Penyihir Antagonis

Penyihir Antagonis
Sihir 5


__ADS_3

“Apa kau tahu makhluk bernama Manticore?” tanya Zayn dengan wajah datar. Abellona mengangguk.


“Aku pernah membacanya di buku Makhluk Unik Mengerikan. Manticore adalah makhluk bertubuh seperti singa, bersayap dan memiliki cakar layaknya naga dengan ekor beracun bak kalajengking. Makhluk menakjubkan yang ada di hutan pegunungan Freshie. Makanan mereka adalah daging.”


“Apa kau pernah melihatnya secara langsung, Nona?” Zayn tersenyum getir setelah mendengar penjelasan Abellona.


Abellona menggeleng, ia menatap para pelayannya, mereka pun melakukan hal yang sama.


“Apa kau tahu bahwa banyak kebohongan dalam buku itu?”


“Benarkah? Kau jangan bercanda Zayn. Mana ada buku berbohong? Lagi pula, para penyihir hebat berlevel sepuluh yang menyusunnya berdasarkan fakta-fakta yang ada. Jadi mana mungkin buku itu ditulis dengan asal?”


Zayn mendengus.


Abellona dan kedua pelayannya saling lempar pandang.


“Dalam buku itu disebutkan bahwa mereka memakan daging. Tapi tidak dijelaskan mereka makan daging apa bukan?”


Abellona mengangguk. “Mungkin mereka makan daging kuda atau rusa?” tebaknya. Sang pengawal terkekeh.


“Anda polos sekali, Nona.”


“Kalau bukan makan daging hewan, lantas apakah mereka makan daging manusia?” tebak Abellona asal sembari tergelak. Zayn terdiam, binar matanya berubah garang. Wajahnya menunjukkan ekspresi kemarahan.


Raut wajah sang majikan pun berubah drastis. “Tidak mungkin! Kau bohong!”


“Itu kenyataannya, Nona.”


“Mereka makhluk sangat buas. Bahkan, bisa dikatakan termasuk sepuluh makhluk paling buas di muka bumi ini. Konon katanya, manticore makhluk terbuas dan terkuat setelah naga,” lanjut Zayn.


“Apa?” pekik Abellona sembari menelan ludah. Sofie dan Marie juga sama kagetnya dengan Abellona.


“Tinggi tubuh mereka, dua kali tinggi tubuh manusia. Besarnya hampir sama seperti besar seekor mamoth. Yang mereka makan pun bukan daging hewan seperti rusa atau kuda. Mereka memakan manusia. Bahkan sampai tak bersisa.”

__ADS_1


Abellona dan kedua pelayannya terpekik, bulu kuduk mereka meremang. Zayn menghela napas.


“Mereka memiliki pemimpin bernama Mertikora, Ia dapat bicara dan paham bahasa manusia. Ia bertubuh lima kali lebih besar daripada menticore biasa. Memiliki tanduk yang meliuk nan menyeramkan dengan gigi-gigi runcing dan tajam yang mampu meremukkan tulang menjadi serpihan dalam sekejap.”


Abellona bergidik membayangkannya dan menepis pikirannya bila suatu saat berhadapan dengan mereka.


“Tapi, kenapa menticore memakan manusia?”


Zayn mengangkat bahunya.


“Menurut cerita yang kudengar, awalnya, mereka hanyalah satwa ajaib yang mengagumkan. Makanan mereka pun adalah hewan-hewan yang ada di hutan. Namun, karena ulah manusia yang mengganggu habitat dan memburu para menticore, membuat mereka murka. Membunuh untuk menyelamatkan diri. Mereka pun membunuh untuk membalas dendam. Lingkaran setan yang terus-menerus berputar seperti itu selama berabad-abad lamanya. Hingga para menticore berubah dan menjadi satwa buas. Manusia memang mengerikan, karena ulah manusia yang rakus, menyebabkan ketidakseimbangan antara sisi positif dan negatif.”


Zayn terdiam. Ia berdiri menatap langit biru dengan tatapan nanar.


“Apa kau tahu suara mereka seperti apa, Nona?” Zayn berbalik dan memandang wajah Abellona.


Abellona menggeleng.


