Penyihir Antagonis

Penyihir Antagonis
Sihir 14


__ADS_3

“Sesuatu yang bersinar itu mendekatiku. Tubuhku terpaku. Aku memejamkan mataku karena takut. Tubuhku gemetaran. Suara dalam kepalaku berkata lagi, ‘bukalah matamu.’ Aku tak mampu menguasai tubuhku. Mataku pun membelalak. Aku terkejut hingga terjatuh.”


“Sosok bertopeng itu pun telah berada di hadapanku. Aku berteriak, tapi Wolifront berjalan mengelilingiku sembaari membelaiku dengan bulu dan ekorku agar aku tenang. Sosok bertopeng itu berjongkok lalu berkata, ‘Apa kau ingin bisa menang melawan mereka?’”


“Aku tak memedulikan omongannya. Tapi, ia berkata lagi, ‘Aku yakin kau melihat sosok bertopeng tengkorak seperti di atas menara sepertiku. Ialah yang bertugas mengutuk prajurit kalian. Aku akan memberitahu cara mengalahkannya, jika kau membantuku.’”


“Kau tidak mungkin mengiyakan permintaannya ‘kan?” pungkas Millard.


Abellona tak membalas pertanyaan Millard, ia melanjutkan ceritanya.


“Aku bertanya, apa yang harus kubantu tapi ia tak menjawab. Aku merasa ia mengetahui masa depan. Ia pun bergumam, lalu menaburkan serbuk aneh pada tubuhku dan ia menunjuk ke arah danau. ‘Aku akan memperlihatkan sesuatu padamu,’ katanya. Aku pun menatap danau yang tiba-tiba beriak dan memperlihatkan sebuah kota lengkap dengan penduduknya.”


“Aku tiba-tiba saja berada di dekat meraka, seakan aku hidup bersama mereka.”


Abellona mulai menceritakan hal yang dilihatnya bagai sebuah opera panggung yang pernah dilihatnya.


Dia adalah Wilxei seorang keturunan Warlock. Bukan salahnya jika ia lahir dari keluarga Warlock. Bukan keinginannya pula, bila ia keturunan ras yang terkenal sebagai pengkhianat oleh para penyihir putih.


Wilxei tinggal di desa Likian. Sebuah desa yang sangat indah meskipun setengah wilayahnya adalah padang pasir. Wilxei seperti pemuda lainnya tumbuh menjadi lelaki yang bisa diandalkan. Dengan tubuh kekar dan keahlian berpedangnya, ia menjadi salah satu idola di desanya. Ia menaruh hati pada seorang gadis, putri dari kepala suku Askian. Seorang penyihir putih dan calon alchemist. Tinia.


Tinia gadis periang yang hidupnya dipenuhi impian untuk menjadi alchemist ternama. Kesehariannya pun tak jauh dari penelitian dan penelitian. Bahkan, Wilxei pun terkadang menjadi korban eksperimennya. Dimana ada Wilxei pasti ada Tinia. Bahkan semua penduduk sudah merestui mereka menjadi pasangan ideal.

__ADS_1


Namun, petaka itu pun datang. Para tetua penyihir putih dari bangsa Urlf datang ke desa Likian dan mengetahui asal-usul keluarga Wilxei yang seorang warlock. Tanpa adanya perundingan yang jelas, para penduduk merangsek masuk rumah dan memporakporandakannya. Keluarganya pun tak tinggal diam dan melakukan perlawanan.


Nahas, keluarga Wilxei kalah karena kekuatan yang tak sebanding. Orang tuanya di bakar hidup-hidup di hadapannya, sedangkan adiknya yang masih kecil, tewas seketika kala itu. Mayatnya di gantung di pintu gerbang desa.


Sedangkan Wilxei dibiarkan hidup karena permintaan Tinia. Tinia yang dianggap berkhianat oleh orang tuanya dan penduduk desa pun dijebloskan ke penjara bawah tanah bersamanya. Esok malam, keduanya akan dieksekusi.


“Dasar bodoh! Seharusnya kau biarkan aku mati saja! Kenapa kau melakukan ini, Tinia?” tanya Rogue lirih. Sang gadis menatapnya lembut, wajahnya pucat. Seluruh tubuhnya terkulai lemas karena pencabutan sihir miliknya oleh sang kepala suku.


