Penyihir Antagonis

Penyihir Antagonis
Sihir 17


__ADS_3

Pria berambut panjang hitam, bertubuh tinggi tegap itu tertegun. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran dan penyesalan.


“Kau tahu ‘kan, kalau Abellona dan ayah sering kali adu mulut. Ayah selalu memintanya menjadi Sorcerer Agung tapi Abellona terus saja menolak. Malamnya pun ia kabur dari rumah. Ayah membuat kesalahan besar dengan tidak mencarinya kala itu. Ayah berpikir kalau ia tidak akan tahan berada di luar wilayah tanpa sihir yang mumpuni karena ayah telah mengekang Mana miliknya. Tidak disangka, gadis kecil itu malah ikut mendaftar jadi prajurit untuk ikut penaklukan.”


Justin geram mendengar cerita tersebut. Ia mengepal tangannya kesal.


“Bagaimana bisa, kakak tidak mengenali adik sendiri?”


“Aku tidak tahu! Sihir mengubah wajahnya sangat sempurna, bahkan ia tak gugup sama sekali ketika kami berhadapan! Ia sangat berani dan tak kenal takut. Ia bahkan mampu melindungi dirinya sendiri dari para monster dan penyihir jahat itu, meski sihir yang ia gunakan terbatas. Sampai ketika ia pingsan terkena kutukan.”


Kedua lelaki Adelard bertatap penuh kekesalan. Seakan mereka saling menyalahkan diri sendiri. Aura di sekitar mereka menegang.


“Memangnya, bukan kakak yang menerima para prajurit itu? Seharusnya, berkas para pendaftar, kakak yang pegang bukan?”


“Ya, kau benar. Tapi sebelum berkas itu sampai di tanganku, ayahlah orang pertama yang menyeleksinya.”


“Jadi, maksud kakak?” Justin meraba-raba arah obrolan ini.


Ia pun melirik pada Millard yang mungkin saja tahu sesuatu karena kawannya itu lebih sering bertatap muka dengan sang ayah ketimbang dirinya.

__ADS_1


“Millard, apa kau tahu hal ini?” tanya Justin tiba-tiba.


Yang bersangkutan menggeleng tapi ia sedikit ragu. Ia pun memutar otaknya seolah ada hal yang luput dari pikirannya.


“Ah, sebentar ... Sial!”


“Kenapa?”


“Rasanya, Tuan Duke pernah berkata sesuatu tentang hal ini. Saat itu, kebetulan aku sedang menghadapnya untuk memberikan hasil penelitian. Ia sedang sedang sibuk membaca lembaran tumpukan kertas di mejanya, daftar nama prajurit yang ikut penaklukan. Tapi, Tuan Duke seperti bicara sekilas tanpa arti apa pun. Tuan Duke bilang, ‘Dasar pembuat onar, kau pikir, aku tidak tahu kelakuanmu?.’


“Kukira, kalimat itu ditunjukkan untukku, tapi Tuan Duke bilang, kalau ia sedang bicara sendiri.”


Para lelaki itu bergeming, mencerna omongan Millard.


Millard menelan ludah dan menjawab dengan gugup, “Sepertinya iya.”


Tristan dan Justin melongo. Tristan pun menggebrak meja melampiaskan amarahnya. Justin berteriak marah dan Millard mengepalkan tangannya.


“Apa yang ayah pikirkan dengan meloloskannya ikut penaklukan?” tukas Tristan.

__ADS_1


Justin menghela napas.


“Sudahlah, lebih baik kita fokus untuk memulihkan Abellona. Beberapa hari lagi, penobatan dirinya sebagai bawahan putra mahkota akan dilaksanakan. Aku ingin dia menerima jabatan dengan elegan supaya julukan ‘pembuat onar’ luntur darinya,” kata Justin.


****


“Apa kalian sudah tahu, apa yang terjadi dengan Lady Abellona?” tanya Azzimir keesokan harinya. Mereka sedang rapat di ruangan sang putra mahkota.


“Iya, dia terkena kutukan dan racun viperish,” jawab Tristan.


“Viperish?” Azzimir melongo. “Tapi, racun itu mematikan bukan? Kau tahu dari mana kalau itu racun viperish, Tristan? Lagi pula, pohon viperia sudah dimusnahkan di seantero Athios.”


“Maka dari itu, aku pun tak yakin kalau reaksi yang terjadi pada tubuh adikku adalah racun atau sihir,” sanggah Justin.


“Aku sangat yakin kalau itu adalah reaksi racun viperish. Sudah berpuluh tahun aku menghadapi peperangan, dan aku sangat yakin itu reaksinya. Dan soal kutukan, sepertinya sihirnya bersinergi dengan racun itu. Entah bagaimana, racunnya seakan tertahan untuk muncul saat yang telah ditentukan.”


Suasana menjadi hening. Mereka memutar otak mencari secercah jawaban.


“Jadi maksudmu, shaman itu telah meramalkan hal ini akan tiba?” Azzimir mencoba menebak.

__ADS_1


“Iya,” sahut Tristan.


Justin dan Azzimir bergidik mendengarnya.


__ADS_2