
“Itu ilusi! Tidak!” raung Abellona.
Tubuhnya gemetar hebat, ia ketakutan hingga mengeluarkan air mata. Jantungnya berdegup sangat cepat, napasnya tersengal-sengal. Tiba-tiba saja, bagian dada dekat jantungnya terasa terbakar. Abellona pun merintih kesakitan.
“Abellona, Kau kenapa?” tanya Millard sembari mendekapnya. Tubuh gadis itu menggigil, ia memegangi dada sebelah kirinya.
“Bernapaslah dengan benar, Adikku.” Justin memeluknya dari belakang lalu membaringkannya di sofa. Ia merapalkan mantra pemulihan pada Abellona untuk membuatnya tenang.
“Justin, apa yang terjadi?” Azzimir mendekati mereka penuh rasa ingin tahu. Justin menggeleng.
“Zayn, pergilah ke ruanganku, ambil botol berbentuk segitiga yang berisi cairan berwarna putih seperti susu. Cepat!” pinta Justin. Zayn mengangguk.
“Abellona, bernapaslah dengan benar.”
Abellona tidak mendengar ucapan Justin, ia hanya merintih dan menahan tangisnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mata terpejam dan terus saja memegangi dada sebelah kirinya. Rasa terbakarnya menjalar dan sekarang jantungnya seakan terikat dan ditusuk-tusuk belati hingga rasanya akan meledak. Suaranya terkekang di kerongkongan.
“Abellona, apa yang terjadi?” Justin semakin khawatir melihat keadaan adiknya. Millard juga merapalkan mantra penyembuhan padanya.
“Ka—kak ....” rintihnya, “sa—kit.”
Zayn pun kembali dengan membawa botol yang diminta. Justin meminumkannya pada Abellona. Beberapa menit kemudian, Abellona pun menjadi tenang. Napasnya sudah kembali teratur. Perlahan, ia membuka matanya.
“Kakak,” kata Abellona dengan suara lirih. Air matanya masih menetes.
Justin memeluknya dengan erat.
“Adikku, apa yang terjadi padamu?”
“Kakak, sekarang aku tidak apa-apa,” balasnya.
Millard memberinya segelas air. Azzimir terlihat khawatir dengan keadaan Abellona.
“Lady, bagaimana keadaanmu? Apa yang terjadi?”
“A, aku, tidak tahu.” Abellona menunduk, ia memegangi dada sebelah kirinya lagi.
“Apa dadamu sakit? Apa Kau terluka?”
__ADS_1
“Aku tidak tahu, Yang Mulia. Tiba-tiba saja dadaku sakit, jantungku serasa akan meledak.”
“Bagaimana sekarang?” tanya Justin khawatir.
“Aku sudah lebih baik,” balas Abellona masih lemas meskipun memaksakan tersenyum.
“Kalau begitu, aku boleh mengajukan pertanyaan padamu?” Azzimir ragu ingin bertanya padanya. Abellona mengangguk.
“Lady, bagaimana Kau bisa tahu itu adalah ilusi?”
Abellona menelan ludah dan menghela napasnya.
“A, a, aku pernah bertemu dengannya.” Gadis itu menjawab dengan suara bergetar.
Semua yang berada di sana bergidik mendengarnya.
“Apa?”
“Bagaimana bisa?”
“Apa kalian ingat penaklukan wilayah Kontinhte di bagian Timur Laut benua?”
“Ya, tentu saja. Penaklukan dramatis yang dilakukan oleh anak sulung Adelard, Tristan Remo. Memakan waktu berbulan-bulan karena di sana, selain banyak sekali monster yang mendiami hutannya, Kerajaan Myrone juga disinyalir mempelajari ilmu hitam,” terang Azzimir.
“Anda benar, Yang Mulia.”
“Lalu apa hubungannya?” pikir Justin.
Abellona menggigit bibirnya. Ia pasti kena omel lagi karena hal ini.
“Hmm, jadi begini -ehem- aku ikut dalam ....” Ia menggantung kalimatnya, ”penaklukan ... itu.”
“Apa?”
“Bagaimana bisa?”
“Kenapa aku tidak mengetahui hal ini?”
__ADS_1
Millard, Azzimir dan Justin berseloroh sahut-sahutan. Zayn menghela napas.
“Zayn, Kau mengetahui hal ini ‘kan?” selidik Justin.
“Begitulah, Tuan Muda.”
Justin mendengkus.
“Abellona! Apa yang Kau pikirkan?” sentak Justin dengan wajah marah sembari menepuk pundak adiknya dengan keras.
“Aku tidak memikirkan apa pun saat itu,” celotehnya polos. “Kalian pikir, aku mendapatkan julukan itu dari mana?” Senyum terkembang di wajahnya.
Azzimir dan Millard melongo mendengar jawabannya.
Justin berdiri dan sedikit mengumpat. Rasa kesal dan marah membuncah bersamaan.
“Ceritakan pada kami, bagaimana Kau bisa ikut dalam penaklukan itu? Sampai-sampai kakakmu tak mengenalimu?” tanya Azzimir.
“Aku mengubah wajahku,” timpalnya enteng.
“Hah! mengubah wajah?” dengus Justin, “Kalau begitu, aku akan mengajukan pada Departemen Pemakaian Sihir Terbatas kalau sihir mengubah wajah hanya boleh dilakukan oleh penyihir tertentu saja!” Justin murka.
“Ah, Kakak, ayolah,” rengek Abellona.
“Justin! Kumohon, biarkan adikmu menceritakan kisahnya. Ini demi penyelidikan!” protes Azzimir.
Millard coba menenangkan Justin. Ia memintanya untuk duduk dan memberinya secangkir teh. Setelah yakin Justin sedikit tenang, Azzimir pun meminta Abellona untuk meneruskan ceritanya.
“Lanjutkan, Lady.”
“Ehm, aku tidak yakin untuk menceritakan hal ini, karena ini pengalaman menakjubkan sekaligus terburukku." Abellona menghela napasnya, agak sedikit sesak tadi.
Mungkin, karena akan mengorek salah satu lembaran pahit sejarah hidupnya. Hingga, gara-gara hal tersebut, ia mendapatkan gelar sang pembuat onar. Entahlah. Yang pasti, ia tak bisa mundur lagi. Apa yang sudah diputuskan tidak akan ada yang bisa menggoyahkan keinginannya.
"Tapi aku akan mencobanya.”
Semuanya berusaha menyimak pengalaman yang akan Abellona ceritakan.
__ADS_1