PENGULANGAN WAKTU

PENGULANGAN WAKTU
CHAPTER 22


__ADS_3

...****...


Arman sedang mengamati sekitarnya, ia sudah tidak tahan lagi dengan apa yang ia lihat saat itu. Banyak sekali cewek yang ada di sana menggunakan pakaian seksi, pakaian yang tidak pantas untuk seorang pelajar.


"Ini semua demi melindungi amanda dari mereka semua." Dalam hatinya mencoba untuk menguat itu semua.


"Loh?. Lu datang juga man?." Barata yang entah dari mana datangnya tiba-tiba saja duduk di sampingnya.


"Cuma penasaran aja." Arman sebenarnya tidak nyaman sama sekali berada di sana. Namun demi menjaga orang yang dekat dengannya ia harus melakukan itu apapun caranya.


"Gue enggak yakin lu datang cuma buat ini doang."


"Gue gak nyuruh lu percaya. Lagian rukun iman lu bakalan nambah kalo lu percaya sama gue."


"Njir, ni anak malah ngomong kek gitu."


Arman hanya menghela nafasnya dengan sangat lelah, ia harus berhati-hati dalam bertindak jika tidak ingin terjadi sesuatu pada Amanda?.


"Loh?. Mau ke mana?." Barata melihat Arman yang menuju keluar.


"Aku cuma mau keluar bentar aja." Balasnya. "Lama-lama berada di sini bikin mata gue sakit." Dengan sangat kesalnya ia berkata sepert itu.


"Alay banget sih lu." Barata juga sangat kesal dengan ucapan Arman yang seakan-akan mengejek apa yang telah ia lakukan.


Arman yang saat itu baru saja keluar tidak sengaja berpas-pasan dengan Amanda?. Entah kekuatan apa yang masuk ke dalam dirinya?. Akan tetapi pada saat itu ia menarik lengan Amanda membuat wanita cantik itu sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan Arman padanya?.


"Hei?!. Apa yang kamu lakukan padaku?." Amanda tentunya sangat terkejut.


Namun tidak ada tanggapan sama sekali dari Arman?. Karena pada saat itu jantungnya berdetak dengan sangat kencangnya, ia sangat cemas dengan apa yang ia rasakan saat itu.


"Lepaskan!." Amanda terpaksa mendorong kuat seseorang yang telah berani menarik tangannya. "Loh?. Arman?. Kok?." Amanda sangat terkejut ketika mengetahui siapa yang telah membawanya saat itu.


"Aku mohon kamu jangan masuk ke sana." Raut wajahnya terlihat sangat sedih.


"Loh?. Kenapa?." Amanda sangat heran dengan sikap Arman yang seperti itu.


Tanpa banyak bicara Arman malah menyeret tangan Amanda dengan sangat kuat.

__ADS_1


"Man?. Kamu kenapa sih?. Lepaskan aku!."


Lagi, tidak ada tanggapan dari Arman selain menyeret tangan Amanda dengan sangat kuat.


"Arman!."


"Diam kamu amanda!. Kalau kamu  masih banyak nanya?. AKu cium kamu di sini!."


Deg!.


Amanda tentunya sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan Arman, dan sorot mata itu terlihat sangat serius.


"Sebenarnya kamu mau melakukan apa sih man dengan ngajak aku pergi meninggalkan lokasi acara ini?." Dalam hatinya merasa sangat gelisah.


Arman benar-benar membawa Amanda pergi meninggalkan lokasi itu, ia hanya tidak ingin Amanda menjadi korban mereka semua?.


"Sudah banyak mahasiswi yang keluar dari kampus karena masalah hamil di luar nikah. Dan mereka semua adalah korban dari nicola dan barata yang menganggap diri mereka berkuasa karena uang. Aku hanya tidak ingin kamu mengalami hal yang sama." Dalam hatinya sangat tidak ingin Amanda mengalami hal yang serupa dengan mereka yang mengalami kemalangan nasib yang tidak baik.


Kembali pada Arman yang masa kini.


