PENGULANGAN WAKTU

PENGULANGAN WAKTU
CHAPTER 17


__ADS_3

...***...


Amanda dan Arman baru saja sampai dikampus, akan tetapi pada saat itu entah kenapa suasana Kampus hari itu sangat heboh dari yang biasanya. Apalagi ketika mereka masuk ke kelas, suasana di sana lebih heboh lagi. Tentu itu membuat keduanya saling bertatapan satu sama lain.


"Tumben banget makin rame sebelum memulai pelajaran ya?."


"Gak tahu." Arman juga terlihat sangat bingung.


"Eh?. Lin?. Kok tumben rame kelas kita?." Amanda medekati Elinda teman yang cukup dekat dengannya kecuali Arman.


"Lu liat aja e-tube. Lagi heboh video anak kampus kita yang upload video mabuk-mabukan."


Deg!.


Arman tentunya sangat terkejut mendengarkan itu. "Sial!. Emangnya siapa yang udah nyebarin video gue ikutan mabuk?." Dalam hati Arman sangat takut. Karena dua hari yang lalu tentunya itu adalah dirinya yang bersama Nicola dan Barata yang memaksanya untuk mabuk. "Apa yang harus aku lakukan jika amanda melihat ini?." Dalam hati Arman benar-benar putus asa memikirkan bagaimana tanggapan Amanda melihat itu. "Aku harap itu bukan video gue yang disebarin nicola sama barata." Dalam hatinya sangat berharap.


"Arman!."


Deg!.


Arman sangat terkejut mendengarkan suara Amanda yang menyebut namanya.


"Apakah karena alasan ini kamu melarang aku dekat dengan nicola dan barata?." Amanda memperlihatkan video Barata dan Nicola yang sedang mabuk.


Deg!.


Arman semakin terkejut melihat apa yang ada di dalam video itu. "Ini mah di luar angkasa dugaanku. Kok bisa ya?." Dalam hati Arman sangat bingung dengan itu?. Bahkan jantungnya sampai berdebar-debar tidak karuan saking takutnya jika ia masuk dalam sorotan video. "Tapi kok bisa aku gak ada dalam video itu?." Dalam hatinya masih bingung, akan tetapi pada saat itu matanya menangkap sosok hitam yang sedang tersenyum padanya. "Alhamdulillah ternyata itu adalah ulah si mba." Dalam hatinya merasa lega. "Alhamdulillah ya Allah, terima kasih atas pertolongan Mu ya Allah." Dalam hati Arman sangat bersyukur akan itu.


"Tapi kamu kok bisa temanan sama mereka kalau kamu udah tahu perangai mereka seperti ini?."


Arman gugup dengan pertanyaan itu, ia juga bingung mau menjawabnya. "Mungkin karena kenal dari awal masuk kampus, tapi aku enggak nyangka kalau mereka aslinya kek gitu" Hanya seperti itu saja yang bisa dijawab Arman.


"Kalau gitu kamu juga jangan berteman lagi dengan mereka, ya?."


"Gimana ya?. Aku-."

__ADS_1


"Arman!."


Deg!.


Arman sedikit terkejut dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Amanda, seakan-akan melarangnya masuk ke dalam dunia yang sangat bahaya.


"Kamu selalu melarang aku dekat dengan kedua teman kamu itu. Sekarang aku yang melarang kamu yang terus main dengan mereka!." Amanda terlihat sangat marah. "Aku enggak mau kamu yang rusak karena temanan sama orang rusak pula!."


"Siap nyonya." Arman hanya pasrah saja, ia juga tidak tega melihat ekspresi Amanda yang sangat tulus kepadanya.


'Sip!. Anak baik." Senyuman Amanda terlihat sangat manis, hampir saja Arman menerkamnya jika tidak ingat dengan tempat ia berpijak saat itu.


"Aku hanya tidak ingin kamu celaka karena mereka di masa depan akan membunuh kamu. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi amanda." Dalam hati Arman tetap waspada.