Meskipun lunglai, dengan susah payah ia mengeluarkan sesuatu dari mulutnya. Ia merogoh mulutnya hingga muntah. Ia terbatuk dengan keras, lalu ia mencari sesuatu dari muntahannya itu. Wilxei terkejut dan terkesiap dibuatnya, sang pemuda ingin memanggil penjaga, tapi dilarang oleh pujaan hatinya.


“Tinia, apa yang kau lakukan?” ucapnya khawatir.


“Ambillah, ini sebuah pedang. Akan membesar sesuai ukurannya bila kau mantrai. Tunggu aba-abaku selanjutnya besok,” timpalnya lagi dengan suara terengah-engah. Ia pun memberitahukan mantranya.


Penjara bawah tanah begitu pengap, hanya ada satu jendela kecil di sana yang membuat sinar rembulan menembus masuk dan sebuah obor yang hanya menjadi penerangan tempat itu. Kotor, bau dan lembab. Kondisi Tinia semakin memburuk. Namun, ia tetap melarang Wilxei untuk memanggil penjaga agar meminta obat.


Waktunya tiba untuk pengeksekusian. Mereka berdua dibawa paksa. Di lapangan tengah desa sudah terpampang sebuah panggung dari kayu. Panggung kematian untuk mereka berdua para pengkhianat.


Bara perapian telah berkobar, menari-nari dan mengeluarkan suara ketika melahap kayu Wilxei gemetar. Namun, tidak dengan Tinia. Meskipun kedua tangan mereka terikat tapi pedang kecil berukuran lebih kecil dari genggamannya telah dipegangnya.


“Kita sembahkan pengkhianat ini pada Dewa!” ujar sang tetua lantang.

__ADS_1


Tinia menatap lirih keluarganya. Di seberang sana, ibu yang melahirkannya menangis pilu, sang ayah tak lagi memakai atribut kepala sukunya. Tinia pun tersenyum dan mengucapkan maaf tanpa bersuara.


Mereka berdua digiring ke dekat perapian.


“Ka esme moluca!” raung Tinia dengan sekuat tenaga.


Seketika angin kencang menerpa mereka. Rembulan tiba-tiba tertutup sesuatu hingga menjadi gelap dan tak terlihat. Sekumpulan burung membawa batu api menutupi langit Likian. Mereka pun terbang rendah dan menjatuhkan batu-batu api itu di atas desa. Hingga membuat penduduk yang ingin menyaksikan eksekusi itu lari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri.


‘Sekarang! Ucapkan mantranya!’ perintah Tinia, Wilxei pun mengangguk dan mengucapkan mantranya.


Pertempuran tak terelakkan pun terjadi. Kilatan-kilatan cahaya berpadu dengan bara api membuat langit Likian berubah menjadi oranye, keabuan. Dengan kepulan asap tebal dan burung-burung terbang rendah membuat jerit panik penduduk desa berlari tak tentu arah.


Tinia, diselematkan oleh orang tuanya. Ia tidak bisa mengelak dari mereka karena tubuh yang lunglai akibat sihir yang dicabut darinya. Meskipun ia meronta tapi Tinia tak bisa berkutik. Pertempuran satu lawan satu antara Wilxei dengan para penyihir putih pun tak terelakkan. Sedetik kemudian, penyihir putih menyerangnya dengan bertubi-tubi. Namun, beda kekuatan yang nyata membuat Wilxei pun tumbang. Ia terkena sihir penyerangan hingga tumbang. Ia menggelepar di panggung kayu itu. Kepalanya pun di tebas oleh tetua dari bangsa Urlf dengan kejam.


Tinia yang melihat kejadian itu, meraung. Hatinya remuk redam kala melihat sang pujaan hati dibunuh dan mayatnya dilempar ke dalam kobaran api.


“Dalam keadaan lemah dan tak berdaya, Tinia mengambil pisau seorang pria yang mengawalnya. Ia mengiris pergelangan tangannya hingga darah pun mengucur dari sana, lalu mengucapkan sebuah mantra.” Abellona bergidik. Penglihatannya menjadi buram.


Bum


“Kemudian terjadi sebuah ledakan.”

__ADS_1


__ADS_2