
***
Keesokan harinya. kampus. Tidak biasanya Arman begitu protektif pada Amanda. Pada saat itu bahkan ia menyuruh Amanda untuk menunggunya di perpustakaan ketika matanya melihat Nicola dan Barata.
"Aku mau bertemu dengan nicola sama barata. kamu tunggu aku di perpustakaan. Pokoknya jangan keluar dari sana sampai aku yang jemput kamu."
"Loh?. Kok?."
"Pokoknya tunggu aja aku di sana!."
"Tapi?."
"Amanda!."
Deg!. Amanda sangat terkejut ketika melihat bagaimana amarah Arman.
"Serah lah!." Amanda juga sangat kesal dengan sikap Arman yang tidak biasanya yang bersikap aneh seperti itu padanya. "Apa sih?. Gak jelas banget." Dalam hatinya sangat kesal dengan apa yang dilakukan Arman padanya.
"Hai bro!."
Deg!.
Arman sedikit terkejut mendengarkan suara Nicola yang menyapa dirinya dari arah belakangnya.
"Bro!. kemana aja lu?. Kok gak main ke tempat tongkrongan lagi?."
"Enggak, kemana-mana kok. Cuma ngerjain tugas kuliah aja."
"Tugas kuliah lu banyak terus-Kapan lagi lu main bareng sama kita."
"Kapan-kapan lah ya?. Soalnya minggu ini gue juga lagi banyak Kegiatan yang harus gue urus."
Pada saat itu Arman hanya sedang berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja, walaupun suasana hatinya saat itu sedang bergemuruh karena ingatan masa depan, atas apa yang telah dilakukan oleh keduanya. Hatinya Sangat sakit, bagaimana mereka telah menghancurkan kehidupannya.
"Lu kenapa man?. Lu kok pucat banget sih?. Belum sarapan ya?."
"Oh. Enggak kok. Mungkin karena lihat adegan berbahaya." Ucapnya sambil memberikan gestur yang tanda kutip, dewasa?. Tentu saja itu telah mengundang gelak tawa Nicola dan Barata yang tidak menduga sama sekali jika itu yang membuat Arman pucat?.
"Njir, pagi-pagi dah lihat adegan berbahaya lu sama amanda ya?. Dimana?."
"Etdah, malah penasaran lu ya?. Najis gue lihatnya."
Kembali Nicola dan Barata tertawa melihat raut wajah Arman yang sangat polos.
__ADS_1
"BTW, tu si amanda ke mana?. Bukannya lo udah jadian sama dia?."
"Dia katanya tadi mau main sama temannya dulu. Maklumlah urusan wanita." Arman sedikit gugup. "Gak mungkin gue jawab ke perpustakaan. Bisa gawat masalahnya nanti." Dalam hatinya harus tetap waspada dengan apapun yang akan dilakukan oleh Nicola dan Barata. "Emangnya ada ada lu berdua nyariin gue?. Ada urusan penting banget ya?." Arman ingin mendengarkan jawaban dari kedua temannya. "Gak apa-apaan sih. Cuma kita mau ngerayain hari jadian lu sama amanda, itu doang sih."
"Betul tu bro. kita tuh ikutan seneng kalo lu jadian sama amanda." Arman mulai waspada dengan bentuk kebaikan yang ditunjukkan Nicola dan Barata.
"Bisa jadi itu hanyalah jebakan yang mereka persiapkan untuk aku." Dalam hatinya mulai mencurigai gerak-gerik Nicola dan Barata,
"Ah!. Gak usah nic, bar. Lagian tu cuma gosip doang kami itu cuma teman biasa. Kebetulan aja rumah kami itu searah, orang tua kami saling kenal juga. Ya, jadi wajar aja sih kalau kami sering bersama. Tapi gak sampai jadian seperti yang digosipkan itu." Sebisa mungkin Arman harus menyembunyikan fakta itu dari keduanya. "Sebisa mungkin gue harus bisa menghindari aman dari incaran mereka." Dalam hatinya sangat kesal. "Aku harus mencari target yang tepat untuk menghindari ini. Amanda harus lepas dari incaran mereka." Dalam hatinya sangat takut.
"Ah!. Masa sih?. Gak percaya gue. Gak perlu malu-malu ngakuin itu bro. Lagian kita ini udah berteman sejak ospek. Masa lu masih aja nyimpan rahasia dari kita sih?."
"Enggak lah. Kan udah gue bilang. Lagian nih ya?. Amanda tu, menurut kalian gimana?."
"Amanda ya?." Mereka malah mikir berjamaah.
