Penyihir Antagonis

Penyihir Antagonis
Sihir 15


__ADS_3

Abellona tertegun. Tiba-tiba saja dadanya menjadi sesak teringat visi yang ia lihat kala itu. Keempat pria yang berada di sana saling lempar pandang.


“Abellona, kenapa?” tanya Millard.


“Milli ...,” ucap Abellona sembari menatap pemuda itu, sendu. Tatapannya juga seolah menunjukkan kegelisahan.


“Aku tidak mengingat sisa kejadian itu. Entahlah ... dicoba lagi pun rasanya sulit mengingatnya ... Aw!” lanjutnya tiba-tiba meringis, memijat pelipisnya.


Millard tersontak dan menyentuh kepala Abellona. Justin menggeram memberi isyarat agar sihirnya dilepas.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Millard cemas. Zayn menuangkan air putih untuk sang majikan dan memberikannya.


Azzimir melepaskan siihr dari Justin.


“Sudah hentikan, tidak usah diingat lagi,” kata Justin.


“Kita lanjutkan nanti lagi pembicaraannya nanti, Lady. Setidaknya kita sudah mendapatkan sedikit petunjuk darimu. Itu sangat membantu,” tutur Azzimir.


“Terima kasih, Yang Mulia. Kami pamit dulu,” ucap Justin. Abellona memberikan salamnya dengan lunglai.


Abellona berjalan dengan di papah oleh Millard dan Justin. Zayn mengikuti di belakang mereka. Sembari berjalan, matanya pun memindai pemandangan Menara Sihir yang terbentang di sekitarnya. Suara air terjun yang begitu nyaring dan menyenangkan membuat keadaan tubuhnya sedikit lebih baik.


Kastil dengan banyak puncak menara menjulang terlihat dari jendela-jendela batu pualam tanpa kaca. Pilar-pilar tinggi dengan ukiran yang cantik dan mengagumkan menambah kemewahan bangunan dengan cat dominan berwarna putih.


Banyak orang lalu lalang di koridor berpapasan dengan mereka. Belum lagi orang-orang yang berada di luar bangunan. ada sekelompok pemuda sedang berkumpul sambil membawa buku. Di sisi lain, ada sekelmpok orang berpakaian serba putih layaknya pendeta muda.


Beberapa prajurit pun terlihat sedang berkeliling untuk berpatroli. Mereka yang berpapasan dengan gerombolan Abellona memberi hormat pada Millard dan Justin.


Justin menghentikan perjalanannya karena salah satu prajurit melaporkan sebuah kabar padanya.


“Kalian pergilah lebih dulu, nanti aku menyusul,”pintanya. Abellona dan yang lain pun melanjutkan langkahnya.


Abellona baru menyadari kalau dekapan Millard begitu kuat hingga membuatnya canggung. Ia mengintip dari sudut matanya. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Tidak seperti Millard yang ia kenal.

__ADS_1


“Tuan Baylor! Maaf, Tuan Baylor, tunggu sebentar,” panggil seorang wanita tergopoh-gopoh berlari menghampirinya. Ia memeluk tumpukan buku dan kertas.


Millard dan yang lainnya menghentikan langkahnya.


“Oh, Nona Mistia ada apa?”


Gadis bernama Mistia itu berhenti di hadapan Millard dengan napas terengah-engah.


“Salam, Tuan Baylor. Salam, Nona.” Ia memberi hormat dengan kikuk. Ia terdiam sejenak.


Tatapan matanya tertuju pada tangan Millard yang berada di pundak Abellona. Gadis itu menunduk lalu tersenyum, membuat Abellona heran.


“Maaf, mengganggu waktu anda, Tuan. Tapi ada yang harus saya laporkan mengenai masalah benda terkutuk, yang waktu itu saya temukan,” celotehnya. Wajahnya terlihat gugup, tapi binar matanya terlihat senang.


“Taruh saja di mejaku, nanti akan aku periksa,” timpalnya dingin.


Abellona menoleh pada Millard, entah kenapa tiba-tiba pemuda itu terlihat berwibawa. Gadis bernama Mistia itu tertegun. Ia memandang Abellona dengan tatapan menusuk. Abellona melongo.


“Dia adalah putri duke Adelard.” Millard memberitahunya masih dengan nada dingin. Mistia tersontak, ia menunduk.


“Ayo, Abellona,” ajak Millard dengan lembut seraya melengos melewati gadis itu.


Abellona menangkap sekilas tatapan rasa tak sukanya seperti cemburu.


Zayn menghalangi pandangan Abellona dengan sengaja. Sang majikan pun merengut. Setelah melewati lorong-lorong koridor yang panjang, mereka pun akhirnya sampai ke ruangan Justin.


Abellona merebahkan dirinya di sofa ruangan tersebut. Zayn dibolehkan beristirahat sejenak oleh Millard.


“Ah, capek sekali! Kakiku pegal” keluhnya. “Apa kita tidak bisa menggunakan sihir untuk mencapai suatu tempat tanpa harus berkeliling lebih dulu?”


Millard terkekeh. Sembari membuat sesuatu di pojok ruangan.


“Hei, kau jangan tertawa! Ayo, cepat jawab.”

__ADS_1


“Tentu saja bisa. Kita bisa menggunakan sihir berpindah, tapi dengan batasan jarak dua puluh meter saja. Jadi kau harus merapal mantra berkali-kali.” Millard menghampiri Abellona sembari membawa nampan.


“Kalau begitu, kenapa tadi kita tak melakukannya? Kau ingin menjahiliku yaaa!” protesnya.


Millard terkekeh, ia memberikan sebuah minuman berwarna oranye pada Abellona. Gadis itu bangun dan duduk dengan posisinya nyaman. Ia menerima minuman itu dan meneguknya perlahan-lahan.


“Supaya kau bisa menikmati pemandangan di sekitar Menara Sihir ini. Besok kita akan berkeliling. Bersiaplah.”


Abellona tersedak dan terbatuk. Millard mengusap punggung sang gadis.


“Hei, minumnya pelan-pelan,”


“Apa? Yang benar saja!” pekiknya. Millard tertawa melihat reaksi sang pujaan. Wajahnya sudah kembali segar.


“Ngomong-ngomong, gadis yang memanggilmu tadi itu siapa?” lanjutnya.


Millard tersontak, Abellona keheranan.


“Kenapa?” tanya Abellona penasaran.


“Namanya Mistia Julianna de Florence. Bawahanku, orangnya cukup cerdas dan bisa diandalkan. Dia wizard level tiga. Kenapa kau bertanya?” tanyanya sembari menenggak minuman berwarna oranye juga.


“Kurasa dia menyukaimu,” tukas Abellona datar. Membuat Millard tersedak.


Abellona mengusap pungung Millard.


“Hei, minumnya pelan-pelan,” katanya, menirukan nada bicara Millard.


Millard menaruh gelasnya dan beranjak dari sofa menjauh. Ia tahu tidak akan bisa menutupi ekspresi wajahnya itu di hadapan Abellona.


“Hei, Milli. Kau kenapa?” Abellona mengikutinya dari belakang. “Milli,” panggilnya seraya menarik jubah Millard.


Millard berbalik dan menarik tangan Abellona lalu mendekap pinggangnya.

__ADS_1


“Kalau ia menyukaiku, apa yang akan kau lakukan?” tukasnya dengan tatapan sendu.


Abellona terenyak.


__ADS_2