PENGULANGAN WAKTU

PENGULANGAN WAKTU
CHAPTER 19


__ADS_3

...***...


Kembali ke masa lalu.


Arman saat itu sedang bersama Nicola dan Barata di sebuah tempat. Entah kenapa pada saat itu ia sedang diadili oleh beberapa orang yang memiliki wajah gahar?. Nicola ternyata membawanya ke tempat papanya untuk meminta bantuan?.


"Apakah karena itu dia terlihat sangat percaya diri?." Dalam hati Arman sedang mengamati situasi yang akan ia hadapi saat itu.


"Aku enggak tahu tujuan kamu buat video ini untuk apa?. Tapi apakah kamu tahu apa dampak dari video ini?." Ia tampak tidak senang sama sekali.


Arman tersenyum kecil menatap seorang laki-laki dewasa yang tampak marah padanya. "Maaf om, ah maafkan saya pak. Maaf saya tidak sopan." Ucapnya dengan ramah. "Mungkin bapak boleh marah kepada saya mungkin karena ucapan anak bapak yang saya anggap sebagai teman?. Tapi diam-diam telah menusuk saya dari belakang."


"Anjing lu ya man?!."


"Tahan."


Barata berusaha untuk menahan Nicola agar tidak lepas kendali di hadapan papanya. "Tahan emosi lu. Jangan sampe lu kebablasan didepan nyokap lu sendiri." Bisik Barata.


"Apa maksud kamu bicara seperti itu?. Apa kamu mau memberi kesan yang buruk tentang nicola pada saya?." Kembali Arman tersenyum kecil.


"Maaf sekali lagi. Kalau begitu bar, aku minta kamu tunjukin sama kamu tunjukin video yang telah kamu ambil."


Deg!.


Barata sedikit terkejut dengan ucapan Arman yang terlihat sangat percaya diri. "Anak anjing!. Malah ngomong kek gitu dia?." Dalam hati Barata sangat kesal, namun sebisa mungkin ia masih menahan amarahnya.


"Jadi kamu yang ngambil video itu?." Sanjaya Sagara terlihat marah pada Barata.


"Lu kalau ngomong dijaga ya man?. Jangan sampai gue hajar lu."

__ADS_1


"Lah?. Kamu kok marah?." Arman malah tersenyum lebar. "Bukannya sudah jelas?. Yang punya akun itu kamu?. Yang ngambil video itu kamu?. Artinya kamu yang telah upload video itu di akun e-tube kamu?. Kenapa kamu malah menyalahkan aku?. Apa itu enggak aneh?."


Duak!.


Tanpa banyak bicara Barata yang sedang tersulut emosi langsung memukul wajah Arman dengan sangat keras. Sedangkan Nicola dan Sanjaya langsung berdiri dari duduk karena mereka sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan Barata.


"Gue emang pemilik akun e-tube itu! Tapi gue yakin lu yang udah membajak akun gue!. Bajing-an lu!." Ia tidak dapat lagi menahan amarahnya yang telah membuncah.


Arman mencoba menahan dirinya agar tidak terpancing amarah, walaupun suasana hatinya sangat greget melihat Barata yang semena-mena padanya. "Kalo gitu aku tantang kamu tunjukin video aslinya sama pak sanjaya. Kamu berani gak?."


"Diam lu anjing!." Amarahnya telah sampai puncaknya. "Gak usah banyak tingkah lu!. Akui aja kalo lu emang berniat mau jatuhin kami berdua!."


Sanjaya sedang mengamati bagaimana kedua anak muda yang kini sedang berdebat argumen mereka untuk membenarkan diri.


"Sebagai orang tua yang baik, saya mohon sama bapak agar melihat dan menilai dengan benar." Arman tersenyum ramah pada Sanjaya. "Saya tahu saya orang biasa, karena itulah saya memohon kepada bapak untuk menilai dengan baik. Karena saya percaya pada bapak yang merupakan orang terhormat akan melakukan hal yang terhormat pula."


"Papa?."


"Om?."


Barata dan Nicola sangat terkejut dengan ucapan Sanjaya pada saat itu.


