Penyihir Antagonis

Penyihir Antagonis
Sihir 16


__ADS_3

Mereka saling menatap. Hening.


"Kalau dia menyukaiku, apa kau akan marah? Atau kau akan bahagia?"


Hening lagi. Tiba-tiba saja lidah Abellona menjadi kelu. Ia tak berani menatap Millard. Sang pemuda membelai rambut Abellona dengan lembut.


Millard tersenyum getir, segera menjauhkan tubuhnya dari Abellona. Meninggalkan rasa sesak yang tak bisa dijelaskan oleh gadis itu.


“Maaf,” ucap Millard seraya mengalihkan tubuh dan pandangannya dari Abellona.


“Tidak seharusnya aku melakukan ini padamu. Maaf, selalu membuat canggung. Lebih baik kau beristirahat.”


Millard melengos dan menyambar jubah yang disampirkannya di sofa.


“Milli, aku ….” Abellona tak sanggup meneruskan kalimatnya.


“Sampai jumpa besok,” tutup Millard tanpa menoleh. Ia menutup pintu di belakangnya dengan perlahan dan menghela napas panjang.


Abellona merasa ada sesuatu yang menyakitkan menusuk dadanya. Millard pun tanpa Abellona ketahui merasakan hal yang sama dengan gadis itu.


Sejahat itukah Abellona sampai-sampai ia membuat kawannya tersebut menjadi sedih? Mereka terlampau dekat, dan gadis itu hanya menganggapnya sebagai kakaknya saja. Tidak ada perasaan lebih untuknya.


Abellona menghempaskan diri ke sofa. Lama kelamaan beringsut merebahkan tubuh, tangannya menutupi wajah. Pikirannya melayang.


Semakin lama, lelucon Millard semakin menyebalkan. Menyebalkan? Abellona tidak merasa seperti itu juga, sih.


“Akh! Aku ini kenapa? Aku senang sekaligus takut akan ungkapan hatinya itu.” Abellona menendang-nendang kakinya ke udara dengan kesal.


“Tidur sajalah!”


*****


“Abellona … Abellona!”


Suara bisikan terdengar sangat dekat di telinganya. Abellona menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti ada seseorang yang memanggilnya.


Namun, sekelilingnya sangat gelap, ia tak bisa melihat apapun juga. Jantungnya berdegup dengan kencang, rasa takut dan cemas mulai membuncah. Udara di sekitarnya pun dirasa menipis.


“Ah, sesak sekali.”


“Abellona …”


“Siapa itu? Tunjukkan dirimu!” tantangnya. Ia mengumpulkan segenap keberanian untuk menghadapi ‘sosok’ itu.


Secercah cahaya muncul berjarak beberapa meter darinya. Cahaya itu seperti sebuah api sebuah obor kecil. Dari belakang cahaya api itu muncul gumpalan hitam dari tanah yang yang berwarna pekat. Lama kelamaan meninggi serupa manusia dari bayangan gelapnya malam.

__ADS_1


“Abellona,” panggilnya. Abellona terpekik, ia melihat sosok yang dikenalnya.


“Milli?” Abellona mengernyitkan dahi. “Milli, kenapa kau di sana? Kemarilah.”


Wajahnya terlihat sedih dan murung. Aneh sekali dengan penerangan yang seredup itu, ia bisa melihat wajah Millard dengan jelas.


Abellona hendak menghampirinya, tapi kakinya tak bisa digerakkan.


“Milli!”


Dari belakang Millard muncul sosok hitam lainnya. Tangan dengan kuku panjang dan hitam perlahan menggerayangi wajah Millard. Lalu tubuhnya mulai dililit oleh rantai hitam bercairan hijau yang menetes-netes di tanah dan berasap. Wajah Millard berubah pucat. Dari matanya keluar darah.


“Milli!”


“Abellona!”


Abellona meronta ingin melepaskan belenggu yang memaku kakinya, tapi ia tak kuasa. Semakin kuat ia meronta seakan semakin kuat juga kakinya belenggu itu. Tiba-tiba saja sesuatu terbang ke arahnya dan mencekik lehernya, membuatnya terjungkal.


Sosok aneh itu sudah berada di atasnya masih dengan mencengkram lehernya. Abellona menahan dan memukul-mukul tangan pucat berkuku panjang miliknya dengan segenap tenaga. Wajahnya sangat buruk, kusam, kotor, dan penuh luka. Matanya menonjol seakan akan keluar dari tempatnya, mulutnya sangat bau hingga membuat Abellona mual. Rambut panjang terjuntai dan membelenggu Abellona. Sesak.


Abellona menoleh mencari Millard. Ia terbaring lemah dengan darah bercucuran dari tubuhnya.


“Milli!” panggilnya dengan suara tercekat.


“Membunuhmu!” pekik sosok itu dengan suara melengking.


