
...***...
Amanda sangat bingung ketika itu ia dipeluk dengan sangat erat oleh Arman. Namun pada saat itu jantungnya berdetak dengan sangat kencang karena ia tidak mengerti dengan perasaan yang ia miliki pada saat itu.
"Kita ini lagi di kampus. Apa kamu tidak malu dilihat oleh orang lain kita perlukan seperti ini?." Amanda berusaha untuk memperingatkan Arman bahwa mereka sedang berada di tempat umum.
Arman segera melepaskan pelukannya, tentunya ia sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh Amanda. Seketika itu wajahnya memerah karena menahan malu.
"Maafkan aku." Hanya kata-kata itu yang terucap dari bibirnya saat itu. Memang jika diperhatikan banyak pasang mata yang memperhatikan dirinya saat itu.
"Kalau begitu kita pergi dari sini." Amanda segera menarik tangan Arman agar pergi dari sana.
"Sial!. Rasanya aku sangat males sekali." Dalam hati Arman mencoba untuk menekan perasaan itu.
"Kamu itu lagi ngapain sih?. Kenapa tiba-tiba saja memeluk aku seperti itu?." Amanda benar-benar geregetan pada Arman yang bertingkah aneh saat itu.
Tapi setidaknya Arman sangat bersyukur karena ia bertemu kembali dengan Amanda di masa lalu. Sementara itu dari jarak jauh sosok hitam itu memperhatikan mereka berdua.
"Semoga saja kau bisa menyelamatkannya. Aku akan terus memandangmu dari jarak jauh. Aku akan selalu membantumu jika kau mengalami kesulitan nantinya." Itulah janji sosok hitam itu terhadap Arman.
...***...
__ADS_1
Di masa depan.
Dua hari telah berlalu. Saat itu mereka mendapatkan kabar bahwa Arman ditemukan dalam keadaan tewas. Pada saat itu Arman dalam kondisi yang mengenaskan. Setidaknya itulah gambaran masa depan yang terjadi pada Arman. Tentu saja kabar itu sangat menggembirakan bagi Nicola Andra dan Barata Jaya.
"Heh!. Dengan begitu kita bisa menguasai perusahaannya dengan aman dan damai. Rasanya indah sekali hidup ini mendapatkan hadiah yang sangat luar biasa." Nicola Andra percaya diri ia berkata seperti itu.
"Bukankah itu lebih bagus, karena persaingan antara kita tidak ada lagi. Terserah kau apakan perusahaan ini karena aku memiliki perusahaan sendiri." Barata Jaya seakan-akan tidak peduli dengan apa yang telah terjadi pada saat itu. "Bagiku kehancuran arman lebih penting dari segalanya. Begitu juga dengan kematian Amanda. Bagiku itu adalah hal yang sangat luar biasa." Ia merasakan kepuasan tersendiri di dalam hatinya saat itu. Karena dua orang yang sangat ia benci telah mati dalam keadaan yang sangat mengenaskan.
"Ya. Terserah kamu saja mau berbuat apa. Jika kamu memang tidak menginginkan perusahaan ini maka aku yang akan mengambil alih perusahaan ini sendirian." Nicola Andra tentunya dengan senang hati akan menerima perusahaan yang memiliki pemasukan yang sangat besar.
Berbeda lagi dengan Wanda.
"Entah kenapa rasanya aku tidak rela dengan kabar yang beredar itu. Memangnya siapa yang telah menyebar kabar aneh itu?." Ia malah bertanya pada dirinya sendiri?. Namun saat itu ingatannya tertuju kepada Nicola Andra dan Barata Jaya. "Aku yakin kedua orang itulah yang telah menyebarkan berita itu. Jika bukan mereka siapa lagi?. Karena hanya mereka berdua yang menginginkan kematian arman." Tanpa sadar pada saat itu air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya.
"Heh!. Aku ini sangat aneh sekali. Padahal aku adalah orang yang terlibat dalam kasus pembunuhan itu. Tapi entah kenapa rasanya dadaku sangat sakit ketika aku mendengarkan kabar berita tentang kematian arman. Jangan-jangan sebenarnya aku masih mencintainya?." Kembali dalam hatinya bertanya seperti itu?. "Aku ini sangat aneh sekali. Apa mungkin aku mulai gila?. Aku rasa aku memang gila. Mungkin karena aku gila makanya aku ingin membunuh arman. Mungkin karena aku gila makanya aku ingin membunuh amanda agar tidak bisa memiliki arman di dunia ini.?." Rasanya ada yang aneh dengan pikirannya saat itu. "Ahahaha!. Aku rasa aku memang gila!." Wanda mulai bertingkah ini, antara sadar dan tidak ia telah melakukan hal-hal yang aneh ketika itu. Saat itu batinnya sangat terombang-ambing karena apa yang telah ia lakukan pada saat itu.
Kembali ke masa lalu.
Pukul 7.53 malam.
Saat itu Arman berada di rumahnya. Sebagai seorang muslim, ia baru saja menyelesaikan salat isya. Dalam salatnya ia sangat berharap jika apa yang dilakukan pada saat itu tidak salah.
__ADS_1
"Ya Allah yang maha pengasih lagi mah penyayang. Ampunilah dosa hamba, dosa ayah dan ibu hamba. Sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangi hamba di waktu hamba kecil." Itulah doa pertama baginya. "Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Semoga saja apa yang terjadi kepada hamba ini bukanlah sesuatu yang sesat. Hamba hanya ingin menyelamatkan istri hamba ya Allah. Hanya kepadamu hamba berserah diri, berikanlah hamba kekuatan hati dan kekuatan iman untuk melalui ini semua. Aamiin." Dalam hatinya sama sedih atas kehilangan istrinya. Siapa yang tidak akan sudah kehilangan orang-orang yang sangat ia cintai?.
Namun saat itu sosok hitam yang mengantar Arman ke masa ini menghampirinya.
"Jangan pernah bimbang. Jangan pernah ragu. Jika kamu mengalami kebimbangan dan keraguan. Maka semua itu akan sia-sia." Sosok hitam itu duduk di tempat tidur Arman.
"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk melindunginya?. Aku sangat takut jika aku jauh darinya dia mengalami hal yang buruk." Dari wajahnya terlihat sangat jelas bahwa ia sangat mencemaskan Amanda.
"Karena itulah, aku membantumu untuk menyelesaikan masalah yang terjadi pada masa ini. Jangan sia-siakan kesempatan yang telah kamu dapatkan." Sosok itu sebenarnya merasakan kesedihan yang sangat dalam.
"Arman?. Apakah kamu berada di dalam nak?." Pada saat itu Bena Semanggi memanggil anaknya.
"Ada yah." Jawabnya.
Dan saat itu sosok hitam yang bersama Arman pergi menghilang entah ke mana, ketika ia melihat ayah Arman masuk ke kamar itu.
"Kamu lagi ngomong sama siapa nak?."
"Enggak kok yah. Arman sendirian di sini." Tentu saja Arman tidak bisa mengatakan kepada ayahnya apa yang telah terjadi. Sebab Harman telah berjanji tidak akan menceritakan bahwa dirinya berasal dari masa lalu.
...***...
__ADS_1