
Langit sore mulai meredup, matahari perlahan kembali ke peraduannya. Sisa sinarnya masih menyelinap diantara rimbunnya pepohonan hutan Woud. Jajaran pohon pinus yang menjulang menciptakan suasana mencekam dengan lolongan serigala yang mencari mangsa di kegelapan malam.
Seorang lelaki muda berlari dengan tergesa-gesa, wajahnya pucat pasi dengan peluh sebesar biji jagung mengucur deras di sana. Napasnya terengah-engah. Sesekali ia menengok ke belakang berharap seseorang atau sesuatu yang mengejarnya tidak mampu menangkapnya.
Sebuah anak panah melesat hampir mengenainya. Aliran sihir berwarna biru meletup di tepat mengenai pohon yang ia lewati berkali-kali. Teriakan dan umpatan seseorang yang merapal mantra bergema dari kejauhan.
Kakinya yang lincah dengan mantap menghindari akar-akar pohon yang menyembul, melompati bebatuan besar hingga jatuh terguling dan terkadang tergelincir karena menginjak kerikil. Seolah-olah hafal dengan area hutan meskipun semakin menggelap. Ia melihat sebuah lubang kecil yang dibuat oleh bebatuan besar di depan sana. Lelaki berambut emas itu berguling masuk ke lubang yang mampu menyembunyikan tubuh rampingnya dari para musuh.
“Kuharap mereka tak menemukanku di sini. Cheilt. Camuf.” Dengan napas tersengal ia merapalkan mantra bersembunyi. Dengan kekuatan sihirnya, batu tersebut berubah menjadi sebuah pohon kecil dan berkamuflase dengan pemandangan sekitarnya.
Derap langkah tiga orang yang mengejar berhenti tepat di depannya. Mereka bermuka sangar dengan tubuh yang besar. Panah dan pedang sebagai senjata andalan, membuat ciut musuh yang mereka kejar. Salah seorang di antara mereka memiliki codet di pipi kirinya.
“Sial! Dia menghilang!” cerca lelaki berambut gondrong.
“Dia tidak menghilang, tapi dia bersembunyi.” Si pipi codet memicingkan mata, menyapu pandangan di sekitarnya.
Lelaki muda yang bersembunyi itu tanpa sadar menahan napasnya. Darahnya terasa mengalir lebih cepat hingga membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Perpaduan antara rasa takut dan lelah membuat sarafnya menegang.
Manik cokelat si pipi codet yang menelusuri daerah itu, berhenti tepat di sebuah pohon kecil yang terasa janggal.
‘Apa sihir kamuflase yang dibuat olehku gagal? Ah, itu tidak mungkin.’ Batin lelaki berambut emas itu berkecamuk. Jantungnya berkali lipat bertalu-talu.
“Bagaimana bisa, Tuan? Tempat ini landai, hanya ada pohon-pohon kecil! Tidak ada waktu untuk juga untuk menggali tanah untuk bersembunyi.” tukas lelaki lainnya.
“Dasar bodoh! Ia memakai sihir bersembunyi dan kamuflase! Orang-orang ***** macam kalian tak akan mampu merapalkannya!” umpat si pipi codet.
“Tuan! Ada pasukan centaurus yang datang!” teriak si rambut gondrong.
“Sebaiknya kita pergi dari sini. Di depan sana sudah masuk wilayah Duke Adelard. Bisa gawat kalau kita tertangkap,”
Belum kering mulut si pipi codet bicara, sebuah anak panah melesat ke arahnya dan menancap di tanah. Diikuti anak panah lain menghadang gerakan para lelaki sangar tersebut.
“Sial! Pasukan centaurus!”
“Hei, Marka! Berani sekali kau menginjakkan kaki di hutan Woud ini. Wilayah kekuasaan Duke Adelard!” suara bariton seseorang menyeruak dari balik pepohonan. Derap langkahnya membuat anak buah Marka bergidik. Si rambut gondrong mengacungkan tongkat pohon oak-nya, sedangkan kawannya membidik panah dengan tangan gemetaran.
Lelaki muda yang bersembunyi di dalam batu menghela napas dengan lega, karena bantuan telah datang.
Seorang lelaki bertubuh setengah manusia setengah kuda muncul dengan gagah seraya membidik dan bersiap melepaskan anak panah. Satu per satu para centaurus terlihat dari balik pepohonan.
“Wren, centaurus penjaga Hutan Woud. Masih saja sombong!” balas Marka seraya meludah. Wajah bengisnya terlihat kesal. “Dan masih jadi kacung keluarga duke rupanya,” ledeknya sambil tertawa.
Anak panah yang dibidik oleh Wren dilepaskannya. Marka menepis dengan pedangnya.
__ADS_1
“Kurang ajar!”
“Cepat pergi atau mati!”
Marka pun mundur teratur.
“Sial! Tunggu pembalasanku!” umpatnya marah.
Setelah memastikan para musuh pergi jauh, lelaki muda bermanik sewarna langit pun keluar dari persembunyiannya. Ia nyengir. Memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
“Terima kasih, kalau bukan karena kalian, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku tadi,” ucapnya enteng.
“Ah, Nona Abelona. Kenapa Anda senang sekali mencari gara-gara?” Wren menghela napas panjang. Dan menyuruh pasukannya menyebar hingga meninggalkan mereka berdua saja.
“Dan, kenapa penampilan Anda seperti itu? Apa yang Anda lakukan hingga para makhluk setengah warlock itu mengejar Anda?”
