
...***...
Ditempat tongkrongan.
"Gimana caranya aku untuk sementara waktu menghindari mereka?. Karena aku sama sekali tidak memiliki rencana untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya." Dalam hatinya sangat gelisah dengan apa yang telah mereka lakukan padanya. Ia benar-benar canggung setiap kali ingatannya tertuju apa yang terjadi pada masa depan. "Gimana caranya gue mau menghadapi mereka jika gue masih gugup?." Dalam hatinya sangat bingung dengan kondisi mentalnya saat ini. "Padahal aku selama ini menganggap mereka baik-baik saja, enggak mungkin mereka melakukan hal yang aneh-aneh padaku. Tapi kenyataannya aku selama ini ditipu oleh penampilan mereka yang sok baik sama aku." Dalam hatinya bingung dengan situasinya.
"Lu kenapa bro?. Kok kusut amat, mikirin apa?." Nicola menepuk pundak Arman yang duduk tak jauh darinya.
"Gue takut-."
Kebetulan saat itu Hp Arman berbunyi, ia sangat bersyukur dengan panggilan itu.
"Ya?. Halo pak?. Maaf ya pak?." Arman terlihat sangat panik, ia bahkan sesekali melihat kearah Nicola, Barata dan yang lainnya. "Memangnya harus sekarang pak?. Harus segera dikumpulkan hari ini juga?." Arman berdiri dengan cepat. "Apa enggak bisa nunggu sampai besok pak?." Arman semakin panik. "Apa?. Yah!. Jangan dikasih nilai c pak. Nanti saya mau makan apa kalau bapak ngasih saya nilai c?!." Ia, hampir saja memperlihatkan kemarahannya. "Siap pak!. Delapat tujuh. Saya akan menemui bapak ke ruang dosen. Apa?. Di perpustakaan?. Siap pak!." Setelah itu ia matikan panggilan itu.
"Apaan sih?!." Nicola sangat penasaran.
"Sorry bro!. Keknya pak riduan lagi gak bisa diajak becanda. Jadi gue harus ke sana." Setelah mengambil tasnya?. Buru-buru ia pergi meninggalkan mereka semua. "Pokoknya gue kabur dulu dari mereka, gue juga gak mau bikin amanda nungguin gue kelamaan di sana." Dalam hatinya merasa bersalah karena memaksa Amanda agar menunggunya di sana. Jadi ia harus segera menuju tempat Amanda supaya gadis itu tidak marah padanya nantinya.
"Kurang ajar banget tuh anak ya?. Bisa-bisanya dia takut sama dosen yang ngacam dia dengan ngasih nilai c?."
"Mau gimana lagi bro. Orang susah kek gitu bawaannya." Barata malah tertawa aneh, karena ia mengetahui bagaimana kondisi Arman yang sesungguhnya?. Apakah benar itu?. "Masalah nilai doang malah panik kek udah mau kehilangan nyawa aja." Barata malah merendahkan Arman yang di matanya tidak ada apa-apanya, tapi sangat menyebalkan di dalam hatinya. "Nanti ending nya jadi pengangguran juga tu anak. Biarin aja dia terlihat berjuang demi nilai yang tidak seberapa itu."
"Tapi kita belum ngasih dia hadiah apa-apa."
"Tenang aja lu kalau masalah itu. Entar kita pikirkan cara yang sangat tepat buat ngasih dia pelajaran yang tepat untuk ucapannya itu."
"Sip lah. Kali ini gua masih sabar. Moga aja kesabaran gua yang enggak hilang."
"Gue yang balikin kesabaran lu."
Keduanya masih memikirkan rencana yang tepat untuk menghancur kan Arman.
"Gue tahu dia itu cuma nipu kita supaya kita enggak ngincar amanda. Dia itu gak mau kita nyakitin amanda, gue yakin itu."
"Trus lu mau apa?."
__ADS_1
"Meskipun dia enggak jadian sama amanda?. Dekat aja sama amanda enggak bakalan gue maafin dia." Nicola belum bisa menghilangkan perasaan benci yang membuncah di dadanya saat itu. "Bagi gue amanda itu adalah cewek incaran yang gue jadiin mainan. Eh?. Tahu-tahunya dia hadir kek pahlawan kesiangan melindungi amanda dari target gue. Walaupun ada perasaan suka gue sama tu cewek."
"Kalau gitu kita cari cara buat misahin dia dari arman."
"Tentu saja itu harus."
Apakah yang akan mereka lakukan pada Arman selanjutnya?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi. Sementara itu Arman yang berhasil kabur dari mereka semua, akan tetapi saat itu ia kembali menghubungi ibunya.
"Apaan sih kamu arman?!." Bentuk ibunya dengan penuh emosi, hingga Arman terpaksa menjauhkan HP-nya dari telinganya jika tidak ingin tuli mendadak.
