Penyihir Antagonis

Penyihir Antagonis
Sihir 3


__ADS_3

Abellona dan Millard saling beradu pandang.


Millard Felix Baylor seorang Wizard yang bekerja di Menara Sihir. Memegang jabatan sebagai peneliti benda-benda yang dipakai sebagai media sihir hitam para Black Wizard. Ia juga seorang ahli sejarah dan termasuk Wizard jenius yang dalam waktu singkat naik level menjadi tingkat delapan.


“Jangan bercanda! Tidak lucu, tahu!” Abellona memukuli Millard. Ia pun tertawa terbahak-bahak. Walaupun dalam hatinya menaruh harapan agar sang pujaan mau menerimanya.


“Keterlaluan! Jahat!” Abellona balik badan sembari menyilangkan kedua tangannya depan dada. Millard masih tergelak.


“Maaf-maaf.”


“Menikah? Apa itu? Membuatku merinding saja!”


“Hei, suatu hari kau harus menikah. Kau tidak bisa terus bermain-main dan berbuat onar.”


Abellona adalah cinta pertamanya. Meskipun ia tahu bahwa, jika mengajukan lamaran padanya tentu akan ditolak mentah-mentah oleh duke, karena selain kedudukan yang hanya putra seorang baron, Abellona juga membenci kata 'menikah' sejak dahulu.


“Bicaramu menyebalkan! Keluar dari kamarku, aku tidak butuh teman jahat sepertimu!” seru Abellona geram dan menarik lengan baju Millard. Orang yang bersangkutan masih saja tertawa.


“Sudah! Berhenti tertawa!” Abellona menutup mulut Millard, sontak saja membuat lelaki berambut hitam itu terperanjat. Jantungnya seketika bertalu-talu.


“Milli, kalau kau masih tertawa juga ....” Abellona menjentikkan jarinya, sedetik kemudian tongkat yang terbuat dari gading mamoth dan pohon ignis pun sudah berada dalam genggamannya.


“Aku akan menutup mulutmu dengan sihirku. Supaya kau tak bisa meledekku lagi,” lanjutnya seraya mengacungkan tongkatnya. Wajah Abellona mendekati wajah Millard, jarak mereka hanya terpaut beberapa senti. Millard pun spontan mengerjapkan matanya kemudian mengangguk perlahan.


Ia menekan perasaan yang membuncah itu. Jantungnya benar-benar akan melompat dari tempatnya bila ia berdekatan lebih lama lagi. Millard menepis tangan Abellona dengan lembut.


“Baik, Nona. Maafkan aku,” balasnya seraya mengecup telapak gadis itu hingga membuat Abellona berjengkit.


“Hei! Siapa yang mengizinkanmu melakukan itu?” Abellona berdiri lalu berjalan menuju balkon untuk menghirup udara segar. Tiba-tiba saja suasana dalam kamarnya terasa sumpek.


“Cepat katakan, ada urusan apa penyihir level delapan sepertimu datang ke kediaman duke yang juga seorang Sorcerer Agung?” Abellona buru-buru mengalihkan pembicaraan. Angin semilir berembus sejuk, membuat rambut bergelobangnya melambai indah.


Millard berdeham, ia berjalan menghampiri Abellona yang bersandar di pagar tembok.


“Kau tahu ‘kan, kalau tahun ini akan diadakan ujian Sorcerer Agung?”

__ADS_1


“Apa?” Abellona melongo.


Millard nyengir dan terkekeh melihat wajah Abellona seperti orang bodoh.


“Pfftt!”


Gadis itu pun mengernyitkan dahinya. Ekspresi wajah Millard berubah menjadi terkejut.


“Lalu?’


“Hei, jangan bilang kau tidak tahu kalau akan ada ujian menjadi Sorcerer Agung?”


“Lalu?”


“Ah, Abellona? Kau sungguh tak tahu akan ada ujian menjadi Sorcerer Agung?”


“Sorcerer Agung, Sorcerer Agung terus. Aku bosan mendengarnya! Sejak minggu lalu semua orang bilang akan ada ujian menjadi Sorcerer Agung. Ya, lalu hubungannya denganku apa?” Abellona masuk kembali ke kamarnya dan menjatuhkan dirinya di sofa. Ia geram.


