa lebatnya hutan itu. "Berdasarkan kabar yang beredar, hutan ini memiliki tempat-tempat yang sangat curam, semak-semaknya masih lebat, tembakan memiliki binatang buas yang sangat ganas. Apakah kalian yakin ingin melanjutkan pencarian itu?." Brigadir Dandi Wiranto sebenarnya sangat malas berurusan dengan hal-hal yang seperti itu. Tapi karena permintaan keponakannya ia terpaksa melakukan itu.
"Setidaknya kita sangat mencarinya sampai menemukan jasadnya atau orangnya. Aku rasa dia tidak akan mungkin bisa berlari lebih jauh jika kondisi hutan memang seperti itu." Nicola Andra masih belum puas jika belum melihat mayat Arman.
"Kalau begitu kami akan menelusuri tapian hutan saja. Aku tidak mau anggotaku terluka karena pencarian ini. Jika sampai besok pagi tidak ditemukan keberadaannya anggap saja dia telah mati di dalam hutan itu." Setelah berkata seperti itu ia segera pergi meninggalkan mereka. Karena banyak urusan yang harus dikerjakan saat itu.
"Bagaimana menurut kalian?. Apakah dia masih hidup di dalam hutan ini?." Nicola Andra mana bertanya kepada kedua temannya itu.
"Tentu saja ini adalah kemenangan mutlak bagi kita. Melempar satu burung maka dua nyawa akan ikut tewas." Wanda sepertinya tidak memiliki perasaan cinta lagi terhadap Arman.
"Kalau begitu mari kita rayakan kemenangan ini. Aku sangat yakin dia telah mati di hutan ini." Nicola Andra duluan menuju mobilnya.
"Mari kita merayakan kemenangan dengan pesta yang sangat meriah." Barata Jaya juga menuju mobilnya.
"Aku rasa itu adalah ide yang sangat menyenangkan. Aku akan ikut dengan kalian berdua." Ya. Sepertinya ia mencoba menikmati apa yang telah terjadi.
Mereka tidak memiliki perasaan apapun terhadap apa yang telah terjadi pada Arman dan Amanda. Bagi mereka pada saat itu dendam mereka telah terbalaskan terhadap Amanda dan Arman.
Sementara itu Arman yang berada di hutan belantara.
__ADS_1
"Tutuplah matamu dengan sangat erat. Bayangkan saat kamu berada di dekat amanda. Di mana pada saat itu kamu merasakan ada yang ganjal dengan ketiga orang itu." Sosok hitam itu memberikan arahan kepada Arman, saat itu ia mencoba mengirim Arman ke masa lalu.
"Amanda. Aku hanya ingin selalu bersama denganmu. Bawalah aku ke masa lalu di mana kita bisa bersama seperti dulu." Pada saat itu ia membayangkan kejadian 4 tahun yang lalu di mana mereka bersama.
"Jika kamu telah berhasil mengingat tempat itu. Maka aku akan mengantarmu ke sana." Dengan hati-hati sosok itu mencoba untuk membawa Arman ke masa lalu.
Ruang dimensi yang dipenuhi dengan misteri yang tidak pernah diketahui akan menjadi seperti apa. Akan tetapi pada saat itu Arman mencoba untuk mengingat semua kenangan yang bersama Amanda. Cukup lama baginya menunggu ketika ada seseorang yang memanggil namanya.
"Arman?." Suara itu sangat lembut memanggil namanya. Akan tetapi pada saat itu Arman belum menjawab panggilan itu karena ia sedang menghadapi apa yang telah ia rasakan.
"Apakah itu benar suara amanda?." Jantungnya berdetak dengan sangat kencang, ia berdebar-debar ketika mendengarkan suara itu.
"Arman?. Kamu baik-baik saja?." Ia mencoba untuk menggoyangkan tubuh Arman agar melihat ke arahnya.
Perlahan-lahan Arman membuka matanya, saat pertama kali ia membuka matanya ia melihat sosok yang sangat ia cintai. Matanya tidak salah dalam melihat, matanya pada saat itu menangkap wajah cemas yang diperlihatkan oleh Amanda pada saat itu.
"Kamu ini kenapa sih?." Amanda sangat tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi pada Arman.
"Amanda." Arman langsung memeluk tubuh Amanda dengan sangat eratnya. Sehingga Amanda terlihat kesulitan untuk bernafas karena saking kuatnya pelukan itu.
"Ih!. Kamu ini kenapa?. Lepaskan aku. Sakit!." Amanda mencoba untuk berontak. Akan tetapi pelukan itu sangat berat sehingga ia mengalami kesulitan untuk melepaskan diri.
"Sebentar saja. Aku hanya ingin memelukmu sebentar saja." Saat itu Arman mencoba untuk menahan tangisnya. "Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Aku berjanji akan menyelesaikan masalah di sini dengan baik. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu." Setidaknya itulah yang ada di dalam pikirannya pada saat itu. "Aku akan mencari tahu apa yang salah pada masa ini." Dalam hatinya telah berjanji akan menyelamatkan Amanda.
...**...
__ADS_1