
“Katakan padaku, bagaimana kau mendidik putrimu, Istriku?” raung Flippo pada seorang wanita berwajah sendu. Mata Abellona menurun darinya, Celeste Lerana del Adelard. Ia membungkuk memohon ampun pada suaminya. Di sampingnya, seorang wanita berumur tak jauh dari Celeste dan seorang gadis sebaya Abellona bersujud.
“Sofie! Marie! Apa saja yang kalian kerjakan hingga membiarkan Abellona pergi dengan pakaian tak pantas seperti itu!”
“Maafkan kami, Duke. Nona pergi diam-diam.” Sofie dan Marie gemetar ketakutan.
“Itu benar, Ayah. Mereka tak bersalah. Hukumlah aku!” Abellona mulai menitikkan air mata.
Pintu kayu berukiran bunga peony menjeblak terbuka. Seorang pria muda berambut cokelat dengan wajah mirip Celeste menerobos masuk. Dia adalah Justin Axel, putra kedua Adelard.
“Kakak!” ujar Abellona dengan suara lirih.
“Ayah, ada apa ini? Ibu bangunlah,” Justin memapah sang bunda yang terisak. Ia menatap sang ayah yang murka.
“Abellona? Pakaianmu? Jangan-jangan ...?”
“Iya, adikmu membuat onar lagi! Dia bahkan berkelahi dengan para warlock!” gelegar sang ayah murka.
“Apa?”
“Suamiku, kumohon maafkan dia,” bujuk Celeste.
“Kakak, tolong aku.” Abellona memeluk Justin.
“Ayah, karena hari ini Baron Baylor datang berkunjung, tidak baik rasanya kalau anda memarahi Abellona lebih lama dari ini. Berikanlah ia hukuman,” Justin menatap manik biru adiknya. “Maaf adikku, kali ini kau sudah keterlaluan. Aku tidak bisa membantumu.”
“Abellona, kau dihukum tidak boleh keluar kamar selama seminggu! Sekarang, pergi dari hadapanku!”
“Terima kasih, Ayah.” Justin memberi isyarat pada kedua pelayan Abellona untuk membawa sang adik pergi.
“Terima kasih, Duke,” Sofie dan Marie bersahutan. Sedangkan Celeste coba menenangkan Flippo.
Di dalam kamar, Abellona terus terisak, ia merasa bersalah. “Maafkan aku, Sofie, Marie.”
“Sudah, Nona, jangan menangis. Sekarang, Nona ganti baju, mandi lalu tidur, ya,” bujuk Sofie, ibu asuh Abellona.
“Sofie, maaf,” rengek gadis itu seraya memeluk ibu asuhnya. Sofie menggeleng lalu tersenyum. Begitu juga Marie yang masih merinding bila ingat kemarahan duke.
“Ya, ampun, Nona! Baju dan celana anda, robek-robek begini!” Pelayan muda itu terkejut karena dia baru menyadarinya sekarang. Sofie pun terlihat panik. Abellona hanya terdiam, ia masih terisak.
“Cepat, lepas bajunya!”
“Ya, Tuhan! Nona?” Sofie menutup mulut dengan tangannya, ia terpekik melihat banyak luka di tubuh majikannya.
“Aku tidak apa-apa,” jawab Abellona. “Hanya luka segini saja tidak masalah, kok. Jangan khawatir.” Ia pun nyengir.
“Pantas saja, duke murka!”
Setelah berendam, kedua pelayan Abellona membersihkan dan mengobati lukanya dengan seksama. Meskipun lukanya terbilang ringan, tapi Sofie dan Marie merawatnya dengan hati-hati.
Tak lama berselang, ada yang mengetuk pintu kamarnya. Rambut keemasan menyembul di sana.
“Abellona,” Justin nongol dari balik pintu dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
“Kakak!”
Ia pun masuk membawa nampan berisi makanan.