"Hehehe. Maaf ya bu?. Soalnya tadi itu tadi ada teman arman yang ngajak arman nongkrong." Arman hanya bisa tertawa saja ketika mendengarkan ibunya yang marah-marah di seberang sana. "Makasih udah nelpon arman ya bu?. Arman merasa tertolong banget."
"Emangnya mereka mau ngajak kamu main ke mana?. Enggak ngajak bolos kuliah, kan?."
"Ibu enggak usah cemas kalau itu." Arman dapat merasakan kecemasan yang dirasakan ibunya. "Arman udah bisa ngatasin itu bu. Mana mungkin arman bolos kuliah."
"Ya sudah kalau gitu. Kamu ini bikin ibu cemas."
"Hehehe. Sekali lagi maafin arman ya?."
"Ya, ibu maafin kok."
"Tadi itu ibu mau bilang ke kamu kalau pulang nanti jangan lupa mampir ke kantor, ayah keknya mau nitip sesuatu sama kamu."
"Ok bu. Nanti arman mampir ke kantor ayah."
"Terima kasih ya nak?."
"Sama-sama bu."
"Satu lagi."
"Apa lagi bu?."
"Jangan lupa jagain ayang bebkumu ya?. Calon menantu ibu. Jagain dia baik-baik di kampus ya?."
__ADS_1
"Hehehe. Kalau itu pasti bu. Ibu tenang aja, arman pasti akan menjaga amanda dengan baik-baik bu."
"Cakep. Anak ibu emang keren."
"Ah!. Ibu ini." Arman tersipu malu dengan ucapan ibunya. Jantungnya mendadak berdebar-debar dengan apa yang telah dikatakan ibunya.
"Ya sudah. Semangat belajar, semangat berjuang ya?. Assalamu'alaikum."
"Terima kasih ibu. Wa'alaikumussalam." Setelah itu panggilan berakhir dengan suasana hati yang sangat lega luar biasa. "Aku pasti akan melindungi calon, ah tidak!. Aku pasti akan melindungi menantu ibu dengan sangat baik." Dalam hati Arman telah berjanji akan melakukan semua dengan hati-hati, Karena ia tidak mau kehilangan Amanda.
"Kau harus berhati-hati. Sebab, masih ada satu musuh yang harus kau waspada!. " Sosok hitam itu memberikan peringatan pada Arman.
"Ya, tentu saja aku harus waspada. Tapi aku harus memiliki rencana yang tepat untuk melihat apa yang mereka rencanakan sebenarnya." Arman tidak ingin gegabah dalam bertindak.
"Kalau begitu segera temui amanda di perpustakaan. Aku merasakan ada yang tidak beres dengannya. Aku merasakan ada niat yang buruk yang akan menimpa dirinya." Sosok hitam itu sangat gelisah, ia merasa tidak nyaman sama sekali.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan segera ke sana." Arman segera melangkah menuju perpustakaan. "Amanda, semoga saja kamu baik-baik saja. Aku berjanji kepada Allah SWT yang telah memberikan aku kesempatan untuk melindungi kamu dari orang-orang yang berniat jahat sama kamu, hanya karena kau adalah satu-satunya orang yang dekat dengan aku." Dalam hatinya sangat takut kehilangan Amanda.
Apakah yang akan dilakukan Arman untuk melindungi Amanda dari cengkraman Nicola?. Barata?. Dan Wanda?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
Kembali ke perpustakaan.
Amanda merasa gerah juga menunggu Arman yang lama datang menjemputnya.
"Apaan sih?. Lama amat. Emangnya ada masalah apa dia sama nicola, barata?. Apa dia punya masalah pribadi yang enggak boleh aku ketahui?." Dalam hati Amanda merasa curiga dengan sikap Arman yang tidak biasa. "Hufh!." Ia menghela nafasnya.
"Kamu bosan ya?."
"Panas aja sih."
"Emangnya kamu lagi nungguin siapa?. Enggak masuk ke kelas?."
"Enggak nungguin siapa-siapa sih." Amanda tidak menjawabnya. "Di kelas pun bosan juga nungguin dosennya kadang datang telat." Amanda terlihat sangat cuek.
__ADS_1
"Oh?. Gitu ya?." Hanya seperti itu tanggapannya. "Gue tahu sebenarnya lu itu lagi nungguin arman di sini, kan?. Gue tahu itu." Dalam hati Wanda tersenyum kecil. "Soalnya gue tadi lihat lu sama arman yang keknya berusaha untuk menjauhi lu dari kedua temannya, jadi gue ikutin lu ke sini." Dalam hatinya merasa heran dengan sikap Arman yang seakan-akan sedang berusaha untuk melindungi Amanda dari ancaman bahaya. "Keknya arman menaruh perhatian yang berlebihan sama lu, teman sendiri aja dia enggak percaya. Tapi gue?. Dengan berteman sama lu?. Gue yang akan nyingkirin lu dari sisi arman." Dalam hatinya.
...***...