PENGULANGAN WAKTU

PENGULANGAN WAKTU
CHAPTER 15


__ADS_3

...***...


Pukul 23.48


Arman baru saja sampai di rumahnya, ia benar-benar merasa sangat pusing. Apakah Arman mabuk?. Apakah yang terjadi sebenarnya padanya?. Sehingga saat itu ia sempoyongan?.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Jika saja ini tidak demi menyelamatkan amanda?. Mungkin hamba tidak akan melakukan ini." Dalam hatinya sangat sedih mengingat bagaimana mereka yang memaksanya untuk minum?. "Hamba mohon lindungilah kami dari orang-orang yang berniat buruk kepada kami ya Allah." Dalam hatinya tak henti-hentinya berdoa, dan berharap jika ia mampu menyelamatkan Amanda dari cengkraman orang-orang jahat.


Kembali ketika Arman dipaksa untuk minum.


"Coba dikit aja, entar lu ketagihan kok."


"Enggak, gue gak mau."


"Lu, pegang dia."


"Jangan paksa gue."


Arman telah berusaha untuk menepis tangan mereka yang menyentuhnya. Ia tidak ingin minum haram itu, akal pikirannya menolak minuman itu untuk menyentuh lambungnya.


"Cupu lu njir."


"Enggak mau."


Mereka semua masih saja memaksa Arman untuk meminum minuman itu?. Akan tetapi pada saat minuman itu hampir menyentuh bibir Arman dan masuk tenggorokannya?. Saat itu pula tanpa disadari sosok hitam masuk ke dalam tubuh Arman.


Deg!.


Arman sangat terkejut dengan apa yang terjadi padanya, ia seperti berada di sebuah dimensi yang tidak biasa.


"Tenang saja." Sosok hitam memeluk Arman dengan lembut. "Aku telah menggantikan mu untuk minum, jadi kau akan aman."


"Terima kasih mba." Arman sangat bersyukur karena sosok hitam melindunginya dari mereka karena bantuan Allah SWT. "Fueh!." Sosok hitam yang masuk ke dalam tubuh Arman sedikit terkejut, karena lidahnya terasa sangat ketir. "Sungguh, rasanya sangat tidak enak." Dalam hati sangat tidak suka dengan itu , hingga tubuhnya terasa menggamang.


Sedangkan Nicola dan kedua temannya yang lainnya malah tertawa melihat Arman yang seperti itu.


"Ternyata lu emang polos banget ya?. Lemah lu jing."


"Bisa-bisanya lu gamang baru minum beberapa teguk doang."


"Tambah lagi ni. Biar lu mulai terbiasa."


Mereka tertawa puas dengan keadaan Arman, dan bahkan dari mereka ada yang sembunyi-sembunyi merekam itu semua dengan raut wajah penuh kebahagiaan. Siapa lagi kalau bukan Barata yang dari tadi berada di ruangan itu tanpa bersuara hanya untuk merekam apa yang telah mereka lakukan di sana.


"Mampus lu. Video ini akan beredar dengan sangat cepat, gue jamin lu bakalan hancur karena masalah ini." Dalam hatinya merasa menang hingga saat itu ia menyeringai lebar sambil membayangkan bagaimana hancurnya hati Arman saat itu?. "Ini akan menjadi cerita hidup yang menarik nantinya di masa depan.


Kembali ke masa ini.


"Kamu mabuk nak?." Azira sangat cemas dengan kondisi anaknya.


"Maaf bu, arman cuma kebawa baunya aja. Arman enggak mabuk." Suaranya terdengar sangat lemah.


"Ya sudah, Kalau gitu kamu tidur aja. Istirahat ya?."

__ADS_1


"Terima kasih bu."


"Untung saja besok kamu tidak kuliah." Dalam hatinya sangat gelisah dengan kondisi anaknya. "Kamu ini jangan berteman dengan orang-orang sesat, jadinya kamu ikut sesat juga." Dalam hatinya tidak bisa membayangkan Jika anaknya akan berakhir seperti ini.


"Bagaimana keadaan anak kita bu?. Apakah baik-baik saja?."


"Alhamdulillah baik-baik saja ayah." "Syukurlah. Ibu sangat telaten mengurus arman." "Kalau begitu ayah istirahat juga, besok kita tanyakan apa yang terjadi sama anak kita."


"Baiklah ibu."


Sejenak mereka melihat Arman yang terbaring di tempat tidurnya. Hati keduanya sangat sedih dengan kondisi anak mereka yang sedang sakit.


Setelah Paginya. Arman mencoba untuk bangun, tubuhnya terasa sangat sakit. Begitu juga dengan kepalanya yang seakan-akan hendak berputar-putar.


"Astagfirullah hal'azim ya Allah." Dalam hatinya sangat gelisah.


"Apakah keadaanmu baik-baik saja?." Sosok hitam itu sangat cemas dengan keadaan Arman.


"Ya, lumayan. Tapi terima kasih karena mba mau membantu saya."


"Tentu saja aku akan membantumu."