...***...


Sementara itu Nicola dan Barata sangat terkejut dengan apa yang telah mereka dapatkan?. Saat itu mereka menerima kenyataan yang pahit di dalam hidup mereka setelah melihat secara langsung bagaimana video yang telah di upload Barata yang tujuannya seharusnya menghancurkan Arman?. Tapi sekarang kenapa malah sebaliknya?.


Duak!.


"Bajing-an anjing lu!." Tak puas sekali Nicola memukul wajah Barata. Setidakny empat kali pukulan mendarat dipipi Barata, namun hatinya masih belum puas. "Anjing lu bangsat!." Teriaknya dengan penuh amarah yang membara. "Lu pikir lu hebat dengan upload video lu?. kenapa hasilnya kek gitu bangsat?!."


Barata hanya pasrah saja ketika Nicola yang terus menghajarnya?. Akan tetapi karena harga dirinya yang tinggi membuat ia harus melawan atas kekerasan yang ia terima dari Nicola.


Duak!.


Barata balik membalas pukulan itu dengan suasana hati yang panas. "Diam lu anjing!. Lu pikir gue editan amatir hah?" Teriaknya dengan penuh amarah!. "Gue udah sangat jelas yang ngambil video itu waktu dia udah tepar!. Lu sendiri udah liat gimana hasilnya, kan?!."


Saat itu mereka masih saling menyerang satu sama lain, hingga keduanya berhenti saling menyerang karena menyadari sesuatu yang menurut mereka sangat tidak masuk akal.


"Tinggi bentar bro." Barata agak bingung, namun sesekali ia merintih sakit karena pukulan dari Nicola. "Jangan-jangan arman cuma pura-pura mabuk?. Terus dia nyadar kalau kita yang mau merencanakan untuk mempermalukan dia?."


"Ya. Gue sangat yakin itu. Pasti dra udah tahu kalau kita mau bikin dia celaka!"


"Terus kita harus apa?.

__ADS_1


"Untuk sekarang gue urus masalah video yang udah terlanjur tersebar ini."


"Itu harus. Bisa mati gue kalau bokap sama nyokap gue sampai liat videonya."


"Lu tenang aja, videonya bakalan gue musnahin sampe enggak bersisa." Dengan langkah yang cepat Barata langsung bekerja menghapus Video yang telah terlanjur tersebar itu.


"Lu sih!. Kurang hati-hati pas upload tu video!. Lu mau bunuh diri?." Ia masih kesal. "Mata lu dah katarak pas upload tu video?."


"Njir. Gue udah sepuluh kali memastikan kalau video yang gue upload itu udah bener."


"Si anjing. Udah sepuluh kali tupi yang lu upload malah beda?. Emang parah lu anjing."


"Ya. Ini lagi gue perbaiki anjing!. Diam lu!. Berisik amat!."


Keduanya sangat panik, hingga ke tulang sumsum. Tidak menduga malah nge-prank diri sendiri?. Parahnya saat mengecek kembali video yang ambil hasilnya sangat beda. Dalam video mereka yang diambil Barata?. Memang sangat jelas itu adalah wajah Arman yang sedang meminum miras itu?.


"Bagaimana mungkin?. Kok bisa beda pas gue edit?."


"Jangan-jangan dia punya pawang dukun yang bikin kita semua salah lihat?."


"Trus gimana?. Lu mau nemuin dia?."


"Kita harus temui dia buat masalah ini."


"Ya, ayok."


"Kita harus cari masalahnya. Gue gak mau dipermainkan sama orang miskin seperti arman."


"Ya, kita hajar saja dia."


Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran mereka yang merasa dipermainkan ilusi. Seakan- akan takdir tidak ingin melukai Arman. Apa yang akan terjadi selanjutnya?. Simak dengan baik kisahnya.


Next.


...***...

__ADS_1


__ADS_2