Penyihir Antagonis

Penyihir Antagonis
Sihir 10


__ADS_3

Pertemuan keduanya begitu dramatis. Mereka bergeming hanya saling menatap tanpa bicara. Rasa rindu, marah, kesal berpadu jadi satu tanpa mampu terucap sepatah kata.


“Oh, kalian saling kenal?” tanya Azzimir sembari menunjuk mereka berdua. Mereka pun menatap Azzimir.


“Ya, kami masuk di tahun yang sama, Yang Mulia,” jawab Lexie. “Lama tidak berjumpa Abellona,” lanjutnya memasang senyum manis khas dirinya yang membuat kesal Abellona.


“Lama tak jumpa, Lexie. Sepertinya pekerjaanmu sulit,” timpal Abellona malas.


“Tidak juga, tapi ya, cukup menguras tenaga,” keluhnya, tapi dengan nada terasa membanggakan dirinya. Abellona mendecih dalam hati.


“Wow, hebat sekali.”


“Ya, tidak seperti seseorang, yang masih suka bermain-main,” celanya.


Semua orang yang berada di antara mereka melongo, hanya menyaksikan percakapan mereka tanpa bisa memotongnya.


“Hah!” gerundel Abellona, “Apa Kau mendengar juga, kalau orang itu sangat terkenal di kekaisaran? Si pembuat onar yang memesona dan mengagumkan?” balas Abellona membanggakan dirinya.


Lexie terlihat tak senang dengan jawaban Abellona.


“Ya, kuharap kau bisa membantu meringankan pekerjaan kami,” ujarnya ketus.


“Oh, tentu saja. Aku yakin dengan kemampuanku,” timpal Abellona kesal.


Justin dan yang lain mulai merasa tak nyaman dengan percakapan yang mulai menjadi perdebatan.


“Hei, Abellona, kau masih merasa tak enak badan ‘kan? Lebih baik, kau istirahat dulu. Ayo!” ajak Justin sembari merangkul Abellona.


“Kalau begitu, aku akan memanggil Anda, Lady. Silakan beristirahat terlebih dahulu,” kata Azzimir, ia menatap Lexie. “Kutunggu laporanmu di ruang kerjaku nanti, Lady Lexie.” Azzimir pun melenggang dari sana.


“Baik, Yang Mulia,” jawab Lexie. Ia menoleh pada Abellona lalu menyeringai sebelum ia mengikuti Azzimir. Abellona mendengkus.


“Sudah-sudah! Ayo, kita pergi dari sini.”


Di ruang kerja Justin, Abellona berbaring menutup wajahnya dengan lengannya. Kepalanya jadi semakin pening, apalagi setelah bertemu dengan Lexie tadi. Pertemuan yang tidak ia harapkan sebenarnya.


“Masih pusing?” bisik Millard yang berjongkok di sebelahnya. Abellona mengangguk.


Justin pun datang membawa sebuah cangkir yang beruap mengepul berwarna merah jambu.

__ADS_1


“Bangunlah, aku akan mengobatimu.”


“Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya hari ini. Dia tetap saja menyebalkan,” gerutu Abellona.


“Sssst, diamlah. Jangan banyak bicara.” Justin menepuk wajah adiknya lembut lalu menyandarkan kepalanya di sofa dan berkomat-kamit merapalkan mantra padanya.


“Seharusnya Kau menghafalkan mantra pengobatan ini, selama bermain-main.” Millard berdecak.


“Milli, Kau diam sajalah. Jangan ikut-ikutan,” keluhnya.


“Memangnya, Kau sudah siap bertemu dengan Putra Mahkota?” tanya Justin.


“Tentu saja!” balasnya penuh percaya diri.


***


Perasaan Abellona campur aduk. Ia telah melihat wajah Putra Mahkota yang sangat ingin ditemuinya. Bahagia, senang, gugup semua berpadu membuat jantungnya melompat-lompat tak keruan.


Di ruang kerja Putra Mahkota, Abellona, Justin, Millard dan Zayn sudah berkumpul. Mereka menghadap Putra Mahkota yang beberapa hari lalu memerintahkan semua wizard untuk memburu monster hybrid dan black wizard itu. Dengan hanya sedikit petunjuk yang ditinggalkan, para wizard dari Menara Sihir masih belum menemukan dimana monster itu berada.


