
“Tiba-tiba sesuatu menyerangku tanpa aba-aba hingga mebuatku terjungkal!” Dengan wajah yang dibuat menyeramkan, Abellona pun mengangkat kedua tangannya di depan dada dengan jari-jari yang terbuka mengisyaratkan layaknya cakar.
Justin menggeram marah dan penasaran. Sihir membungkam mulut masih belum dilepaskan darinya.
“Apa yang menyerangmu, Nona?” tanya Zayn. Memang, ketika itu harusnya ia bersama dengan Abellona untuk patroli. Akan tetapi, gadis itu malah berkeliling sendiri.
“Itu adalah Wolifront. Kalian tau? Makhluk seperti serigala yang mempunyai bulu lebat berwarna hitam dengan ekor yang menjuntai. Di punggungnya terdapat semacam lukisan yang berkilau dalam kegelapan. Aku membacanya di buku Satwa Gaib Mengagumkan.” Abellona berceloteh dengan riang, seakan ia menikmati waktunya bertemu dengan hewan itu.
“Ia menjilati wajahku, lalu tiba-tiba saja ia terdiam dan menggeram. Matanya melotot melihat sesuatu yang berada di belakangku. Aku menoleh dan mendapati sosok bertopeng tengkorak sedang berdiri di belakang kepalaku. Entah kenapa, tubuhku gentar melihatnya, meskipun begitu, aku tak dapat berteriak. Darah menetes dari tangannya mengenai wajahku dan mengalir jatuh ke leherku. Membuat leherku tiba-tiba terasa perih.”
“Ia berjongkok, lalu mendekatkan wajahnya padaku. Dengan suara serak, ia berbisik padaku, ‘Tidak seharusnya kau berada disini, Nona. Rasa ingin tahu yang besar akan membunuhmu.’ Begitu katanya. Aku pun merinding seketika. Dari mana orang itu tahu kalau aku adalah wanita? Penyamaranku sempurna. Kataku dalam hati. Ia membuatku bergidik. Sungguh.”
“Lalu, terdengar suara teriakan yang berasal dari tempat berkemah. Aku menoleh ke arah suara teriakan, ketika aku menengadah, sosok itu dan Wolifront menghilang tanpa jejak.”
__ADS_1
“Tak lama setelahnya, Zayn pun menemukanku dan membawaku ke hadapan kak Tristan. Tentu saja ia sangat murka. Apalagi melihat darah menempel di wajahku. Aku hanya mengelak ketika ia bertanya bagaimana caranya aku bergabung dengan pasukan elite miliknya. Tentu saja, aku tak menjawabnya, dan ia pun murka.”
Zayn mangangguk.
“Dengan wajah yang begitu garang ia berkata, ‘Kau gila Abellona! Apa yang kau lakukan di sini? Cari mati?’ Aku pun membisu, tak mampu berucap. ‘Darah apa itu yang ada di wajahmu?’ tanyanya seraya mengusap wajahku.”
“Aku menceritakan apa yang kutemui tadi, kak Tristan bergidik. Raut wajahnya berubah cemas, ia pun memanggil pendeta suci yang ikut berperang bersama kami. Aku di mantrai sesuatu. Tiba-tiba saja leherku terasa seperti tercekik, jantungku berdegup cepat. Aku pun merintih karena seperti ada yang menusuk dadaku, dan semua gelap.”
"Saat itu, Tuan Tristan seperti orang gila, Nona. Dia mengerahkan seluruh pendeta suci dan healer untuk menyembuhkan anda," celetuk Zayn.
“Benarkah? Wow, aku tak bisa berkata-kata. Lalu, Apakah itu reaksi yang sama dengan yang terjadi baru saja padamu, Abellona?” tanya Millard penasaran.
Gadis itu mengangguk. “Tapi rasa sakitnya tidak separah tadi.”
__ADS_1
“Keesokan harinya, entah kenapa, aku bangun dengan tubuh yang bugar. Kak Tristan memintaku untuk tinggal bersamanya, ia pun berdalih mengangkatku menjadi pesuruhnya untuk menghilangkan kecurigaan prajurit lain.”
“Kami melajutkan perjalanan dan menyerang desa dan kastil yang sudah bersiap untuk perang. Para penyihir dan prajurit Myrone dengan gagah mempertahankan gerbang utama. Tembakan panah, kilatan sihir pun menghiasi udara dan langit Kontinhte. Satu persatu prajurit elite pun tumbang karena mereka seperti kerasukan. Mereka menggunakan sihir hitam. Kami pun kalah telak.”
“Kami mundur dan kakak pun putar otak memanggil para ahli strategi untuk mencari jalan keluar. Esoknya kami pun menyerang, dan kami kalah lagi. Selama berminggu-minggu berperang, mereka pun memanggil para monster untuk mengusir kami dan ingin mengalahkan kami. Aku menyaksikan dengan mataku sendiri, kakak menebas dengan mudah para monster tersebut. Ia merapalkan sihir dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menebas para monster yang mendekatinya.”
“Entah kenapa, mataku menangkap sosok yang kukenal. Dia berdiri di atas menara paling tinggi. Sosok bertopeng tengkorak, tapi ia bukan sosok yang aku temui malam itu. Badannya lebih ramping seperti wanita. Topeng yang dikenakannya pun seperti tengkorak anjing. Aura hitam menyelimutinya.”
“Shaman?” timpal Azzimir.
Abellona mengangguk.
“Kami pun masih tetap kalah. Lalu ketika malam datang. Entah mengapa dalam lelap, seseorang yang memanggil-manggil namaku dengan lirih. Mimpi itu terasa nyata. Aku tak merasakan tubuhku, rasanya ringan seperti bulu.”
__ADS_1
Abellona menghela napas.
“Panggilan itu terasa begitu dekat. Ia berbisik di telingaku, ‘bukalah matamu.’ Aku pun membuka mataku. Aku terkejut begitu melihat sekelilingku. Aku berada di hutan! Begitu dingin dan kelam. Aku melihat sesuatu tak jauh dari tempatku bangun bersinar seakan menatapku.”