
Setelah mendapatkan jawaban dari Putra Mahkota, Abellona pun bertolak pergi ke Menara Sihir. Ia ditemani oleh Zayn dan Millard. Tadinya, Celeste bersikeras agar Abellona membawa satu pelayanannya. Namun, ia menolaknya. Karena perjalanan ini bukan untuk bersenang-senang, melainkan menjalankan tugasnya sebagai seorang calon Sorcerer Agung. Bulu kuduknya meremang seketika saat ia menyebutkan dirinya berencana menjadi Sorcerer Agung, padahal ia hanya ingin melihat wajah Putra Mahkota dan bermain-main di Menara Sihir.
Tampak konyol memang, tapi nyatanya kedua orang tuanya mempercayai dan menaruh harapan besar pada putri satu-satunya itu.
Mereka memacu kudanya dengan cepat. Sebelum berangkat, Abellona meminta berkat pada Wren sang centaurus untuk merestui perjalanannya menuju Menara Sihir. Wren memberikan sebilah pisau dengan batu zamrud bertakhta di gagangnya. Ia berkata, kalau pisau itu mampu menggorok leher para black wizard dari jarak jauh.
Mereka pergi ke kota Gilardo, di mana Portal Penjelajah berada. Portal Penjelajah adalah sebuah gerbang ke mana saja sesuai yang diinginkan. Namun, tidak semua orang dapat memakai dan melewati Portal Penjelajah sembarangan. Hanya para anggota kekaisaran, tetua di Menara Sihir, kardinal, raja, duke dan sage -pemimpin tertinggi para wizard-. Sedangkan para wizard biasa, memerlukan surat izin yang dipegang oleh orang-orang tertentu itu.
Jika tidak melewati Portal Penjelajah, maka perjalanan ke Menara Sihir bisa memakan waktu empat belas hari dengan berkuda. Menara Sihir berada di sebelah utara benua Rotansyha.
Adrenalin dalam tubuh Abellona terpacu, ia sangat antusias dengan perjalanan ini. Tidak salah memang memberi alasan seperti itu. Ia bahkan memiliki surat izin untuk melewati Portal Penjelajah yang selama ini, ingin sekali ia coba. Di sisi lain, ia merasa bersalah telah membodohi orang tuanya. Akan tetapi, bila Abellona tidak melakukan itu, ia akan dikurung di istana dalam waktu lama.
Jiwa petualangnya menggelegak, sisi penuh ingin tahunya menggelepar. Tak ada yang bisa menahan dan mengubah sesuatu yang sudah ia putuskan.
Kota Gilardo masih termasuk wilayah Adelard. Dapat ditempuh dalam waktu satu hari dengan berkuda. Mereka memacu kudanya agar bisa sampai ke Kota Niisyka sebelum matahari terbenam.
Niisyka adalah kota sebelum Gilardo. Di sana tempat bermain Abellona, ia pun telah hafal seluk beluk kota tersebut. Mereka berhenti di sebuah penginapan yang Abellona inginkan. Gadis itu telah mengubah wajah dan tubuhnya menjadi seorang lelaki muda.
“Oh, halo Ivander. Lama tak berjumpa! Kemana saja, Kau?” tanya seorang lelaki, sang pemilik penginapan, dengan sok kenalnya merangkul bahu Abellona.
Zayn dan Millard terkesiap, hendak mencabut pedangnya. Wajah mereka dipenuhi amarah. Namun, Abellona memberi isyarat pada kedua bawahannya itu. Pemilik penginapan menatap mereka penuh tanda tanya. Abellona menurunkan tangan lelaki itu.
“Halo, Mark. Lama tak jumpa. Aku punya pekerjaan baru,” kekehnya. Mark manggut-manggut.
“Carikan tiga kamar untuk kami. Yang bagus, ya!” pinta Abellona.
“Tiga?”
“Iya tiga! Dua untuk mereka, tentu saja, satu kamar lagi untukku. Apa ada masalah?”
Mark menimbang-nimbang seraya memperhatikan dua lelaki di hadapannya yang sedang duduk dan menyesap air dalam gelas super besar. Ia pun berdeham keras.