"Kenapa papa malah bela dia?."


"Benar itu om?. Dia ingin menjatuhkan nama baik anak om. Beri dia pelajaran supaya dia sadar sedang berhadapan dengan siapa?."


"Benar itu papa. Dia itu adalah orang yang ingin menjatuhkan aku!."


Nicola dan Barata terlihat sedang emosi dengan apa yang telah dikatakan Sanjaya?.

__ADS_1


"Kenapa kalian terlihat sangat panik?. Jika memang aku yang salah karena telah menjatuhkan kalian?. Maka buktikan pada pak Sanjaya dengan cara yang jantan." Arman malah balik menantang mereka. "Jangan bersembunyi dibalik nama besar orang tua hanya untuk menyembunyikan kesalahan yang telah kalian lakukan."


"Diam lu anjing."


Barata dan Nicola benar-benar terbawa amarah mendengar kan ucapan Arman.


Sanjaya yang melihat itu sangat terkesan. "Dia adalah adalah anak muda yang hebat dalam mental dan persiapan yang sangat matang untuk melawan musuhnya." Dalam hati Sanjaya sangat kagum dengan apa yang telah dilakukan Arman. "Aku yakin dia akan menjadi pemuda yang hebat suatu hari nanti." Entah kenapa ia sangat yakin dengan itu.


...***...


Amanda baru saja sampai dirumahnya, ia sangat kesal pada Arman yang sudah dua kali mengusirnya dengan cara membentaknya.


"Loh?. Anak ayah kok pulangnya pake mobil arman?. Kok bisa?." Ernando sangat heran dengan kedatangan anak gadisnya.


"Aku lagi kesal sama arman yah!. Dua kali dia ngusir aku."


"Lah?. Kok aneh?." Ernando semakin heran dengan Ucapan anaknya. "Duduk dulu. Jangan mudah emosi kayak gitu. Nanti sama-sama kita tanyain alasannya ya?." Ia berusaha untuk menenangkan anaknya agar tidak mudah terbawa amarah.


"Abisnya aku kesal banget sama dia ayah. Selalu aja melakukan hal-hal yang membuat aku sakit hati ayah." Amanda hampir saja menangis dengan ucapannya, hatinya sangat sakit dengan sikap Arman yang seperti itu padanya.


"Masalah dalam percintaan itu biasa. Apalagi masa pacaran." Ia hanya tertawa kecil melihat anaknya yang kalut masalah percintaan?. Sangat lucu sekali. "Masalah akan membuat kamu menjadi dewasa untuk menyelesaikannya, atau kamu akan lebih melarikan diri sambil menunggu masalah itu akan reda dengan sendirinya."


"Apa maksudnya itu ayah?." Amanda tidak mengerti sama sekali dengan apa yang telah dikatakan ayahnya.


"Menghadapi sebuah masalah membuat kamu akan menjadi orang dewasa yang sempurna." Dengan hati-hati ia mencoba untuk menjelaskannya. "Ada kalanya tidak semua keindahan hidup kamu dapatkan tanpa adanya masalah. Karena kamu berhadapan dengan manusia yang memiliki pandangan yang berbeda-beda." Ernando tersenyum kecil Menatap anak gadisnya. "Baik itu pandangan, pikiran, serta alasan kenapa dia melakukan itu. Tentunya sudah dia pikirkan dengan matang." Lanjutnya. "Untuk masalah resiko akan dia sampaikan secara tepat jika kamu, dia telah mencapai tujuan utamanya."


Untuk sesaat Amanda terdiam mendengarkan ucapan ayahnya. Apakah memang seperti itu?. Amanda mencoba memikirkan apa yang telah dijelaskan oleh ayahnya dengan kepala dingin?. "Tapi kenapa harus seperti itu ayah?." Amanda masih bingung dengan itu. "Apakah dengan menyakiti perasaanku itu baginya adalah hal yang benar?. Apakah dia tidak memikirkan perasaanku yang sakit dengan sikapnya yang seperti itu?." Sungguh, hatinya sangat sakit dengan apa yang telah dilakukan Arman padanya saat itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2