"Saya tidak akan mengecewakan mba yang telah membantu saya sampai sekarang."


"Ini bukan saatnya untuk berterima kasih. Kamu harus memikirkan wanda. Aku yakin dia akan memikirkan cara untuk menyingkirkan amanda darimu."


Arman terdiam sejenak, ia memikirkan apa yang akan ia katakan pada sosok hitam itu. "Nicola dan barata merepotkan, ditambah wanda. Apakah karena perasaan cinta membuat saja sudah seseorang tega menyingkirkan orang lain?."


"Ya. Tentu saja, karena perasaan cinta itulah yang mendorong mereka untuk menyingkirkan kau, dan menyingkirkan amanda."


"Bagaimana jika wanda yang akan kita arahkan?. Kita ubah penampilan mereka yakin orang kaya hanya memandang wajah saja, saya sangat yakin mereka akan melirik ke arah wanda.


"Aku rasa itu patut dicoba.


"Ya, kita harus mencobanya."


Apakah akan berhasil?. Simak dengan baik kisahnya.


...***...


Pukul 9.46


Nicola dan Barata baru saja bangun setelah merasakan kembali tubuh mereka. Setelah mereka mabuk berat, pesta meriah karena berhasil membuat Arman dalam keadaan mabuk, dan mereka telah mengambil video itu dengan rekaman yang sangat bagus.


"Perut gue sakit banget njir." Nicola hampir saja muntah-muntah setelah merasakan ada tekanan di dalam perutnya yang hendak memuntahkan sesuatu.


"Lu sih, kelewatan banget mabuknya gara-gara lu kesenangan kali liat arman udah teler."


"Diam lu anjing. Gue juga maunya nahan diri, tapi karena gue kesenangan gue malah kebablasan."


"Dahlah, gue mau pulang dulu. Gue mau upload tu video di e-tube kampus. Mana tahu jadi viral, tu anak bisa dikeluarin dari kampus."


"Ide bagus."

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu mereka segera meninggalkan tempat itu, mereka yang sedang diisi oleh ambisi yang sangat luar biasa.


...**...


Di rumah Amanda.


Pagi itu ibunya Amanda baru saja pulang dari luar negeri. Namun saat itu ia melihat anak gadisnya yang sedang melamun, tentu saja itu menjadi tanda tanya yang sangat besar baginya.


"Loh?. Anak gadis pagi-pagi kok udah melamun?. Ada masalah ya?."


"Jangan-jangan kamu lagi ada masalah sama arman?." Ayah Amanda baru saja ikut bergabung dengan mereka.


"Apa benar?."


"Enggak kok bu."


"Terus kenapa malah melamun."


"Hanya heran dengan sikap arman bu."


"Loh? Kenapa dengan pacarmu itu?."


"Apakah dia sedang ada masalah?. Sehingga kamu tidak terlihat kecewa?."


Tentu saja mereka bertanya-tanya apa yang terjadi pada anak gadis mereka?.


"Arman sangat posesif sekali ayah, ibu. Bahkan aku tidak boleh berteman dengan teman-temannya."


"Loh?. Kok bisa?."


"Mungkin teman arman kelakuannya aneh, makanya dia melarang kamu untuk berteman denganmu."


"Benar juga yang dikatakan ibu kamu. Karena dia kenal dengan perangai teman-temannya, makanya dia melarang kamu untuk dekat-dekat dengan teman-temannya."


"Tapi waktu itu dia bahkan melarang aku dekat same wanda, teman cewek yang baru aku kenal di perpus." Kedua orangtuanya semakin tak merasa aneh, kenapa Arman malah bersikap seperti itu?.


"Alasannya?."


"Waktu itu dia si wanda malah menyebutkan nama arman. Tentu saja kami sangat cemas, arman sangat marah. Arman melarang aku berteman dengan wanda."


Ayah dan ibunya malah bingung, sehingga keduanya sama sekali tidak tahu harus merespon seperti apa.


"Aneh sih. Tapi ayah rasa arman memiliki alasan yang sangat kuat, kenapa dia melakukan itu. Nanti ayah tanyakan sama arman. "


"Ibu jadi penasaran dengan alasannya. Keduanya malah penasaran, sedangkan Amanda hanya menghela nafas saja.


"Semoga aja arman mau jujur kalau ayah sama ibu yang bertanya." Amanda hanya bisa berharap saja.


"Arman mungkin menunjukkan sikapnya sebagai calon suami yang baik, melindungi istirnya dari tangan jahil cowok mata keranjang."


"Bisa jadi seperti itu ayah. Arman sangat over sama anak kita bu."


"Ayah sama ibu jangan bikin karangan cerita romantis tentang arman. Aku malu mendengarnya."

__ADS_1


Kedua orangtuanya malah tertawa mendengarkan ucapan Amanda, mereka tidak menyangka Amanda malah semakin cemberut. Mereka tentu saja mengetahui apa yang telah terjadi pada antara Amanda dan Arman. Mereka selalu mengawasi percintaan yang dilalui anaknya.


...***...


__ADS_2