
...***...
Di tempat tongkrongan.
Saat itu Arman sedang bersama Nicola yang akhir-akhir ini menunjukkan gelagat anehnya, dan kadang ia selalu berbaik hati pada Arman yang selalu diajak ke tepat nongkrong, walaupun pada saat itu Arman sebenarnya sedang mencari tahu apa yang direncanakan Nicola padanya.
"Dulu, ah apa ya?." Dalam hati Arman malah bingung sendiri. "Pokoknya dia sangat berbeda dari apa yang aku duga. Apakah karena aku dulu sering menolak jika dia ingin mengajak aku untuk nongkrong kek ginian ya?." Dalam hatinya sangat bingung dengan apa yang ia jalani ketika ia dulu?. Masa depan?. Sekarang?. Ah!. Arman jadi pusing sendiri dengan waktu yang ia hadapi saat itu.
"Hei!. Lagi apa?. Kok bengong sih?." Nicola menepuk pundak Arman, hingga membuatnya sedikit terperanjat terkejut.
"Oh?. Enggak apa-apa."
"Jangan grogi gitu, tenang aja. Rumah ini aman kok. Jadi gak ada yang bakalan tahu kalau kita lagi pesta miras di sini."
"Enggak, enggak. Aku enggak minum. Nanti asam lambungku kumat."
Nicola dan dua orang temannya malah tertawa mendengarkan apa yang telah dikatakan Arman, mereka malah tertawa ngakak sampai guling-guling.
"Lo pinter banget kalau memberikan lawakan yang sangat luar biasa itu."
"Gue gak nyangka kalau lu punya teman sekocak ini nic. Ahahaha!."
"Lu jangan bikin gua malu man. Ada-ada aja kelakukan lu ya?. Mana mungkin miras bikin asam lambung naik?."
"Hehehe. Abisnya gue kira emang gitu, soalnya abis minum-minum katanya bikin muntah-muntah, makanya gue pikir bikin asam lambung naik."
Mereka kembali tertawa dengan ucapan Arman yang sangat tidak terduga itu.
"Polos banget lu jadi cowok?."
"Jangan bilang lu baru kali ini kenal ni barang."
"Pasti baru kenal ni anak sama miras, trus lu nic?. Jangan bawa anak bawang ke sini, kalo cuma menghibur doang."
Mereka benar-benar menertawai Arman, namun ia tidak peduli sama sekali dengan itu, karena saat ini ia harus fokus dengan apa yang menjadi tujuan utamanya.
"Setidaknya kalian terhibur dengan kedatangannya, kan?."
"Iya sih."
"Apa-apaan mereka ini?." Dalam hatinya sangat tidak nyaman sama sekali dengan apa yang telah mereka katakan. Seakan-akan Arman adalah orang yang sangat mudah untuk mereka bodohi begitu saja.
__ADS_1
"Nah?. Sekarang coba sedikit aja."
"Ayo, coba sedikit."
Diko dan Beni semangat menawarkan miras itu pada Arman, namun Arman mencoba menghindarinya, karena ia takut mereka mencampurkan sesuatu pada minuman itu?.
"Sorry, gue gak minum."
"Dah lah, jangan terlalu polos. Coba sedikit aja."
"Minuman ini enak kok."
Mereka terus berusaha untuk membujuk Arman agar meminum minuman itu. Sepertinya mereka benar-benar merencanakan sesuatu pada Arman. Terlihat sangat jelas dari gelagat mereka yang sangat aneh dan semakin memaksa Arman untuk meminum itu.
...***...
Saat itu Amanda sedang berada di kamarnya, ia tampak kebingungan dengan sikap Arman yang akhir-akhir ini sangat menjaga batasnya di kampus. Bahkan ketika mereka pulang kampus dengan jadwal yang cepat?. Arman buru-buru mengantarnya ke rumah, dan melarangnya ke mana-mana jika tidak bersamanya?. Apa lagi ketika ia bersama Wanda saat itu, baru kali itu ia melihat Arman yang mengancam Wanda agar tidak mendekati Amanda?.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi padanya?. Dari sorot matanya itu terlihat sangat jelas bagaimana sikap itu sangat takut yang sangat mendalam, bukan sikap yang berlebihan alay seperti kebanyakan cowok lainnya. Akan tetapi itu adalah sangat murni dari keinginannya untuk melindungi orang yang sangat dia cintai." Entah kenapa ia dapat merasakan itu dari Arman, bagaimana Arman yang saat itu benar-benar memperlihatkan bagaimana dirinya.
Kembali ke masa itu.
Di perpustakaan kampus yang sangat luas hampir menyamai dua ruang kelas?. Baik, lupakan bagaimana kondisi kelas saat ini, tapi ingatlah bagaimana Wanda dan Amanda saat itu yang terlihat sangat akrab. Akan tetapi pada saat itu Arman datang dengan raut wajah yang sangat takut?.
Deg!.
"Ada apa arman?. Kok wajah kamu pucat gitu?." Amanda bingung dengan Arman yang tampak ketakutan.
Namun tanpa banyak bicara Arman malah menarik tangannya, memaksanya untuk berdiri di belakangnya, seakan-akan ingin melindungi Amanda dari sesuatu. Sorot matanya tampak sangat jelas bagaimana rasa takut itu menyelimuti dirinya.
"Ternyata wanda telah mendekati amanda lebih cepat dari apa yang aku duga." Dalam hati Arman mulai panik. "Amanda tidak boleh bertemu dengan wanda, apapun alasannya. Aku harus menjauhkan mereka dari titik ini. Aku takut dia mulai merencanakan sesuatu pada amanda tanpa aku ketahui sebelumnya." Dalam hati Arman tidak akan membiarkan itu sampai terjadi.