Mereka duduk berseberangan. Abellona mendengarkan dengan saksama penjelasan Azzimir, meskipun ia tak yakin bisa konsentrasi mendengarkan celotehnya. Jantungnya sungguh membuatnya tak nyaman, terkadang ia merasa rona menerpa wajahnya. Hingga sesekali ia menahan napas, menarik dan mengembuskannya, berharap jantungnya dapat berdetak dengan normal.


“Kemarikan tanganmu, Lady,” ujar Azzimir, mengulurkan tangannya. Abellona terdiam, ia masih mengagumi pahatan sempurna sang dewa yang berdiri di hadapannya. “Lady?”


Justin, Millard dan Zayn saling pandang. Azzimir termenung, bingung. Justin berdeham. Milli menginjak kaki Abellona hingga membuatnya tersontak dan memekik, ia menengok ke arah Milli dengan wajah gondok.


“Abellona, Kau kenapa?” tanya Justin.


“Apa Kau masih tidak enak badan, Lady?’


“Apa? Oh, tidak, hamba tidak apa-apa. Maaf, bila membuat Yang Mulia khawatir.” Abellona salah tingkah.


“Tadi, Anda bilang apa, Yang Mulia? Memo apa?” timpalnya lagi.


Justin dan Millard geleng-geleng kepala sedangkan Azzimir tergelak.


“Sang pembuat onar itu, ternyata julukan yang tepat untukmu ternyata,” ledek Azzimir lagi. Abellona melongo mendengar ucapannya.


“Bisa-bisanya dirimu tak menyimak apa diucapkan Putra Mahkota padamu!” cercanya.

__ADS_1


Justin, Millard dan Zayn tersontak. Sedangkan Abellona panik, ia meninggalkan kesan jelek padanya.


“Maafkan Hamba, Yang Mulia. Hamba hanya takjub melihat wajah Anda yang tampan,” oceh Abellona, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Membuat semua yang ada di ruangan itu diam sejenak, lalu tergelak.


Wajah Abellona seketika berubah merah. Ia bear-benar telah meninggalkan kesan buruk yang memalukan. Bagaimana bisa, ia berkata begitu? Benar-benar bodoh! Rutuknya dalam hati.


“Kau sungguh wanita yang menarik, Lady. Tidak ada yang berkata terus terang begitu di hadapanku, meskipun hal itu memang benar adanya,” ledeknya lagi.


“Kau dan mulut besarmu selalu saja membuat onar,” bisik Millard. Abellona menginjak kakinya, membuatnya mengaduh.


Justin geleng-geleng kepala. “Maafkan dia, Yang Mulia. Adikku memang ceroboh dan bodoh.”


“Kakak!” protes Abellona.


“Baiklah-baiklah, sudah. Aku sudah lama tak tertawa lepas seperti ini. Terima kasih banyak, Lady,” ucapnya berusaha mengatur nafasnya.


“Sekarang, kemarikan tanganmu. Aku akan memperlihatkan sebuah Memoar padamu,” lanjutnya lagi.


Abellona mengulurkan tangannya dengan ragu, Azzimir menariknya perlahan. Sekejap mata, ia melihat sebuah pemandangan yang memilukan. Kota yang hancur lebur dengan langit oranye yang kelam dan hitam karena asap api yang membakar rumah-rumah. Ia pun melihat sosok berjubah hitam yang melayan dan monster hybrid, perpaduan antara anjing bserekor kalajengking. Sedetik kemudian, anjing itu terbang ke arahnya dan semua menjadi gelap.


“Tidak!”


Abellona terkejut, ia berdiri dengan napas yang tersengl-sengal. Tangannya gemetaran.


“Kejam sekali!” pekiknya. Kakinya tiba-tiba lemas. Millard menangkap tubuhnya dan mendudukkannya di sofa.


“Bagaimana menurutmu, Lady?”


Abellona mengatur napasnya, ia memegangi lengan Millard.


“Abellona?” tanya Millard cemas.


“Apa Anda yakin, kalau itu adalah ingatan yang ditinggalkan oleh anak kecil tersebut?”


“Apa maksudmu, Abellona?”


Abellona menatap Azzimir dengan mata berkaca-kaca, suaranya tercekat.


“Itu adalah ilusi. Ingatan anak itu adalah ilusi!”

__ADS_1


“Apa?” Azzimir tidak percaya apa yang baru di dengarnya.


__ADS_2