“Suaranya bagaikan terompet. Bila raungannya menggema, sedetik kemudian jantungmu seakan berhenti berdetak. Napasmu seolah tersendat menyebabkan kepanikan luar biasa dalam tubuh, karena paru-paru yang tak mampu menyerap udara dengan baik. Raungannya bagaikan melodi kematian yang siap merenggut nyawamu pada detik berikutnya.”


“Apakah tidak ada cerita yang lain, Tuan Ksatria? Sepertinya saya tak mampu mendengar kisah ini selanjutnya. Saya permisi keluar, Nona. Lebih baik saya menyiapkan makan siang saja,” ucap Sofie undur diri.


“Tuan Zayn, bagaimana mungkin mereka bisa berubah menjadi makhluk buas?” tanya Marie penasaran.


“Benar! Hal yang sangat tidak masuk akal. Aku tidak ingat pernah membaca buku tentang perubahan hewan yang begitu drastis,” tambah Abellona.


“Sihir hitam. Mereka berubah karena sihir hitam yang kuat. Mereka mengadakan perjanjian dengan Black Wizard agar bisa menjadi makhluk yang kuat supaya bisa membantai para manusia terkutuk yang mengganggu hidup para menticore.”


“Untuk apa mereka melakukan hal jahat seperti itu?”


“Tidak ada yang tahu apa yang Black Wizard janjikan pada mereka.”


“Zayn, apakah kau pernah bertemu dengan menticore?” tanya Abellona.

__ADS_1


Zayn tidak menjawabnya, ia hanya memberikan tatapan sedih sekaligus marah, bagaikan menyimpan dendam.


***


Akhirnya, Abellona bisa menghirup udara segar, setelah seminggu dihukum tak boleh keluar dari kamarnya.


Ia masih kesal pada Millard yang tak bertanggungjawab meninggalkannya begitu saja di tengah pelajaran. Bahkan, sampai saat ini ia tak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Millard hanya memberikan sepucuk surat, sehari setelah ia pergi ke menara sihir, dan dua hari sesudahnya. Setelah itu, ia tak menerima surat apa pun lagi dari kawan sejak kecilnya itu.


“Milli kau menyebalkan! Guru macam apa yang meninggalkan muridnya seperti ini!” gumamnya sembari memacu kudanya ke dalam hutan. Zayn, mengikutinya dari belakang.


Abellona lalu menghentikan kudanya di sebuah ladang bunga, ia turun dari kudanya dan meminta Zayn jangan mengikutinya. Sang pengawal pun manut dan merapalkan mantra perlindungan di sekelilingnya.


Abellona berlari menyusuri ladang tersebut sembari merentangkan tangannya. Ia melompat-lompat dan sesekali tubuhnya berputar menikmati embusan angin.


Para peri bunga menebarkan serbuknya dan membuat bunga-bunga seketika bermekaran menyambut kedatangan sang wizard yang mereka tunggu-tunggu.


“Apa kalian merindukanku?”


Para peri mungil bersayap kupu-kupu mengelilinginya. Memakaikan mahkota bunga pada kepala Abellona dan memberikan sari-sari bunga yang dituangkan pada bunga tulip yang disihir menjadi sebuah cangkir.


“Ah, terima kasih!” Abellona dengan senang hati menerima cangkir tulip itu dan meminumnya dengan cepat.


Peri lain mendorong-dorongnya, membawanya terbang ke sebuah danau dengan kilauan warna-warni. Di sana para peri danau telah membuat sebuah lingkaran cahaya berbentuk pakaian. Dengan sedikit cipratan, lingkaran pakaian itu sudah menempel di tubuhnya menggantikan pakaian yang sebelumnya ia pakai.


“Baiklah! Aku terima undangan kalian.”


Abellona berlari dan menceburkan diri di danau pelangi dan berenang bersama ikan-ikan dan makhluk danau pelangi tersebut.


Setelah puas berenang, ia pun naik ke tepian danau. Namun, ia merasakan kehadiran seseorang tak jauh dari sana.


“Siapa di sana? Tunjukkan dirimu!”


Abellona mengacungkan tongkat sihirnya, waspada.

__ADS_1



*pic from pinterest, credit to owner


__ADS_2