"Arman."
Deg!.
Amanda dan Arman sangat terkejut ketika Wanda menyebutkan nama Arman dengan sangat mudahnya?. Padahal mereka baru saja bertemu?. Bagaimana mungkin langsung kenal?.
"Bagaimana mungkin lu kenal dengan gue?. Padahal gue belum kenal sama lu?."
"Banyak alasan kenapa aku kenal sama kamu."
__ADS_1
Senyumannya terlihat sangat mencurigakan dari apa yang mereka duga, dan keduanya dapat merasakan bagaimana hawa yang tidak baik itu seakan-akan hendak membunuh keduanya.
"Apapun alasannya, lu gak boleh deketin amanda. Dan lu jangan cari-cari masalah sama gue, karena gue gak akan biarin lu menghancurkan hubungan gue sama lu hanya karena lu perlahan-lahan mau deketin pacar gue?. Setelah itu lu mau berbuat macam-macam sama pacar gue?. Gue habisin lu."
"Arman?." Amanda tidak menduga sama sekali, jika Arman akan berkata seperti itu?.
Sedangkan Wanda malah tertawa kecil mendengarkan apa yang telah dikatakan Arman, baginya itu terdengar sangat lucu, sehingga ia tertawa seperti itu. "Lu tenang aja, lu akan gue dapetin dengan cara yang lebih luar biasa."
Akan tetapi pada saat itu Arman langsung menyeret Amanda agar keluar dari ruangan perpustakaan, sehingga Amanda terlihat kebingungan dengan apa yang telah dilakukan oleh Arman.
"Kurang ajar!. Ternyata wanda udah gerak aja. Padahal aku ingin menjauhkan amanda dari nicola sama barata terlebih dahulu. Tapi siapa yang menduga jika dia juga bergerak." Dalam hati Arman sangat gelisah dengan itu. "Aku benar-benar harus waspada dengan apapun yang akan mereka lakukan padaku, juga pada amanda." Dalam hatinya sangat gelisah. "Pantas aja mba hitam nyuruh gue cepet-cepet ke perpus buat nolongin amanda dari ancaman wanda." Dalam hatinya masih ingat dengan ucapan sosok hitam yang selalu mengingatkannya akan keselamatan Amanda.
Plak!.
"Duh!." Arman sangat terkejut ketiak ia merasakan ada tangan kuat yang menggeplak kepalanya saat itu sehingga ia merintih sakit karena perbuatan tangan kasar itu pada kepalanya. "Amanda?!."
"Kamu nagapain sih?. Apa kamu lagi ada masalah?. Baru aja kenal dengan orang lain malah main ancam-ancam gitu?. Apa menurut kamu itu sopan?." Amanda terlihat sangat kesal. "Kamu punya masalah apa sama orang?. Gak jelas banget sih!."
"Dia itu adalah orang yang sangat berbahaya buat kamu jadikan teman, kamu gak boleh berteman sama dia."
"Lah?. Kok aneh?. Sejak kapan kamu larang-larang aku berteman dengan siapa aja?."
"Aku enggak akan melarang kamu berteman dengan siapa saja, tapi jangan sama dia!." Arman terlihat semakin marah. "Karena dia itu adalah orang jahat!. Apakah kamu tidak menyimak tadi?. Dia itu kenal sama aku!. Padahal aku enggak kenal sama sekali dengan dia!. Bahkan aku tidak pernah bertemu dengan dia!."
Tidak ada tanggapan dari Amanda karena pada saat itu ia sedang memperhatikan bagaimana kemarahan yang diperlihatkan Arman. "Aku enggak ngerti sama sekali." Dalam hati Amanda bingung mau menanggapi apa ucapan Arman saat itu.
"Pokoknya kamu enggak boleh ketemu sama dia. Apapun alasannya. Aku ngelakuin ini semua demi melindungi kamu dari orang-orang yang berniat jahat sama kamu."
Deg!.
Amanda sangat terkejut ketika Arman memeluknya dengan sangat eratnya, seakan-akan ia tidak ingin kehilangan Amanda untuk yang kedua kalinya dalam hidupnya. Perasaan itu benar-benar tersampaikan dengan sangat baik pada Amanda, sehingga Amanda sama sekali tidak bisa membantah dengan apa yang telah dikatakan Arman saat itu.
"Aku mohon sama kamu dengerin apa yang aku katakan. Aku enggak mau kehilangan kamu, aku ngelakuin ini semua demi kamu."
"Arman?." Dalam hati Amada sangat tidak menduga sama sekali saat itu ketika ia mendengarkan Arman sedikit terisak?." Kenapa Arman bisa menangis?." Dalam hatinya sangat bingung dengan apa yang telah terjadi, dan apa yang sebenarnya dirasakan oleh Arman saat itu.
Kembali ke masa ini.
Amanda dapat merasakan itu, dan ia tidak menduga sama sekali jika Arman akan menangis?. "Apakah arman mengetahui sesuatu?. Apakah ada sesuatu yang disembunyikan arman padaku sehingga ia bersikap sepert itu?. Aku harus membuatnya mengatakan sesuatu itu apa." Dalam hatinya sangat berharap jiak suatu hari nanti Arman akan berkata jujur padanya." Bukan hanya mengenai wanda saja yang harus aku hindari, bahkan kedua teman dekatnya nicola dan barata juga aku hindari?. Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dari aku arman?." Dalam hatinya sangat penasaran alasan kenapa Arman begitu sangat overtektif padanya?. Pasti ada alasan yang sangat kuat kenapa ia melakukan itu semua.
Next halaman.
__ADS_1
...***...