Arman telah ingat dengan apa yang telah terjadi ketika ia menyelamatkan Amanda dari mereka.


"Kalau begitu kau memang harus menggunakan wanda untuk mengalih perhatian mereka. Dan mereka harus melupakan kehadiran amanda sebagai cewek yang lebih cantik."


"Ya, wanda dia juga berniat jahat pada amanda. Jadi dia patut dijadikan tumbal dalam masalah ini."


Arman telah membulatkan tekadnya bahwa ia akan melindungi Amanda dengan cara apapun, bahkan jika ia harus mengorbankan orang lain demi melakukan itu semua.


...***...


Sementara itu di masa depan?.


Mereka telah mengumpulkan beberapa informasi yang sangat berguna untuk menyelamatkan perusahaan Arman dari Nicola dan Barata yang menggunakan perusahaan itu dengan cara tidak baik.


"Kita telah memiliki beberapa bukti untuk membuktikan bahwa memang mereka lah yang telah membunuh anak-anak kita. Mereka telah melakukan kejahatan yang tidak bisa dimaafkan."


"Ya, mereka lah yang telah membunuh anak kita. Saya tidak ikhlas arman dijadikan tersangka utama atas kematian menantu saya." Terlihat sangat jelas bagaimana emosional yang menguasai dirinya saat itu.

__ADS_1


"Kita sama-sama kehilangan anak yang sangat kita cintai oleh orang-orang yang tidak baik. Karena itulah, setelah mendapatkan perlindungan keadilan yang tepat kita akan melakukannya."


"Kita jangan sampai menundanya lagi. Aku yakin arman dan amanda tidak akan tenang selama kita menyerah begitu saja."


Mereka telah mencari kebenaran itu, dan menemukan fakta yang sangat menyakitkan jika anak mereka dibunuh oleh teman yang pernah dekat dengan Arman dan Amanda selama kuliah.


"Mereka dengan sangat kejamnya melakukan itu pada anak-anak kita hanya demi kepuasan semata."


"Ya, dari usia seperti itu saja mereka berani memikirkan hal yang sangat gila. Mereka telah gila dengan pikiran bejat yang dengan sangat mudahnya menghilangkan nyawa seseorang."


"Karena itulah kita tidak boleh memberi mereka ampun."


Dalam hati mereka pada saat itu sedang diisi oleh kegelisahan yang sangat dalam, kenyataan yang sangat menyakitkan tentang fakta apa yang telah menimpa anak mereka.


...****...


Kembali ke masa lalu.


"Kamu belum tidur man?." Azira melihat anaknya yang mengambil sesuatu dari kulkas.


"Ibu juga belum tidur." Ia ikut duduk bersama ibunya.


"Entah kenapa ibu merasakan kalau ada sesuatu hal besar yang sedang kamu lakukan." Ia menatap anaknya dengan tatapan lembut. "Apakah kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari ibu?."


Deg!.


Arman sedikit terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh ibunya. "Apakah ibu merasakannya?." Dalam hati Arman mulai waspada, karena ibunya adalah wanita yang sangat sensitif.


"Entah kenapa ibu sering banget mimpi. Rasanya setiap hari ibu bermimpi bahwa kamu sedang dalam bahaya, dan dalam mimpi ibu kamu itu meninggal karena dibunuh oleh teman kamu, gitu juga dengan amanda."


Deg!.


Arman semakin terkejut dengan apa yang telah dikatakan ibunya. Rasanya jantungnya benar-benar mau berhenti mendengarkan apa yang telah dikatakan ibunya.


"Ibu sangat cemas jika terjadi sesuatu sama kamu juga amanda." Sorot mata ibunya terlihat sangat sedih. "Ibu harap kamu dan amanda tidak melakukan hal yang berbahaya."


Arman mencoba untuk tersenyum walaupun itu terasa sangat menyakitkan. "Arman sedang berusaha melakukan terbaik ibu. Karena itulah arman minta do'a dari ibu supaya arman bisa melindungi amanda dari orang-orang yang berniat jahat padanya." Hatinya sakit, sesak.

__ADS_1


...****...


__ADS_2