“Demi Dewa Apollo! Abellona! Salah satu calon Sorcerer Agung adalah dirimu!”


“Apa?” Abellona bangkit dari rebahannya. “Itu tidak mungkin!”


“Aku tidak suka membaca buku sejarah!” tukas Abellona. Millard melongo.


***


Millard meminta para pelayan membawakan buku sejarah keluarga Adelard, sejarah dunia sihir dan ilmu sihir juga sejarah kekaisaran. Pelajaran tersebut belum termasuk pembagian wilayah kerajaan, wilayah duchy dan daerah kekuasaannya, juga macam-macam sejarah lainnya.


“Apa ini?” Wajah Abellona pias melihat tumpukan buku-buku itu.


“Aku tidak menyangka ternyata adikku semalas ini?” Justin menyentil dahi adiknya, gemas.


“Aw! Kakak, ‘kan sakit!” keluh Abellona.


Millard terkekeh. Zayn sang pengawal berdiri di samping Millard sambil pura-pura tak melihat kejadian itu.

__ADS_1


“Selama kau dihukum, mulailah membaca buku sejarah. Ini dan ini terlebih dahulu, “ perintahnya. Justin menyambar buku sejarah keluarga Adelard dan buku sejarah para Sorcerer Agung.


“Eehh?” Abellona berjengkit. Ia menatap buku-buku yang bertumpuk di meja. Bukunya sangat tebal. Dan serinya ada banyak. Buku yang Justin ambil adalah sejarah keluarga Adelard seri ketiga dan sejarah para Sorcerer Agung, seri keempat? Tiba-tiba saja perutnya menjadi mual tanpa sebab.


“Millard akan membantumu belajar. Aku memintanya menjadi guru sejarahmu.”


Millard berdeham.


“Tapi, kakak, kita tidak boleh merepotkan penyihir level tinggi seperti beliau. Apalagi, hanya mengajariku belajar sejarah,” bujuk Abellona. Ia melirik kesal pada Millard. Yang bersangkutan hanya mengangkat bahu sembari tersenyum.


“Tidak apa-apa, lagi pula aku bangga bisa membantu calon Sorcerer Agung,” ucap Millard.


“Aaakkh, aku tidak percaya ini! Aku tidak mau belajar!” rengek Abellona.


“Baiklah, kalau begitu, aku serahkan adikku padamu, Tuan Millard Felix Baylor,” kata Justin berdiri seraya menepuk pundak kawannya itu. “Ah, satu lagi. Mulai hari ini, Zayn akan jadi pengawal pribadimu. Jadi, jangan macam-macam,” lanjutnya mengedipkan sebelah matanya.


“Apa? Kakak!”


Namun, Justin mengabaikan panggilan Abellona dan terus melenggang keluar kamar sembari melambai tanpa melihat ke belakang.


“Nah, sekarang ayo kita mulai pelajarannya.”


Abellona mendecih lalu mendengus. Ia menyambar asal buku seri sejarah Sorcerer Agung dan membuka halamannya dengan asal. Matanya tertuju pada sebuah nama yang sekilas ia baca hingga membuatnya penasaran.


“Clementine?”


“Ah, ya! Dia adalah calon Sorcerer Agung lainnya. Berasal dari keluarga Clementine. Dia sebaya denganmu, kalian pun satu angkatan juga waktu di sekolah. Lexie Rosaline Clementine.”


“Ah, dia!” seru Abellona mengingatnya. Raut wajah gadis itu berubah sebal, ia pun mendengus lagi.


“Kenapa?”


“Kami pernah berkelahi. Mengadu sihir, tepatnya.” Abellona buru-buru meralat ucapannya ketika Millard dan Zayn saling lempar pandang, terkejut.


“Nona pernah melawannya? Kenapa?” tanya Zayn penasaran.

__ADS_1


“Aku tidak menyukainya. Kau tahu? Di sekolah, kami selalu dibanding-bandingkan!” tukasnya lagi dengan enteng, hingga membuat kedua lelaki yang berada di kamarnya tersebut terkesima dengan sikapnya.



__ADS_2