
“Ilmu hitam?” tanya Abellona menatapnya. Kakinya ditekuk, kepalanya disandarkan pada tangan yang berada di atas lututnya. Manik kelabu milik Millard memancarkan cahaya perapian. Embusan angin menerpa kulit mereka yang masih basah, menjejaki dingin di sekujur tubuh.
“Ya, kami menemukan banyak sekali benda-benda terkutuk. Di antara benda-benda itu, pemiliknya adalah para white wizard level satu dan dua.”
“Bagaimana bisa, mereka mendapatkan benda-benda terkutuk itu? Apakah benda-benda itu dijual bebas?” Abellona berasumsi, “atau mereka punya semacam tempat transaksi rahasia? Pasar gelap? Tempat lelang?” Matanya berbinar sembari menerka-nerka.
Millard melongo, menatapnya takjub.
“Wow, brilian! Aku tak menyangka kau bisa berpikir sampai sana!”
“Memangnya apa yang kalian pikirkan? Lantas, apa saja yang kalian kerjakan hingga membuatmu menghabiskan banyak waktu dengan mereka untuk meneliti benda-benda tersebut ketimbang mengajariku sejarah?” dengus Abellona.
“Hei, Nona, tugas utamaku itu bekerja di Menara Sihir. Menjadi gurumu itu hanya pekerjaan sampingan saja ‘kan? Hitung-hitung membantu meringankan beban tuan duke,” kekehnya. Abellona mendengkus.
“Para tetua, pendeta suci dan wizard level sepuluh belum menemukan jawabannya. Hanya menduga mereka belajar sihir hitam pada black wizard,” lanjutnya.
“Hah! Yang benar saja! Memangnya para black wizard itu penyihir yang terdaftar seperti para white wizard?”
Millard melongo lagi. “Ternyata kau cerdas juga, ya?” sembari meyentuh dagunya dan menepuk bahu Abellona dengan bangga.
“Hei, kau meledekku, ya?” Abellona mendecih, membuat Millard terkekeh.
“Ya, karena selama ini kau hanya terlihat sering bermain-main dan cuma bisa berbuat onar saja,” ledek Millard, “kau tahu tidak, kalau namamu bergaung hebat, begitu tersohor di kekaisaran?” lanjutnya dengan wajah berseri.
“Oh, ya? Apa katanya?” balas Abellona penasaran.
“Putri pembuat onar sang Sorcerer Agung yang memesona dan mengagumkan,” tukas Millard menahan tawanya.
Abellona menggeram, “sialan kau!”
Ia memukul punggung Millard dengan sangat keras lalu mendorongnya. Millard meronta sembari menahan berat badannya karena Abellona terus memukulinya karena kesal. Lama kelamaaan, ia pun jatuh telentang mencoba menepis tangan Abellona. Sedetik kemudian, tubuh gadis itu sudah berada di atasnya. Wajah Abellona berada cuma sejengkal dari wajahnya.
__ADS_1
Millard menahan napasnya sembari menggenggam tangan Abellona. Sedangkan sang gadis mengedip-ngedipkan matanya, mencerna apa yang terjadi dengan mereka. Seketika jantung mereka berdua bertalu-talu.
Abellona merona, begitu pun dengan Millard. Abellona segera bangun dari posisinya dan duduk kembali. Millard pun melakukan hal yang sama.
Mereka berdua berdeham dengan bersamaan, lalu saling menatap canggung, detik berikutnya tergelak, menertawakan tingkah konyol mereka.
Abellona berdeham lagi, ia menyeka bulir kristal yang menyembul dari matanya. Ia tertawa sampai menangis? Sudah lama ia tak tertawa lepas seperti ini.
“Apa kau lupa, kalau aku ini peringkat satu di sekolah sihir paling hebat Magiya?”
Millard manggut-manggut. “Ya, tapi tak seperti Lexie yang langsung bekerja di Menara Sihir.”
“Cih, menyebalkan! Aku juga bisa saja bekerja di sana kalau mau. Tinggal minta saja pada ayah.” Abellona mendengkus kesal.
“Yang benar? Kalau begitu, mintalah untuk jadi asistenku nanti,” pinta Millard .
“Untuk apa aku jadi asistenmu? Aku ingin ada di atas Lexie, paham!”’
“Cih, menyebalkan!”
“Kecuali ....”
“Kecuali?”
“Menjadi bawahan Putra Mahkota.”
“Apa? Putra Mahkota? Memang, apa pekerjaannya?”
“Putra Mahkota adalah Knight Wizard yang posisinya berada di atas Kardinal.”
“Itu artinya, dia memiliki kuasa besar di Kuil Suci?”
“Benar.”
__ADS_1
“Kalau begitu, buat aku bisa bekerja bersamanya!”
Millard tertegun.
“Oh, ya, Putra Mahkota orang seperti apa?” tanya Abellona penasaran. Matanya memancarkan rasa ingin tahu yang sangat besar, wajahnya pun berseri cemerlang.
Tiba-tiba saja ada yang menyengat dalam dada Millard, rasanya perih. “Putra Mahkota ....” ia menggantung kalimatnya, “entahlah. Aku belum pernah bertemu dengannya secara langsung. Cari tahu saja sendiri,” lanjutnya sebal.
Abellona mendengus.
“Sudahlah, lebih baik kita pulang saja. Sudah lewat waktunya makan siang. Ayo!” ajak lelaki yang bekerja di menara sihir itu berusaha menahan rasa cemburunya.
***
Di ruang kerja duke, Abellona menghadap sang ayah untuk mengutarakan keinginannya bekerja di Kuil Suci.
“Sungguhkah kau mau mulai bekerja Abellona?” tanya duke tak percaya. Matanya seakan menyelidik gerak-gerik putrinya yang mencurigakan.
“Iya, Ayah,” jawab putri satu-satunya itu mantap.
Wajah sang duchess ceria, kontras dengan wajah sang duke yang masam dan meragukan keinginan putrinya itu.
“Coba, katakan sekali lagi. Kenapa kau ingin bekerja di Kuil Suci? Bukannya di Menara Sihir? Millard berkata padaku, kalau kau membantunya memecahkan masalah benda kutukan itu?” selidik Flippo.
“Kalau itu dianggap membantu, saya akan berusaha sekuat tenaga meringankan beban ayah dan Milli.”
“Tapi, kenapa?”
Abellona putar otak. Tidak mungkin ia bilang kalau penasaran dengan Putra Mahkota yang bergelar Knight Wizard itu. Di benua Rotansyha ini, hanya ada tiga orang yang bergelar Knight Wizard, yaitu Putra Mahkota, kakak pertamanya Tristan dan pangeran kedua dari kerajaan Swart, Orca Callisto von Istvan.
“Karena nantinya aku akan menjadi Sorcerer Agung, aku harus banyak belajar tentang dunia luar padanya,” ucap Abellona penuh percaya diri.
Orang tuanya begitu takjub dengan dengan jawaban Abellona. Sedangkan Millard merasa Abellona akan menjauh darinya. Sengatan dalam dadanya muncul lagi, membuatnya gundah.
__ADS_1