"Amanda itu b aja. Gak ada manis-manisnya kek air mineral."
"Nah?. Kan?. Terus?."
"Mukanya, datar banget kek keramik baru dilas."
"Tuh?. Apalagi coba?."
"Nah?. Kan?. Banyak lagi kekurangannya. Gue tu deketin dia cuma modal kasihan doang. Ya gak mungkin gue jadian sama amanda. Yang bener aja lah?." Arman berusaha meyakinkan mereka, apa yang ia rencanakan memang seperti itu.
"Hahaha! Ternyata lu brengsek juga aslinya ya?." Nicola tidak menduga, sama sekali.
"Gue gak nyangka lu ternyata kek gitu bro!." Barata bahkan ikutan tertawa.
"Ok deh. Kalau gitu lu ikut aja sama kami." Nicola tetap saja memaksa Arman untuk ikut.
"Eh!. Tunggu. Bentar lagi gue mau ngikutin jam kuliah." Arman sangat panik.
"Bolos sekali aja gak apa-apa." Sepertinya Nicola tidak terima dengan bantahan itu.
"Ikut aja, gak usah banyak membantah." Barata juga ikutan mendorong Arman agar ikut.
"Apaan sih mereka ini?." Dalam hatinya sangat panik, namun saat itu ia tidak bisa menghindarinya.
...***...
Amanda yang berada di perpustakaan. Saat itu ia mencoba untuk memikirkan apa yang sebenarnya yang dilakukan Arman.
__ADS_1
"Enggak biasanya arman seperti itu. Apakah terjadi sesuatu padanya?. Mungkin dia enggak mau aku diambil sama temannya?. Tapi itu enggak mungkin deh." Dalam hatinya merasa bingung sendiri dengan pikirannya. Namun matanya sedang melirik ke arah samping kanan, kiri, dimana kondisi perpustakaan yang sepi.
"Baca novel ya?. Biasanya aku enggak baca yang ini." Ia membolak balikkan halaman novel Itu hingga ia melihat kata-kata yang cukup menarik. "Seorang laki-laki yang kembali menjelajahi waktu demi menyelamatkan orang yang sangat ia cintai." Amanda sedikit tertawa ketika membacanya. "Apaan coba?. Imajinasinya garing banget. Rasanya itu terdengar lucu. Mana ada orang bisa kembali ke masa lalu hanya demi menyelamatkan orang yang dia cinta." Ia malah tertawa sendiri dengan apa yang ia baca. "Kalau ada itu cuma dongeng. Kek mana nasib orang lain yang terseret sama dia kalo dia itu kembali ke masa lalu?. Capek ah." Hampir saja ia tidak dapat menahan tawanya.
"Kamu baca novel apa?. Kok keliatan seru banget ya?." Tiba-tiba saja ada seseorang yang mendekatinya dengan senyuman yang Sangat ramah.
"Oh? Ini, novel yang aneh sih. Aku gak baca dari awal. Cuma baca halaman ini aja."
"Kalau kamu udah selesai membacanya, apa aku boleh minjam?."
"Boleh kok. Baca aja, lagian aku kurang suka bara novel." Amanda menyerahkan novel itu.
"Kamu baik banget ya?."
"Enggak juga." Amanda malah canggung.
Sedangkan Wanda saat itu terlihat sangat jelas memiliki niat yang sangat tidak baik pada Amanda yang masih sangat percaya dengan kebaikan seseorang?.
"BTW, kamu disini sendirian aja?."
"Ya sih. Seperti yang terlihat."
"Gimana kalau kita temanan aja?."
"Teman?. Kamu yakin mau jadi teman aku?."
"Iya dong. Maulah. Masa nanti pas wisuda aku gak punya teman sih?."
"Yau dah. Nama aku amanda, namamu siapa?."
"Namaku wanda. Kita temanan, kan?."
"Sip."
Amanda terlihat sangat senang karena mendapatkan teman baru yang baik, ia tidak menaruh curiga apapun pada seseorang.
Seperti itulah Pertemuan Amanda dengan Wanda, walaupun dulu berbeda.
"Ini adalah kesempatan yang sangat bagus bagiku." Dalam hati Wanda sangat senang karena berhasil mendekati Amanda. "Akan aku singkirkan kamu dari sisi arman untuk selama-lamanya. Arman hanya untukku, dan aku tidak akan pernah memberikannya pada orang lain." Dalam hatinya Wanda sedang memikirkan ide untuk menyelesaikan Itu semua.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah Wanda benar-benar memiliki niat untuk menyingkirkan Amanda dari Arman?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
__ADS_1