
...***...
Di sebuah tempat yang remang-remang. Ruangan yang minim akan pencahayaan, Wanda saat itu ia menyadari ada masalah yang sedang dihadapi oleh Arman. Ia sangat kesal dengan apa yang telah terjadi pada Arman karena melindungi Amanda dari Nicola dan Barata.
"Sepertinya nicola dan barata mencoba untuk menjatuhkan arman. Mereka ini memiliki perasaan cinta pada amanda?. Tapi kenapa malah nyakitin arman?." Hatinya sangat tidak terima dengan apa yang telah dilakukan Nicola dan Barata. "Apakah mereka sedang menguji kesabaranku?. Berani sekali mereka menyakiti arman!." Suasana hatinya saat itu semakin membuncah, ia sangat marah, ingin melakukan sesuatu untuk melindungi Arman.
"Jika mereka memang mereka suka sama amanda cewek jelek itu?. Kenapa mereka tidak langsung memberanikan diri untuk menyatakan perasaan mereka sama tu cewek buriknya ngalahin pembakaran arang batok kelapa untuk sate." Hatinya semakin bergejolak, ia kepal kedua tangannya untuk melampiaskan amarahnya yang terlanjur membuncah. "Gue gak akan biarin mereka untuk menyakiti arman!. Tunggu aja kalian semua!. Akan aku singkirkan kalian semua!." Teriaknya dengan penuh amarah, dan kepalanya terasa pusing memikirkan rencana apa yang akan ia gunakan. "Gue akan melindungi arman dan mereka, setelah itu baru gue singkirin dia dari sisi arman. Gue yang akan menyelamatkan arman dari masalah yang dia hadapi." Ia sudah tidak tahan lagi dengan semua pemikirannya. "Mereka ini semua sangat mengganggu aku untuk mendapatkan arman. Tapi yang harus aku lakukan sekarang adalah untuk melindungi arman dari niat jahat nicola dan barata." Ia mencoba untuk menenangkan dirinya agar dapat berpikir jernih untuk memikirkan ke arah mana ia akan bertindak selanjutnya.
...***...
Di rumah Amanda.
"Apakah itu artinya arman telah menetapkan hatinya untuk menyelesaikan macalahnya dengan mereka?. Baru setelah itu menjelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya?." Amanda mencoba menebak apa yang telah dijelaskan ayahnya.
"Bisa jadi seperti itu, jika dilihat dari sikapnya." Ayahnya terlihat seperti sedang membela Arman dari pada dirinya?.
"Tapi kenapa ayah sangat yakin?. Jika arman memang melakukan itu?. Emangnya ayah kenal dekat dengan arman?." Amanda terlihat masih kesal, dan kini ia malah kesal pada ayahnya yang terkesan sangat membela Arman dari pada dirinya?.
"Kamu juga, jadilah wanita dewasa yang dapat menilai dengan baik apa yang telah terjadi. Walaupun yang kamu hadapi itu sangat sulit dan menyakiti hati." Ernando kembali tersenyum lembut memberikan nasehat pada anak gadisnya. "Jangan selalu mengutamakan kemarahan, tapi bersikaplah dengan tenang supaya orang lain tidak mudah untuk menjatuhkan kamu di dalam menghadapi sebuah masalah." Ernando dengan hati-hati menjelaskan pada Amanda agar tidak salah faham. "Saat, ini arman adalah laki-laki yang memiliki niat yang baik untuk melindungi kamu dari orang-orang yang mungkin akan mencelakai kamu." Entah kenapa pada saat itu to dapat merasakannya, perasaan yang disimpan Arman. "Jadi ayah percaya, jika dia melakukan itu untuk kebaikan kamu. Hanya saja caranya yang membuat kamu marah sama arman, karena dia bingung mau menjelaskannya seperti apa nantinya."
"Ayah?" Amanda benar-benar kehilangan kata-kata saat Mendengarkan ucapan ayahnya. "Astagfirullah halazim ya Allah. Kenapa ayah malah lebih mengerti arman dari pada aku?. Apakah aku belum bisa menjadi wanita dewasa yang dapat menyelesaikan masalah dengan baik ya Allah?." Dalam hati Amanda Merasa sangat bersalah karena telah memikirkan hal-hal yang buruk tentang Arman.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu istirahat dulu. Kalau sudah mulai tenang coba bicara dengan arman secara baik-baik, ya?."
"Ya ayah." Amanda hanya nurut saja, ia merasa kalah dengan nasihat ayahnya.