“Hem, kamar bagusnya hanya tersisa satu. Dan itu mahal sekali.”
“Apa? Jangan bercanda, Mark!” Abellona panik. Zayn dan Millard menoleh padanya.
“Aku tidak bercanda! Apa kau tidak memperhatikan orang-orang yang lalu lalang ini?”
Abellona baru menyadarinya sekarang. Memang benar, ada lebih banyak orang menginap dan makan di penginapan ini.
“Ada apa rupanya?”
“Kau tertinggal jauh. Beberapa waktu belakangan ini, muncul monster hybrid di wilayah Caficka.” Mark menyuruh Abellona mendekatkan telinganya. Zayn dan Millard terkesiap lagi, Abellona memberi isyarat dengan menggeleng. Ia menyimak dengan saksama perkataan Mark.
“Katanya, kotanya hancur lebur tak bersisa,” lanjutnya.
Abellona merinding mendengarnya. Ia tak percaya ada kejadian seperti itu.
“Apa Kau tidak tahu, kalau Putra Mahkota memberi titah untuk memburu monster hybrid itu?”
Abellona melongo, ia menggeleng.
“Kalau tidak tahu, ya sudah.” Mark melengos, ia mengambil kunci dan melemparkannya pada Abellona.
“Hei, kenapa cuma satu?”
__ADS_1
“Sudah kubilang seluruh penginapan di kota ini penuh. Hanya tersisa satu kamar. Lagi pula kalian semua lelaki, untuk apa tidur terpisah?” Mark menyeringai dengan sangat menyebalkan.
“Kamarnya ada di lantai atas paling pojok sebelah kanan.”
Mau tak mau, mereka pun naik dan masuk kamar. Abellona mendengkus. Terlebih ia melihat ranjang yang hanya ada satu.
“Kita cari lagi tempat lain, Nona,” ajak Zayn. Ia terlihat tidak suka dengan Mark.
“Apa kalian tak dengar kabar tadi?”
Zayn mendecih. Millard terdiam.
“Apa Nona tidak apa-apa tidur di ranjang yang keras itu?” tanya Zayn dengan nada cemas. Abellona terkekeh.
“Tidak apa-apa. Aku tidak selemah itu,” timpalnya.
Untuk menghilangkan rasa canggung, Zayn mencari info mengenai monster yang muncul di Caficka. Sedangkan Millard sedang menulis sesuatu di bukunya. Sesekali ia melirik pada Abellona yang sedang duduk di ranjang menatap jendela, menerawang.
Di wilayah timur laut benua Rotansyha terdapat sebuah desa bernama Caficka. Di sana, tinggal para pemburu monster. Dari generasi ke generasi, mereka bekerja tanpa adanya ikatan yang membelenggu. Hanya sebuah kontrak lepas yang nantinya dibayar jika pekerjaan selesai.
Namun, dua puluh tahun yang lalu, desa tersebut berada dalam naungan Kekaisaran Campione. Karena mereka gagal melakukan misi perburuan Manticore yang telah membantai dan menjatuhkan Kerajaan Marvebi.
Baik pria maupun wanita, bahkan anak-anak kecil pun harus sama-sama berlatih agar terhindar dari hal yang terburuk. Yaitu, serangan monster yang tiba-tiba ketika mereka lengah atau ketika semua master pemburu sedang tidak berada di desa. Maka, para penduduk biasa pun harus bisa menjaga diri mereka masing-masing.
Memanah dan berpedang adalah keahlian umum yang harus dikuasai. Setelah itu, rapalan mantra seperti mantra pertahanan, mantra penyerangan dan lain-lain juga harus dipelajari.
Para pemburu hidup dengan damai di pedalaman Hutan Akkacia di lereng Pegunungan Volky. Hutan Akkacia yang terkenal menyesatkan memang dibuat untuk melindungi Desa Caficka. Nyatanya, tidak seperti itu. Desa itu kini tinggal nama saja.
“Nona, tidurlah. Sudah malam,” ucap Zayn dingin. Abellona hanya berdeham.