Cengkraman dan belenggunya semakin kuat.


“Aakhh!” teriaknya.


“Wakeonopen! Abellona!” teriak Justin merapal mantra.


Mata Abellona membelalak. Ia terbatuk dengan keras.


“Abellona!” Justin memanggilnya lagi.


Asap hitam menghilang tiba-tiba ketika Tristan merapal mantra perlindungan.


“Abellona! Kau tidak apa-apa?” teriaknya sembari mengguncang-guncangkan tubuh sang adik.


Tatapan Abellona kosong, ia menerawang. Lehernya membiru, wajahnya pias. Justin dan Millard mendudukkan sang gadis yang lunglai dengan tubuh yang mulai dingin. Mereka berdua mulai merapalkan sihir penyembuhan.


“Maaf adikku,” ucap Tristan lirih. Merobek pakaian bagian atas Abellona.


“Kakak! Apa yang kau lakukan?” Justin mencengkram tangan sang kakak geram.

__ADS_1


“Apa itu?” tanya Millard.


Sebuah symbol aneh muncul dan bersinar di dada sebelah kiri Abellona. Lalu pembuluh darahnya perlahan timbul di sana. Ia merintih kesakitan.


“Abellona kenapa? Jangan bilang … dia kena kutukan?” Millard punya sebuah pemikiran yang menakutkan hingga membuat dirinya dan Justin bergidik.


“Ya,” ucap Tristan lirih. Ada penyesalan dan kecemasan dalam nada bicaranya.


“Apa? Bagaimana bisa?” balas Justin tak percaya dengan ucapan sang kakak.


“Justin, hentikan kekhawatiranmu itu. Lebih baik kita obati Abellona sekarang!” sahut Tristan.


Ketiga lelaki itu merapalkan mantra penyembuhan dan perlindungan khusus untuk Abellona. Tristan pun memerintahkan Justin meminta orang-orang dari departemennya untuk membawakan dan membuatkan ramuan penangkal racun.


Simbolnya bersinar memancarkan cahaya kemerahan. Tristan menekan symbol itu hingga membuat Abellona mengerang kesakitan. Pembuluh darahnya mengalirkan darah berwarna hitam pekat. Sakitnya terasa seperti ditusuk. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berteriak kesakitan. Namun, Tristan bergeming dan makin menekannya dengan kuat sembari merapalkan mantra.


Aliran darahnya mengalir cepat tak normal layaknya arus air. Abellona mengerang lagi, Tristan pun memegangi wajahnya dan memaksa adik perempuan meminum cairan berwarna kuning.


Abellona mengejang dan berguling-guling. Ia memegangi lehernya merasa kesakitan, perih dan terasa kering. Ia tak bisa bernafas, sesak. Justin dan Millard memeganginya yang meronta dan mengerang lagi. Tristan memaksanya untuk meminum ramuannya lagi. Botol yang kelima sekarang.


“Telanlah Abellona!” Tristan dengan suara bergetar. Ia membekap mulut sang adik agar tak memuntahkannya cairan tersebut.


Perlahan sinar simbol itu meredup. Abellona membelalakkan matanya lagi, kerongkongannya bergerak ke atas dan ke bawah, mulutnya mengembung, wajahnya makin pucat. Dengan sigap, Justin menaruh sebuah bejana di depan Abellona. Ia pun memuntahkan cairan kental berwarna hitam pekat. Sangat banyak seperti air terjun yang tiada habisnya.


“Apa ini?” Justin terlihat jijik.


“Itu adalah racun viperish,” jelas Tristan.


“Apa? Racun viperish? Tapi, kalian bilang, Abellona terkena kutukan?” Justin tak mengerti arah pembicaraan mereka.


Setelah memuntahkan cairan kental itu, wajah Abellona berangsur membaik. Aliran darahnya pun perlahan kembali berwarna merah. Lambat-lambat pembuluh darah yang menyembul itu pun menghilang. Hanya menyisakan sebuah symbol aneh layaknya guratan tato di dadanya. Ia lunglai dan tertidur.


“Degup jantung dan napasnya kembali normal. Aku akan memanggil bawahanku untuk menggantikan pakaiannya,” tukas Justin memeriksa adik kesayangannya. “Ayo pindah ke ruang kerjaku.”


Mereka berjalan melewati pintu kayu, ruang kerja Justin tepat berada di samping kamar yang ditempati oleh Abellona. Ia pun memerintahkan beberapa pegawai wanita untuk merawat Abellona.


“Jadi, bagaimana Abellona bisa terkena kutukan itu, Kak?”


Justin menatap marah sang kakak.


####


Hallo, udah seminggu lebih gak update ya? authornya sakit nih, hehehe. Boleh kasih rate dan support votenya? supaya tambah semangat nulis dan updatenya 🤭🤭


makasih ❤❤

__ADS_1


__ADS_2