
Daerah ini seharusnya sudah diberi sihir perlindungan oleh Zayn. Kalau bukan penyihir level atas, atau orang yang dikenal Zayn, berarti dia adalah penyusup yang memang sudah berada dalam hutan. Dari rambut dan tubuhnya masih menetes air danau. Embusan angin membuatnya menggigil kedinginan. Gigi yang menggeletuk dan tangan yang gemetar ditahannya untuk tetap fokus, meskipun jantungnya berdegup cepat.
“Cepat keluar! Kalau tidak, aku akan memanggil para centaurus!”
Dari seberang sungai, terdengar suara ranting yang terinjak dan semak-semak yang gemeresak. Seseorang berpakaian serba hitam dengan penutup kepala muncul dari balik pohon besar yang rimbun. Membuat sang gadis tak mampu melihat sosoknya dengan jelas hingga ia memicingkan matanya. Abellona sudah siap merapalkan mantranya bila orang itu melakukan penyerangan.
“Siapa kau? Berani sekali ....”
“Abellona, ini aku!” teriaknya. Ia berlari menuju cahaya matahari dan membuka penutup kepalanya.
“Milli? Apa yang kau lakukan? Bersembunyi, di sana?”
Millard mengangkat tangannya, wajahnya sedikit bersemu. Tiba-tiba saja para peri air muncul dan membuatkan jalan untuknya. Lelaki itu ragu untuk menghampiri Abellona. Selagi ia berpikir, gadis pujaannya malah berlari mendekatinya. Millard berjalan mundur dengan canggung.
“Hei, kau! Berani sekali mengintip seorang gadis yang sedang berenang! Cari mati, ya?” ancam Abellona seraya mendekatkan tubuhnya sembari berkacak pinggang.
“Ayo, jelaskan padaku, kenapa kau mengintipku?” tambahnya dengan nada kesal.
Millard berjalan mundur lagi sembari mengangkat tangannya di depan dada. Berusaha mencegah Abellona mendekatinya. Ia mencari cara agar wajahnya yang merona tidak diketahui oleh Abellona.
“Aku tidak sengaja. Setelah tugasku beres, aku langsung pergi ke istana duke. Namun, para pengawal bilang kalau kau sedang berada di hutan.”
“Lalu?” Abellona masih berkacak pinggang dengan sebelah kakinya ditekuk memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping.
Wajah Millard makin merona, tiba-tiba saja udara di sekitarnya menjadi panas. Ia kehilangan momen untuk memberi tahu gadis itu, bahwa penampilan Abellona sangat sensual. Ia merasa, lelaki rendahan sepertinya tak pantas melihat kulit tubuh putri seorang duke yang hanya terbalut kain tipis bercahaya itu. Akan tetapi, ia tak kuasa mengatakannya.
“Aku langsung kemari mencarimu, tapi aku tak menemukanmu,” balasnya terdengar begitu mencari alasan tak masuk akal. Ia memutar bola matanya, tak berani menatap gadis di hadapannya yang terlihat begitu ‘memikat?’.
Gawat, degup jantungnya bertalu-talu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menghindar dan berjalan menuju danau, berusaha mengubah topik pembicaraan. Millard memunggungi Abellona.
“Hei, mau kemana kau?” tukas Abellona mulai kesal dengan tingkah Millard yang aneh sejak tadi. Si gadis menarik lengan bajunya, hingga Millard berbalik menghadapnya lagi.
“Apakah ini tata krama seorang bangsawan ketika berlaku salah? Kau punya banyak kesalahan. Pertama, kau pergi tiba-tiba padahal kau sudah ditunjuk menjadi guru sejarahku. Kedua, kau hanya mengirimkan surat dua kali. Dua kali! Hanya meminta maaf dan menanyakan kemajuan pemahaman sejarahku? Hah!” cecar Abellona dengan nada meninggi, kemudian mendengus. Ia menunjuk-nunjuk dada Millard dengan kesal.
“Ketiga, kau telah menyuap pengawalku. Keempat, kau telah menyusup ke wilayah hutan pribadiku. Kelima, kau telah mengintipku. Keenam, kau tidak langsung meminta maaf atas kesalahanmu!” hardiknya lagi.
“A, Abellona jangan begini. Aku minta maaf. Kumohon menjauh dariku.” Millard berjalan mundur tanpa sadar menuju tepian danau. Perlahan menjejaki titian gelembung buatan para peri air tadi.
Para peri bunga terbang mengitari mereka. Berusaha membisikkan sesuatu pada Millard. Namun, yang bersangkutan tak menangkap isyarat itu. Para peri air juga terlihat panik.
__ADS_1
“Apa? Menjauh darimu? Hei, kau yang sudah melakukan banyak kesalahan, sekarang, kau bilang akulah yang harus menyingkir dari hadapanmu?” ujarnya bertambah kesal. Abellona terus berjalan maju sembari mengacungkan telunjuknya dan menekan-nekan dada Millard.