“Ya, ampun, Tuan Muda, kenapa anda membawa makanan itu sendiri? Mana pelayan yang lain?” Sofie yang sedang mengoleskan salep pada Abellona, meminta Marie untuk segera mengambil nampan itu darinya. Namun, Justin menggeleng.
“Tidak apa-apa. Aku memang sengaja membawakan ini untukmu adikku. Kau pasti lapar ‘kan?”
Abellona merengut. Ia memegangi perutnya yang keroncongan sedari tadi. “Kukira, aku tidak akan diberi makan malam juga oleh ayah.”
“Memang tidak! Supaya kau kapok!” ucapnya setelah menaruh nampan itu di meja. Ia duduk bersisian dengan Abellona. Matanya menelusuri tubuh sang adik yang terluka.
“Lukamu ringan. Jadi, aku tak perlu mengobatimu ‘kan?” Justin menghela napas lalu mengusap kepala Abellona.
Justin memberi isyarat pada para pelayan untuk meninggalkan mereka berdua. Ia adalah Wizard sekaligus Summoner atau penyihir yang memiliki spirit, jin atau roh yang akan membantunya bila ia dalam kesulitan. Sang kakak pun seorang Healer yang bisa mengobati luka-luka.
Tidak semua orang mampu menjadi Summoner dan Healer sekaligus. Lebih tepatnya, tidak semua orang mampu menguasai ilmu multidisiplin seperti keluarga Adelard.
“Ayah juga yang bilang begitu ‘kan?” Ia juga menghela napas panjang.
“Adikku, apa kau tahu kenapa ayah berbuat seperti itu? Melarangmu ini dan itu?”
“Tentu saja! Ayah sejak dulu selalu mendiskriminasi. Mentang-mentang anak perempuan, seluruh kegiatanku membosankan. Untuk apa aku belajar sihir, berpedang dan memanah? Aku ingin ikut perang seperti kak Tristan. Aku juga ingin membantu melawan para monster dan naga! Aku benci ayah! Benci!”
“Abellona! Jaga ucapanmu!”
Abellona tidak kuasa menahan rasa kesalnya lagi. Kontras dengan emosinya yang meluap, bulir kristal dari pelupuknya satu per satu lolos dari tanggulnya. Ia pun mendengus sebal.
“Abellona, apa kau tahu kalau keluarga Adelard sulit memiliki anak perempuan?” Manik biru milik Justin beradu dengan manik serupa milik sang adik. Abellona menggeleng sembari menatap pemilik mata dengan sinar lembut itu.
“Karena ayah menyayangimu lebih dari kami, dirinya dan lebih dari apa pun di dunia ini. Keluarga Adelard sangat sulit mempunyai anak perempuan. Selama ratusan tahun menunggu, akhirnya kau lahir. Kau adalah anugerah dari dewa untuk ayah dan ibu, juga bagi keluaarga Adelard.”
“Benarkah? Kurasa tidak begitu.” tanya Abellona tak percaya.
“Apa kau tidak membaca buku sejarah?”
“Sejarah adalah pelajaran yang kubenci.” Justin mengangkat sebelah alisnya kemudian membelalak. Ia menepuk jidat dan menghela nafasnya. Abellona nyengir dan menjulurkan lidahnya.
“Di sekolah dulu, pasti diajarkan tentang sejarah Wizard dan Sorcerer Agung ‘kan? Bagaimana cara Wizard menjadi seorang Sorcerer Agung, siapa saja yang pernah menjadi Sorcerer Agung. Juga, ujian menjadi Sorcerer Agung ‘kan?” Justin meraba-raba kalimatnya, berusaha membuat adiknya mengingat pelajaran sejarah yang penting tersebut.
“Kurasa—pernah?”
“Ya, ampun Abellona!” Lelaki berambut emas itu berdiri dari duduknya, ia berjalan menjauh dan memegangi kepalanya. Justin berjalan mondar-mandir sambil sesekali menghela napas untuk meluapkan rasa geram dan gemas pada adiknya yang tidak tertarik pada sejarah keluarga ataupun sejarah dunia sihir.