"Nanti ayah mau jemput ibu kamu di bandara. Katanya mau pulang ke rumah ini, ibu kamu tu cemas masalah hubungan kamu dengan arman."
"Maafin aku, sampai buat ibu sering bolik-balik ke sini untuk memperhatikan aku belum juga bersikap dewasa untuk menyelesaikan masalah.
"Belajar memahami situasi memang sulit. Tapi dengan adanya masalah?. Ayah harap kamu lebih berhati-hati dalam bertindak dalam memahami situasi sebuah masalah, ya?. Supaya kamu tidak menerima hasil yang mengecewakan dengan sikap kamu. yang terburu-buru mengambil keputusan."
"Tentu saja ayah. Terima kasih telah memberikan nasehat yang baik ayah." Amanda merasa sangat terharu dengan apa yang telah diucapkan ayahnya.
Amanda hanya pasrah saja ketika ayahnya berkata seperti seperti itu. "Sepertinya aku benar-benar harus memahami arman dari siapapun juga." Dalam hati Amanda mencoba untuk meyakin dirinya, bahwa apa yang dilakukan Arman memang semata-mata demi kebaikan dirinya. "Aku harus belajar lebih banyak lagi mengenai sifat manusia yang memiliki pemikiran yang berbeda-beda." Dalam hatinya mencoba untuk menguatkan dirinya, serta memahami apa yang akan dilakukan Arman kedepannya bagaimana. Apakah yang akan dilakukan Amanda?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
Barata dan Nicola seperti mati rasa setelah memperlihatkan video itu pada Sanjaya. Mereka tidak menyangka akan melihat bagaimana dalam video itu terlihat dengan sangat jelas ke Nicola dan Barata yang telah mencekoki Arman dengan minuman haram itu. Dengan tawa yang penuh kemenangan keduanya memperolok Arman yang sudah tidak berdaya dengan apa yang telah mereka lakukan.
"Hahaha si anjing bodoh ini mau aja kita bodohi!. Lihat sekarang dia?. Benar-benar pengen gue bunuh sekarang!." Sangat jelas sekali ucapannya saat itu. Apalagi suasana hatinya sedang dikuasai oleh perasaan dengki yang sangat tidak biasa pada Arman.
"Haha! Lu jangan bodoh bro!. Jangan bunuh dia sekarang. Entar kalo kita udah puas buat dia menderita, dan gue berhasil mengambil amanda dari anjing ini!." Itulah yang ia pikirkan saat itu.
__ADS_1
Deg!.
Nicola dan Barata sangat terkejut mendengarkan ucapan mereka dalam video itu. Apakah benar mereka yang berkata seperti itu?. Apakah mereka tidak salah dengar?. Bahkan video belum berakhir begitu saja, dalam video tu sangat jelas bagaimana mereka dengan nafsu berpesta miras keduanya benar-benar sangat terlena merayakan kemenangan mereka atas apa yang telah Mereka lakukan pada Arman.
"Adegan itu sama persis dengan apa yang telah kamu unggah di e-tube!. Jadi kamu yang telah berbuat salah!." Sanjaya yang saat itu dikuasai oleh amarah dengan kesalnya menunjuk ke arah Barata.
"Tapi om-."
"Tapi apa?. Kamu yang telah merekam itu. Kamu yang mengarahkan kamera itu ke kalian!.. Jadi kalian masih ingin menghindar? Hah?." Emosinya benar-benar memuncak.
"Tapi memang tidak seperti itu. pa?."
PLAK!. PLAK!.
Saking emosinya Sanjaya melampiaskan amarahnya dengan memberikan tamparan yang sangat keras pada Nicola dan Barata yang masih saja berniat untuk membela diri?. Apakah mereka tidak memiliki urat malu lagi dengan mencoba melarikan diri dari apa yang telah mereka perbuat saat itu?.
"Harusnya kalian malu atas apa yang telah kalian lakukan!. Tapi kenapa kalian seperti anjing yang menggonggong kecut setelah dilempari batu kenyataan memalukan ini?." Sanjaya saat itu benar-benar sedang dikuasai amarah yang membuncah. "Kalian akan mendapatkan hukuman yang setimpal dariku nantinya." Hatinya sangat panas. "Sekarang kalian pergi dari ruangan ini sebelum aku bunuh kalian."
Nicola dan Barata terpaksa pergi dari sana karena takut dengan ancaman itu.
...***...
__ADS_1