Millard yang tak kuasa menatap Abellona memandang ke sekelilingnya.
“Hei, tatap aku!”
Para peri yang panik bersuara seperti lonceng, berbunyi nyaring. Peri bunga meniupkan sesuatu dan berembuslah angin sepoi menerpa kulit Abellona. Seketika tubuhnya merinding dan menggigil. Ia baru sadar kalau tubuhnya hanya terbalut kain tipis bercahaya. Gadis itu terdiam sejenak.
“Akkkhhh!! Jangan lihat!” Abellona berusaha menjangkau mata Millard. Namun, lelaki itu terkejut dengan tindakan spontan Abellona hingga membuatnya terpeleset sembari menarik lengan sang gadis pujaan.
Byuuurr
Keduanya berenang ke permukaan dan menyembulkan kepala masing-masing. Mereka pun bersitatap.
Dengan sekuat tenaga, Abellona menampar Millard dengan tambahan cipratan air yang masuk matanya. Abellona berenang ke tepian dengan emosi dan rasa malu yang menggunung.
“Abellona!”
“Berhenti di sana! Sodiztan!” raungnya lagi dengan nada marah. Sebelumnya, ia menjentikkan jarinya dan tongkat sihir sudah berada di tangannya. Langkah Millard terhenti seakan ada yang memaku kakinya.
“Jangan melihat, tutup matamu!”
Millard pun seketika menutup matanya.
“Cukup! Dasar jahat! Mesum! Aku benci kau, Milli!” teriak Abellona.
Abellona sudah mengenakan pakaiannya lagi.
“Sungguh, aku minta maaf. Aku hanya kehilangan momen untuk memberitahumu ... hal itu.” Millard diam sejenak. Air menetes dari sekujur tubuhnya, perlahan mulai menggigil karena embusan angin menembus kulitnya. Ia duduk bersimpuh, siap menerima hukuman.
Abellona terisak. Millard masih menutup matanya, hatinya perih mendengar Abellona yang tersedu.
“Apa yang harus aku lakukan supaya kau memaafkanku?”
“Aku membencimu! Aku sangat membencimu!” pekiknya.
“Bencilah padaku, bila itu memuaskan hatimu. Tapi, kau tahu aku tak ‘kan bisa membencimu.”
“Kau sangat menyebalkan!” tukas Abellona dengan suara bergetar.
__ADS_1
Millard terdiam. Angin berembus lagi, ia kembali menggigil. Giginya mulai gemeletuk, tubuhnya pun gemetaran. Ujung rambutnya yang basah menggelitik lehernya. Tiba-tiba suasana menjadi hening. Detik berikutnya, hanya terdengar suara embusan angin dan para peri bak gemerincing lonceng.
“Abellona?” panggilnya. Namun, tak ada yang menyahut.
Matanya masih tertutup. Kegelapan yang meliputinya karena tak bisa melihat, membuatnya gundah. Keheningan seakan menyembulkan rasa takutnya yang terdalam. Kehilangan pencuri hatinya.
“Abellona!” panggilnya lagi. Lagi-lagi tak ada jawaban. “Abellona, kau dimana?”
Millard menengok ke arah kanan dan kirinya, walaupun matanya masih tertutup. Ia memasang semua panca indranya agar lebih fokus. Konsentrasi pada suara dan gerakan di sekelilingnya.
Seketika suasana hangat menyelimuti tubuhnya.
‘Apa ini? Kenapa rasanya hangat?’ tanyanya dalam hati.
“Abellona, jangan menakutiku! Jawab aku sekarang juga! Kau ada dimana?”
“Abe ....”
“Aku ada di sini,” bisik Abellona tepat di telinganya, membuat Millard terkejut dan terjengkang. Namun, ditangkap oleh Abellona.
Abellona terkekeh melihat Millard yang meronta-ronta.
“Buka matamu,” perintahnya dengan lembut.
Millard membuka matanya dan tersontak. Ia kembali terjengkang karena wajah Abellona hanya berjarak beberapa senti saja.
“Apa yang kau lakukan?” katanya dengan wajah yang memerah. Ia memegangi telinganya.
Abellona terkekeh. “Kau lucu sekali, Milli.”
Millard tersipu. “Ah, ini?” katanya dengan takjub. Ia baru menyadari ada perapian di dekatnya. Pantas saja, ada udara hangat yang menyelimutinya.
Abellona duduk menjajari Millard sembari menghangatkan tubuh.
“Bagaimana pekerjaanmu, Pak Guru?”
“Buruk.”
“Bagaimana bisa?”
__ADS_1
Millard mengangkat bahunya.
“Banyak sekali orang yang mulai mempelajari ilmu hitam.”