Abellona menutup wajahnya, takut diomeli.
“Aku ‘kan sudah bilang, aku tak suka pelajaran sejarah!”
“Iya, tapi ... ini ... Ah, sudahlah! Pantas saja, kau selalu dimarahi ayah.”
“Ayah— dan kami semua menyayangimu. Ayah mempunyai harapan yang besar untukmu.” Justin mendekati sang adik dan berlutut di hadapannya. Ia menggenggam tangan Abellona dan menatap wajahnya.
“Lagi pula, kekuatan dan sihirmu bukan untuk itu. Ada sesuatu yang lebih besar yang harus kau hadapi nanti. Menjadi Sorcerer Agung.”
__ADS_1
Abellona membelalak.
“Apa? Sorcerer Agung? Seperti ayah?”
Justin mengangguk.
“Meskipun kekuatanmu masih belum cukup kuat, tapi kau orang cepat belajar dan mampu merapal juga mengingat mantra dengan baik. Namun, egomu masih belum stabil.”
Abellona mendecih.
“Sudahlah, lebih baik kau isi perutmu, lalu tidur. Ibu sangat mencemaskanmu, tahu?”
***
Matahari sudah meninggi, cahayanya menyelusup masuk melewati celah gorden yang terbuka. Suara cicit burung dan rutinitas pagi sudah dimulai sejak sang raja siang bahkan belum menampakkan dirinya. Ketukan pintu tak jua mampu membangunkan gadis berambut sewarna anggur itu.
Sofie dan Marie masuk dengan perlahan dan membangunkan sang majikan dengan lembut. Meskipun matanya enggan untuk terbuka tapi tubuhnya sudah otomatis melakukan gerakan yang dipandu oleh pelayannya.
“Nona, hari ini cuacanya cerah. Koki sudah memasak makanan spesial.”
“Hemm.”
“Tuan Millard juga sudah menunggu anda sejak tadi.”
“Apa? Milli?” Mata Abellona terbelalak. “Cepat! Cepat! Aku sampai lupa kalau dia menginap di sini.”
Millard Felix Baylor, teman sekolah Justin dan menjadi dekat dengan Abellona sejak masa itu . Karena Baron Travis Baylor adalah pendeta kuil suci yang harus melaporkan segala macam aktivitas kuil suci pada Sorcerer Agung, ia pun rutin mengunjungi kediaman Adelard.
Tok tok tok
Pintu kamar Abellona diketuk, seorang butler masuk memberikan kabar kalau Millard datang berkunjung.
“Suruh masuk.”
Lelaki berambut hitam dengan bola mata berwarna hazelnut pun masuk ke kamarnya. Teman sejak kecil Justin ini sudah sejak lama menaruh hati pada adik kawannya.
“Milli!” sambut Abellona seraya memeluknya.
“Hei, apa kau rindu padaku?” Millard menatap dengan lembut iris biru Abellona.
“Tentu saja! Sejak kau menjadi pendeta penyihir di kuil suci, kau tidak pernah lagi berkunjung kemari. Sama seperti kak Justin. Sejak bekerja di istana Joergen, ia juga jadi jarang pulang.”
“Jadi, kau kesepian?” Millard membelai rambut Abellona.
“Sudah pasti!” jawabnya mantap. Ia mendongak dengan masih melingkarkan tangannya pada Millard.
Lelaki itu mengangkat sebelah bibirnya, wajahnya sedikit merona. Ia bahagia hanya mendengar kalimat tersebut meluncur dari mulut pujaan hatinya. Namun, Millard harus tetap menjaga perasaannya dengan memasang ekspresi biasa, meskipun jantungnya saat ini melompat kegirangan. Ia meluapkan rasa rindu yang membuncah itu dengan mendekap balik Abellona.
Abellona menjauhkan tubuhnya lalu menarik tangan Millard untuk mengajaknya duduk.
“Oh iya, ada perlu apa kau kemari?”
“Melamarmu.” Millard menatap wajah Abellona dengan serius.
__ADS_1