Entah mengapa, ucapannya terdengar begitu dingin.
Abellona tidak bisa tidur sekejap pun. Bukan karena ranjangnya yang tidak nyaman, bukan pula karena dua orang lelaki tidur satu kamar dengannya. Namun, ia memikirkan apa yang tengah terjadi saat ini. Ia merutuki diri dan telah bertindak bodoh.
Hanya karena alasan sepele, ia akan menaruhkan nyawanya? Akankah ia mati konyol? Ataukah ia akan jadi penyihir hebat sepanjang masa? Sang Sorcerer Agung? Ia bergidik sendiri memikirkannya.
Ia mencoba tidur dan menarik selimutnya.
***
Keesokan harinya, setelah sarapan, mereka pun bergegas menuju kota Gilardo. Sesampainya di sana. Millard langsung menyerahkan surat izin melewati Portal Penjelajah pada seorang pengawal.
Satu dari tiga orang penjaga gerbang memandu mereka masuk bangunan berarsitektur elegan nan menakjubkan itu. Mereka menyusuri lorong dengan pilar-pilar tinggi. Dinding penuh lukisan dewi-dewi yang sedang menari menghiasi dinding lorong tersebut. Tak luput, langit-langit pun di lukis dengan begitu menawan.
Mereka berbelok dan keluar bangunan, melewati jalur setapak batu marmer yang disusun sedemikian rupa. Mereka pun masuk lagi ke dalam sebuah bangunan berhiaskan emas dan permata yang berkilauan.
Pintu batu pualam menjeblak terbuka. Lima orang berpakaian seperti pendeta suci keluar untuk menyambut Abellona, Zayn dan Millard.
Pengawal tadi menyerahkan ketiga tamu istimewa itu pada pendeta suci.
Para pendeta suci memberi salam dan memandu masuk ke dalam bangunan indah dan berkilauan. Mereka masuk ke sebuah ruangan dengan pintu terbuat dari emas dan ruby dengan detail bunga mawar dan tulip yang cantik.
Di dalam ruangan terdapat sebuah gerbang dengan dua pilar berwarna biru, di atas pilar itu terdapat sebuah mahkota besar. Terbuat dari kumpulan batu mulia gemerlapan yang menyilaukan mata dengan pancaran sinar mentari dari celah kecil dan membentuk kilauan pelangi.
Abellona terperangah melihat pemandangan di hadapannya.
__ADS_1
Satu lelaki pendeta suci yang berada dekat gerbang yang berpakaian berbeda dari yang lain menghampiri rombongan Abellona.
“Salam Tuan Millard, salam Lady Abellona. Saya sudah mendengar kabar dari Tuan Duke. Saya akan memandu Anda sekalian menuju Menara Sihir.”
Abellona menyimak perkataanya. Ia masih takjub dengan pemandangan di sekitarnya.
“Sebelum kita melewati Portal Penjelajah, Lady, Anda baru pertama kali melewati gerbang ini bukan?”
Abellona mengangguk. “Iya.”
“Ketika melewati portal, Anda akan merasakan sensasi yang aneh. Seperti mual dan pusing. Anda juga akan merasakan ketidaknyamanan pada tubuh Anda. Hem, apakah sekiranya ada yang ingin Anda tanyakan mengenai hal ini?”
“Tidak ada,” jawabnya mantap. Ia melirik pada Millard dan Zayn, ia merasa gugup.
Millard tersenyum, ia menjulurkan tangannya pada Abellona, begitu pun Zayn yang mengulurkan tangannya. Abellona menerima uluran tangan mereka dengan sedikit gemetaran.
“Tidak apa-apa. Kami akan menjagamu,” bisik Millard sembari mengedipkan sebelah matanya.
