
Reynal pulang dengan tangan kosong tanpa membawa apa-apa, pria itu datang sendiri dan pulang pun sendiri. Dia menatap rumah Bella dari arah spion depan mobilnya. Pria itu menghela nafas berat karena sangat sulit meluluhkan hati Bella yang sudah sangat keras layaknya batu.
"Aku gak bakal nyerah gitu aja, Bell. Aku akan tunjukkan kalau aku benar-benar menyesal sudah mencampakkan kamu dulu, dan saat ini kamu yang balok menampakkan aku."
Reynal bergumam pelan menahan sesak di Ulu hatinya. Pria itu melakukan mobilnya pergi meninggalkan pelajaran rumah Bella.
*
*
Setelah kepergian Reynal, Bella keluar dari kamarnya menuju kamar Baby karena ingin bertemu dengan putranya. Ada rasa bersalah karena telah membentak putranya.
"By, apa Kenzo udah tidur?" tanya Bella pelan pada Baby yang sedang menggendong Kenzo seraya menepuk bokong putranya.
"Gak tahu, coba lihat!" Baby membelakangi Bella agar kakaknya itu bisa melihat wajah Kenzo. Wanita bertubuh mungil itu terkekeh kecil ketika melihat sang anak yang sudah sayu matanya seperti sedang ingin tidur.
"Belum, sini biar aku yang tidurin dia dalam ayunan!" pintar Bella membuat Baby sedikit ragu karena takut Bella nantinya memarahi Kenzo.
"Tenang aja, aku udah sadar! Sekarang aku gak bakal marah lagi sama, Kenzo."
Bella berkata seolah tahu keraguan Baby. Mau tak mau Baby harus memberikan Kenzo pada Bella. Bocah balita itu tak menolak karena memang sudah sangat mengantuk.
Bella meringis pelan karena tangannya yang terluka akibat memukul meja kaca tadi. Tetapi, rasa sakit itu tak membuat Bella urung niat karena memang dia ingin menidurkan putranya, sebab merasa bersalah.
__ADS_1
Bella membawa Kenzo ke kamarnya karena memang mereka setiap malam tidur berdua dan sudah ada box bayi yang bisa di ayun agar Kenzo nyaman.
"Maafin, Mama. Tadi, Mama gak sengaja bentak kamu, Sayang! Mama masih muda dan masih labil, di tambah kejahatan papa kamu yang buat mama stress mikirinnya."
"Tapi, Mama janji, akan menjadi mama tunggal yang baik dan dewasa untuk kamu."
Bella tersenyum tulus saat melihat Kenzo tertidur dalam box bayi dengan wajah yang tampan dan imut.
*
*
Beberapa hari kemudian, Bella merasa sangat bahagia karena hari ini adalah hari wisuda nya. Meski dia lulus atas bantuan sang ayah, Bella tak merasa malu, karena dia tahu kalau dia telah berusaha dan memang dosen nya saja yang terlalu perfeksionis.
"Tentu kamu lulus, Sayang. Semua ini karena kuasa, Papa kamu. Coba aja papa gak ada kuasa, pasti saat ini kamu masih sibuk ngurus skripsi!" celetuk Bilqis mama Bella dengan santai membuat senyuman Bella dan Kemal luntur seketika.
"Ma, jangan jujur-jujur kali. Nanti kalau ada yang denger bisa digebukin massa kitanya!" Kemal berisik pelan membuat Bilqis langsung melihat kiri kanan.
Dia menelan ludahnya karena sangat banyak para orang tua dengan pakaian terbaiknya hadir ke acara wisuda. Ada yang memakai pakaian polisi, jas, dan peci haji.
Bilqis langsung menganggukkan kepalanya lalu menutup bibirnya rapat.
"Rahasia aman!" bisikan Bilqis pelan.
__ADS_1
Lalu mereka kembali berfoto-foto dengan wajah yang bersinar. Kenzo dan Baby tidak ikut karena Kenzo masih belum diperbolehkan keluar dari rumah.
Sebab, mereka tidak ingin Reynal tahu keberadaan Kenzo. Seorang pria tampan berbalut jas dengan kacamata bertengger di batang hidung nya datang menghampiri Bella.
"Permisi!" sapa pria itu dengan suara dingin nya membuat Bella dan orang tuanya langsung menoleh ke samping.
Bella mengernyitkan dahinya di kala yang menyapa nya itu tak lain tak bukan adalah dosen killer yang menolak skripsi nya.
"Pak Dika!"
*
*
*
Maaf author telat up ya kakak. Ayo kerja sama yok, author up, kakak reader like komentar dan vote. Biar novel ini makin naik. Sebab, penulis dan pembaca itu partner. Gak boleh ada yang sombong salah satunya karena keragaman akan hancur. 🥰🥰😇😇
Bersambung.
Jangan lupa like komentar vote dan rate 5 yah kakak.
Salem aneuk Nanggroe Aceh 🥰🥰
__ADS_1