
Dua hari berlalu semenjak Bella mengetahui semuanya, wanita cantik itu selalu menghabiskan waktunya bersama dengan Kenzo putranya. Dia sangat bersyukur karena Kenzo selamat meski dirinya penyakitan.
“Mata kamu mirip dengan, Mama. Tapi, hidung dan alis kamu miriop dengan, Papa. Maafin mama ya, Sayang. Karena MAma gak bisa pertahanin papa kamu di sisi kita. Maaf kalau kamu harus tumbuh dengan mama tunggal!”
Bella berusaha menahan tangis nya ketrika melihat Kenzo sedang bermain mobil-mobilan di lantai kamarnya.
Awalnya Bella tidak tahu bahwa Kenzo selamat, namun Om Yogi yang menceritakannya membuat Bella menangis haru.
Anak yang di kandungnya itu ternyata selamat meski selama beberapa bulan harus di rawat. Orang tua Bella merasa sangat senang dan sedih melihat Bella yang sudah mengingat kembali kepingan masa lalunya.
Mereka sedih karena pastinya Bella akan meratapi nasib pernikahannya yang hanya seumur jagung. Benar saja, saat ini Bella kembali meneteskan air matanya.
“Janda adalah status ku saat ini,” gumam Bella dengan nada yang lirih.
Dia merasa sangat sedih karena pernikahannya tak sama seperti kedua orang tuanya yang bertahan sampai sekarang, bahkan kedua orang tuanya sangatlah harmonis.
Dia lahir dalam keluarga di mana semua laki-lakinya setia pada istri. seperti sudah menjadi adat di mana kesetiaan menjadi hal yang wajib bagi mereka.
“Bahkan, Om Leo yang playboy menikah dengan tante Ara karena dijodohkan, tapi Om Leo mampu setia dengan menerima Tante Ara apa adanya. Tapi …”
Bella menutup matanya karena tak sanggup lagi melanjutkan perkataannya. Mungkin siapa pun yang berada di posisi Bella juga akan menangis.
Dikhianati itu benar-benar menyesakkan dada, apalagi dengan status nya yang janda dengan usia yang masih terbilang muda.
Untungnya Bella tinggal di mension besar, coba kalau dia tinggal di desa, maka pasti akan banyak cibiran yang ia dapatkan.
Banyak yang berpikir bahwa status janda adalah aib, apalagi Bella janda muda. Pasti nantinya akan banyak pria mata keranjang yang menganggap Bella murahan.
“Huwaa …”
Bella segera membuka matanya, terkejut mendengar suara tangis anaknya. Bella segera turun dari atas ranjangnya menghampiri Kenzo yang sedang memgang mobil mainan rusak.
__ADS_1
“Sayang … kamu kenapa, Nak?” tanya Bella dengan suara parau.
“Tatak, bil … lusak (kaka, mobilnya rusak).”
Kenzo berbicara dengan aksen anak kecil, bocah itu masih dalam fase belajar berbicara sepatah dua kata.
Balita itu belum bisa memanggil Bella mama, meski sudah diajarkan, karena biasanya Kenzo memanggil Bella kakak.
“Bukan, Kakak. Tapi, Mama!” ujar Bella serak berusaha mengajarkan putranya lagi.
Dia merasa sedih karena sampai saat ini putranya itu masih saja memanggil dirinya dengan panggilan kakak.
Dia yang mengandung dan melahirkannya, Bella sangat ingin mendegarnya.
Namun, nihil. Kenzo tetap memanggil dirinya kakak dan menangis karena mobil mainannya rusak.
Bella yang sepertinya terkena sindrom baby blues pun ikut menangis karena tak tahu bagaimana membuat putranya diam.
Bella juga merasa kesal karena Kenzo sudah dua hari di ajari memanggilnya mama, namun Kenzo belum bisa dan terbiasa.
“Sudah mama bilang panggil mama, bukan kakak. Ini mama yang udah mengandung dan melahirkan kamu!”
“Yang kamu panggil mama dan papa itu Oma dan Opa kamu … kamu ngerti gak sih gimana perasaan mama saat kamu panggil kakak, Kenzo!”
Bella meninggikan suaranya membuat Baby yang berada di kamar sebelahnya pun bergegas ke kamar Bella.
“Stop! Berhenti membentaknya, Kak. Dia masih anak-anak, jangan di paksa memanggil kakak dengan panggilan, Mama. Karena selama ini mama kita yang udah ngerawat Kenzo saat masih merah!” bentak Baby segera menggendong Kenzo berusaha menenangkan keponakan tersayangnya itu.
“Kamu gak tahu gimana perasaan aku, Baby!”
“Aku tahu!”
__ADS_1
“Enggak, cuma aku yang tahu karena kalian semua gak pernah ngerasain di posisi aku sekarang! Kalian hanya bisa memberi nasehat aku harus ini itu, sedangkan aku yang melakukannya susah!”
Bella menjambak rambutnya sendiri karena merasa stress dan frustasi dengan masalah rumah tangganya dan Reynal yang kandas dengan cara tak baik.
‘mama, papa, please! Cepat pulang. Kak Bella seperti sedang kerasukan jin tomang,’ batin Baby takut melihat Bella histeris.
Gadis itu segera berlari membawa Kenzo masuk ke dalam kamarnya tak lupa Baby mengunci pintu kamar.
Sedangkan di sebelahnya Bella sedang menggila karena beban yang di pikulnya itu sangat tak sesuai dengan umurnya.
“Akkk … kenapa harus aku?” Bella menjerit menghancurkan semua barang yang berada di dalam kamrnya.
“Halo, Pa. Cepat pulang! Kak Bella harus di ruqyah eh maksudnya di bawa ke psikiater!” ujar Baby menelpon sang ayah.
*
*
*
Mungkin yang merasa dikhianati oleh pasangan pasti tahu bagaimana berada di posisi Bella saat ini. Apalagi usianya msih sangat muda tekanan batin pasti berat. Tidak mudah juga melupakan karena yang namanya luka pasti akan membekas, bedanya luka fisik bisa dihilangkan dengan obat.
Sedangkan, luka batin selamanya akan membekas. Yang namanya memaafkan itu sulit, tapi lebih sulit melupakan.
Orang yang trauma pasti juga tahu seperti apa berada di posisi Bella. Tapi, ada juga yang menganggap nya lebay.
Jangan pernah abaikan dan anggap remeh tekanan mental orang lain, karena kita tidak tahu bagaimana menjadi orang itu. Kalau ada temen atau saudara yang curhat, sebisa mungkin memberikan solusi, kalau tidak bisa cukup menjadi pendengar terbaik.
Jangan mengkritik kamu yang salah, kamu yang lebay dan bla bla segala macam, karena itu akan menyakiti perasaannya.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like komentar vote dan rate 5 yah kakak.
Salem Aneuk Nanggro Aceh 🥰🥰😇