Warlock adalah penyihir yang melanggar sumpahnya, mereka pun mempelajari sihir hitam. Tubuh yang besar dan kekar adalah ciri khasnya. Namun, dua ratus tahun belakangan ini muncul makhluk setengah Warlock. Para Warlock itu menikah dengan wanita bergelar Witch sang pengguna sihir kutukan yang kebanyakan dari mereka juga adalah pengguna sihir hitam. Menjadikan makhluk setengah Warlock seringkali membuat keributan dan melakukan tindak kejahatan di jalanan. Kebanyakan dari mereka juga adalah perampok dan pembunuh.
Lelaki muda yang dipanggil Abelona itu menjentikkan jarinya, seketika wajah dan tubuhnya berubah. Rambutnya menjadi panjang bergelombang berwarna merah anggur. Ia mengangkat bahunya dan memasang wajah polos tanpa dosa. Senyum manis pun mengembang di sana. Wren menjitak kepala Abelona dengan ujung panah miliknya.
“Aw!”
“Katakan!” ujarnya dengan nada sedikit marah. Wajah Wren merah padam.
“Ya! Seharusnya, Anda membiarkan mereka saja. Apa Anda sudah merasa menjadi penyihir hebat hingga berani menantang para makhluk setengah warlock? Duke pasti akan murka!”
“Ayah tidak boleh tahu!” pekiknya.
“Anda tidak bisa menutupinya dari Yang Mulia Duke.” Wren tiba-tiba saja menekuk satu kaki depan dan kedua tangannya ditekuk di depan perut dan punggungnya. Memberi hormat.
Abelona menelan ludah. Ia ragu untuk menengok ke belakang.
“Apa yang telah kau lakukan, Putriku, Abellona Calluella del Adelard?” Suara bass yang dalam dan mengintimidasi berhasil membuat Abelona gemetaran.
Sang putri memejamkan mata dan mengatur napasnya. Berusaha tenang untuk menghadapi ayah yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Abelona. Langkah kuda dan jejak keberadaannya tak terdeteksi oleh gadis itu. Lelaki itu memang pantas menyandang gelar Wizard, salah satu penyihir agung di benua Rotansyha.
Perlahan, Abellona memutar tubuhnya. Ia mendongak dan memandang sang duke yang berada di atas kuda, memberikan tatapan mematikan padanya. Flippo Bernard del Adelard. Manik emasnya berubah merah sewarna api dan berkilat. Abellona menelan ludah lagi. Ada tiga orang lelaki di belakang sang ayah yang juga menaiki kuda. Satu lelaki bertubuh sangat gagah, satu orang kakek dan satu lelaki muda sebaya Abellona. Sekarang mereka berbaris rapi di atas kuda masing-masing.
Lelaki yang bertubuh gagah, berpakaian pengawal turun dari kudanya. Ia berdiri di samping Flippo.
“Ha—halo, Ayah.” Ia melambaikan tangannya sembari gemetaran. Sang putri pun memasang senyum yang dipaksakan.
“Salam, Baron Baylor. Salam, Tuan Millard” Abelona memegang ujung kaosnya seakan melebarkannya dan menekuk sedikit kakinya seraya membungkuk anggun. Memberi hormat.
__ADS_1
“Salam, Nona Abellona,” jawab Baron Baylor. Ia dan lelaki muda yang berada di sebelahnya hendak turun dari kuda, tapi duke mengangkat sebelah tangannya melarang niat mereka.
“Halo?” Sang duke mengangkat sebelah alisnya.
“Apa itu saja yang bisa kau ucapkan, Putriku?” Flippo menekan suaranya hingga nada rendah, menahan amarahnya. “Bisakah sehari saja, kau tidak membuat onar?” Ia menghela napas.
“Terima kasih, Wren, kau telah melindungi dan menyelamatkan putriku lagi.”
“Itu memang sudah tugas hamba, Yang Mulia.” Sang centaurus melirik Abellona yang memberi syarat agar ia membantunya.
“Keahlian Tuan Putri sudah meningkat. Jadi, Anda tidak perlu mengkhawatirkannya.”
“Oho, apa ini? Sang penjaga hutan Woud memberi pujian pada putriku satu-satunya, yang sangat nakal ini? Kalian bersekongkol?” Flippo memicingkan matanya.
”Tidak, Ayah. Bukan seperti itu!” potong Abelona.
“Hamba tidak berani!”
“Wren hanya ingin membantuku saja.” Abellona bergidik melihat mata ayahnya yang masih berwarna merah. “Aku mengaku salah, aku akan menerima hukumannya. Kumohon, jangan marah lagi. Aku minta maaf, Ayah!” Bulir kristal meluncur turun dari matanya. Ia khawatir karena kesalahannya, semua orang jadi ikut sengsara.
“Zayn!” panggil Flippo memberi isyarat pada pengawalnya. Sang pengawal menghampiri Abelona.
“Maafkan saya, Nona.” Zayn menarik tangan Abellona dan menggendong nona majikan di pundaknya.
“Ahhh! Apa yang kau lakukan, Zayn? Cepat turunkan aku!” Abellona meronta-ronta. “Aku bisa jalan sendiri!”
Zayn mendudukkan Abelona di kuda miliknya. Tatapan mata yang dingin tapi teduh itu seakan memohon agar Abellona menurut.
Abellona turun dari kuda, mengabaikan isyarat pengawal sang ayah.
“Aku akan naik dengan Milli eh Tuan Millard saja.”
Zayn menghela napas, “Baiklah.”
Ia pun mengangkat tubuh Abellona, Millard yang berada di atas kuda membantunya.
“Dasar, kau. Tuan Putri pembuat onar!” bisik Millard. “Ouch.”
Abellona menyikut dada Millard hingga membuatnya mengaduh.
“Kupastikan kau akan menerima hukuman setelah kita sampai di rumah, Putriku.”
Duke Flippo memacu kudanya lebih dulu, membuat Abellona merinding dan pucat pasi.
__ADS_1