Mereka pun berjalan mendekati portal yang berkilauan itu dan masuk ke dalamnya. Ketika menjejakkan kaki dalam portal itu, benar saja, ada sensasi tak nyaman menyelimuti tubuh. Di kanan dari lorong portal terdapat pemandangan hutan, bangunan, gunung dan langit yang terbalik-balik. Membuat penglihatannya seakan berputar-putar. Pusing pun menyerang seakan tubuhnya diputarbalikkan berkali-kali. Detik berikutnya rasa mual membuncah, seolah isi perutnya dipaksa keluar. Keringat dingin mulai bermunculan setetes demi setetes. Abellona menggenggam kuat tangan Millard dan Zayn. Millard pun mendekatkan tubuhnya dan mendekapnya.
Dekapan Millard malah membuatnya tidak nyaman, karena tiba-tiba saja ada ia merasa tertindih. Ia mendorong pelan tubuh Millard, tapi entah kenapa tubuhnya sekarang terasa seperti ditarik sesuatu hingga menjadi sedikit sakit di sekujurnya.
Lalu pemandangan yang Abellona lihat tadi menghilang, menjadi sebuah pemandangan dengan dinding batu-batu berwarna cokelat. Stalagmit dan stalaktit menghiasi sekeliling tempat yang terlihat seperti gua ini. Suara gemercik tetesan air menjadi melodi tersendiri yang menenangkan jiwa setelah sensasi tak nyaman tadi.
Rasa mual dan pusingnya masih menyiksa, ia ingin memuntahkan isi perutnya tapi tak bisa. Mungkin karena ia juga tidak bisa tidur tadi malam, hingga tubuhnya merasa tak enak. Entahlah.
Tak berjarak jauh dari sana suara aliran air yang sangat deras layaknya air terjun terdengar nyaring. Abellona berjalan perlahan dengan masih menggandeng Millard dan Zayn. Benar saja ada air terjun di depan sana. Sang pendeta suci menjulurkan tangannya sambil komat-kamit hingga air terjun tersebut tersingkap layaknya tirai yang terbuka.
Ketika keluar dari gua, cahaya mentari yang terik seakan menusuk matanya hingga pusing yang masih bersisa bertambah pening. Ia menunduk dan sedikit memicingkan matanya.
“Selamat datang di Menara Sihir, Lady Abellona Calluella del Adelard.” Suara bariton seorang lelaki menyambut kedatangannya.
“Salam, Yang Mulia Putra Mahkota,” Millard dan Zayn memberi hormat masih memegangi Abellona. Abellona berusaha melepaskan kedua tangan mereka supaya bisa memberi hormat dengan benar.
Azzimir menghampiri Abellona, sang gadis perlahan membuka matanya. Ia terpana dan takjub dengan sosok yang berdiri di hadapannya. Kilau matahari seakan membuatnya tambah gemilang, ia tampan dengan tubuh tegapnya bagai mahakarya dewa paling sempurna. Dengan pakaian kebesarannya ia terlihat sangat mengagumkan. Rambut pirang tembaganya seakan bersinar menindik matanya yang sedari tadi terasa perih. Ia mengangkat tangan untuk menutupi kilaunya.
“Salam, Yang Mulia Putra Mahkota, hamba Abellona ....” ketika gadis berambut merah itu hendak memberikan salam, tiba-tiba ia limbung, kakinya lemas sampai membuat tubuhnya terasa enteng.
“Hei, hati-hati.” Azzimir menahan bobot tubuhnya. Abellona menengadah dan menatap matanya. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup cepat, nafasnya terasa sesak.
“Abellona, Kau tidak apa-apa?” Justin mendekatinya.
“Itu adalah efek yang dirasakan oleh tubuh bila baru pertama kali menggunakan Portal Penjelajah.” Azzimir tersenyum padanya. Abellona merona.
Mereka berkerumun menyambut Abellona, hingga tak menyadari kedatangan seseorang yang juga menggunakan Portal Penjelajah.
“Salam, Yang Mulia Putra Mahkota. Saya Lexie Rosaline Clementine datang melapor,” sergahnya. Membuat semua orang yang ada di sana, menoleh pada seorang gadis berambut pirang berpakaian prajurit wanita.
Abellona terpekik, “Lexie?”
Sang gadis prajurit menatap Abellona dengan tak kalah kaget, “Abellona?”
Mereka berdua bersitatap.
__ADS_1