
Kemal dan Bilqis yang sedang belanja kebutuhan bulanan pun terkejut mendengar telpon dari Baby. Mereka memang yang sering belanja bulanan karena Bilqis dan Kemal menyukai hal itu berguna untuk mengenang masa awal-awal pernikahan mereka yang dulu.
“Ya Allah, Hubbie! Kenapa bisa Bella seperti itu?” Bilqis merasa khawatir dan gelisah ketika mengingat putrinya yang sedang histeris di rumah.
“Mungkin karena dia tertekan saat mengingat masa lalunya, Sayang. Wajar saja karena Bella sembuh selama 2 tahun perawatan, dia pasti baru ingat kejadian 2 tahun sebelumnya sekarang!”
Kemal mengepalkan tangannya erat, pria paruh baya itu kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena ingin segera menemui putri sulungnya.
Saat tiba di rumah, tanpa memperdulikan barang belanjaan mereka di dalam mobil. Keduanya segera turun dan berlari masuk ke dalam rumah menuju kamar Bella.
Mata Kemal dan Bilqis melebar saat melihat Bella yang menangis memeluk lututnya sendiri. Kamar Bella sangat berantakan dan mereka khawatir ketika melihat telapak tangan Bella yang berdarah.
Itu terjadi karena sebelumnya Bella menghancurkan meja kaca dengan tangannya sendiri untuk meluapkan emosinya yang tidak stabil, dikarenakan stress yang berlebihan.
Bayangkan saja Bella gadis yang selalu di sayang oleh keluarganya dan memiliki banyak teman baik, namun tiba-tiba mengalami penyakit mematikan. Lalu dijodohkan dengan pria yang ia cintai.
Berharap bahwa dengan menikah dia bisa berbagi rasa sakit dan ceritanya pada suaminya. Tetapi, harapan tak sesuai kenyataan.
Takdir begitu kejam karena suaminya terang-terangan berselingkuh dan mengungkapkan perasaan cinta nya pada selingkuhannya di hadapan Bella.
Lalu dia berobat selama dua tahun, tanpa mengetahui keberadaan putranya, dan sekarang putranya memanggil dirinya kakak.
“Sayang, apa yang kamu lakukan?” Bilqis menangis berlari segera memeluk putrinya.
Sedangkan Kemal segera menghubungi Dito sahabatnya yang bekerja sebagai dokter.
__ADS_1
“Mama … kenapa harus aku? Sakit, Ma. Hiks … aku capek dengan cobaan yang bertubi-tubi. Kenapa aku gak bisa bahagia seperti wanita lainnya?”
“Padahal aku orang baik … hiks … aku gak pernah kasar sama orang, aku gak pernah jahat, aku selalu patuh sama orang tua. Tapi, kenapa aku … hiks … capek jadi aku, Ma!”
Bella menumpahkan semua rasa sesak yang ia rasakan, wanita cantik itu memukul dadanya yang terasa sesak seperti di hantam oleh batu besar.
Bilqis dan Kemal yang mendengarnya merasa hancur, mereka seperti tidak berguna menjadi orang tua karena tidak bisa membahagiakan anak mereka.
“Sayang … jangan ngomong gitu!” balas Bilqis dengan suara parau seraya menghapus air mata Bella.
Orang tua adalah garda terdepan sang anak yang akan melindungi sang anak mati-matian, rela hancur demi sang anak. Namun, saat melihat sang anak hancur karena takdir, mereka tak bisa berbuat banyak.
“Rasanya aku mau jadi anak kecil lagi, Ma! Dulu sebelum dewasa aku gak pernah sakit hati begini, semuanya sayang sama aku dan aku selalu tersenyum tanpa beban, walaupun aku nangis itu karena mainan ku rusak.”
“Dulu aku selalu bilang ingin cepat-cepat dewasa, tapi saat udah dewasa, ternyata nggak enak! Banyak beban dan tekanan sana-sini yang harus aku sendiri hadapi.”
Bella menangis seperti anak kecil yang mengadu pada ibunya karena mainannya rusak.
Memang lelah menjadi orang dewasa, setiap manusia pasti merasakan fase di mana mereka ingin kembali menjadi anak-anak yang tak memiliki beban hidup sedikitpun.
Di mana kala itu setiap senyuman yang terpasang tampak tulus tanpa adanya rasa sakit. Dulu bila menangis cukup dengan di belikan es krim oleh orang tua sudah bisa kembali tersenyum.
Tapi, sekarang?
semua telah berbeda. Semakin tinggi pohon maka akan semakin tinggi angin yang menerjangnya.
__ADS_1
“Hey, putri kecil, Papa! Gak boleh ngomong gitu … kami semua sayang banget sama kamu! Semua keluarga besar Lubis, Lemos, Sanjaya dan Dicaprio menyayangi kamu.”
“Kamu punya banyak saudara, berbeda dengan mereka yang di luaran sana.”
“Kuatkan punggung kamu, luaskan rasa sabar kamu, dalamkan rasa syukurmu. Ingat! Setiap manusia itu sedang tidak baik-baik saja karena mereka memiliki cobaan hidup masing-masing. Tujuan semua manusia itu sama, hanya jalan mereka saja yang berbeda!”
Kemal ikut memeluk Bella dan Bilqis dengan erat. Kedua wanita itu menangis sesegukan dalam pelukan Kemal. Sedangkan, pria paruh baya itu harus bisa menahan tangisnya.
Dia harus kuat demi menjaga keluarganya.
Suara ketukan pintu membuat mereka sadar dan segera melepaskan pelukan tersebut.
“Boleh aku masuk?” tanya Dito khawatir melihat Bella.
“Silahkan, Dit!”
*
*
*
Author terharu baca komentar kakak semua yang pernah di khianati, percayalah kalian adalah orang-orang hebat yang di pilih Allah untuk melewati ujian yang susah.Tetap semangat, yakinlah Allah itu selalu bersama dengan orang-orang yang sabar.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like komentar vote dan rate 5 yah kakak.
Salem Aneuk Nanggroe Aceh