
Seorang anak perempuan sedang berlari ketakutan, wajahnya sangat pias dengan bibir pecah-pecah. Tubuhnya dipenuhi luka. Jantungnya berdegup kencang, sampai terkadang ia menahan napasnya untuk membuatnya tetap tenang.
Senja yang cerah telah berubah menjadi warna oranye kehitaman. Asap kelabu mengepul, bersatu padu dengan awan hitam penuh percikan sihir. Bagaikan parade kembang api menghiasi langit dengan teriakan-teriakan histeris dan rapalan mantra-mantra di bawah langit itu.
Sebuah raungan dari kejauhan terdengar menakutkan. Bagaikan melodi kematian yang akan merenggut nyawanya kapan saja.
Debam ledakan dari jarak tak jauh darinya membuatnya limbung hingga terjerembap akibat getarannya. Ia pun gentar, tak berdaya. Hanya isak penuh rasa takut. Tiba-tiba muncul sesosok manusia berpakaian serba hitam yang melayang di atasnya. Wajah sosok itu tak terlihat sedikit pun. Sedetik kemudian, seekor makhluk bertubuh anjing berekor kalajengking berjalan perlahan dengan arogan dan memancarkan aura membunuh. Ia memamerkan giginya yang tajam
“Kumohon, jangan bunuh aku!” Dengan napas tersengal anak itu meminta belas kasihan mereka. Sedetik kemudian, monster itu menerkam sang bocah.
Hal itu membuat seorang lelaki muda tersontak. Napasnya memburu, ia terbatuk tiada henti hingga membuat dadanya sakit.
“Yang Mulia, jangan melakukan ini!” ujar seorang lelaki berpakaian pengawal merangkulnya dan melemparkan selembar kain berbentuk baju terkoyak penuh dengan darah.
“Ingatan yang ditinggalkannya itu ... sungguh kejam, monster dan sosok itu membunuhnya. Anak itu masih kecil, George!” teriaknya pilu.
“Tidak ada yang bisa kita lakukan, kota itu telah hancur!”
“Tidak! Kita bisa memburunya dan mencari tahu siapa sosok itu dan kenapa monster itu ada bersamanya? Segera kumpulkan para tetua, pendeta suci dan para wizard di menara sihir!” titahnya.
“Siap! Laksanakan!” seru si pengawal.
Lelaki muda berambut pirang itu adalah Azzimir Hector Giannes, Putra Mahkota Kekaisaran Campione. Ia merebahkan dirinya di sofa ruang kerjanya, kepalanya pening dan tubuhnya terasa sedikit lelah karena telah melihat ingatan seseorang. Azzimir memiliki anugerah Memoar dari dewa, ia mampu melihat masa lalu orang lain yang ia inginkan.
Munculnya benda-benda terkutuk dan monster aneh membuatnya kurang tidur dan selalu memaksa memutar otaknya. Sejak Azzimir naik takhta, bukan hidup damai yang muncul di kekaisaran, sebaliknya mulai bermunculan black wizard dan monster berbentuk hybrid yang buas dan menyeramkan.
Untuk itulah, ia memerintahkan menara sihir supaya menginvestigasi masalah tersebut. Namun, meskipun sudah beberapa hari mengadakan rapat, ia tetap saja belum mendapatkan jawaban memuaskan dari mana benda-benda terkutuk itu berasal.
Tiga hari berlalu sejak rapat terakhir diadakan, Azzimir masih terjebak di Menara Sihir berkutat dengan masalah-masalah ilmu hitam. Ia telah menerima pesan dari wizard level delapan yang bekerja di Departemen Sejarah dan Penelitian Benda Terkutuk.
Saat sedang berpikir seperti itu, seekor burung hantu datang menyelinap masuk ke ruang kerjanya dari balkon yang terbuka. Burung itu langsung bertengger di kayu ukir tempat menggantung jubah. Ia membawa sepucuk surat di kakinya, Azzimir buru-buru membukanya.
‘Kemuliaan semoga selalu tercurah pada Anda, Yang Mulia Putra Mahkota. Saya datang memberi kabar, jika putri saya akan berkunjung ke Menara Sihir untuk meminta izin bekerja di bawah Anda langsung. Ia akan membantu masalah terkait para Black Wizard dan benda-benda terkutuk. Saya harap, Anda berkenan memberikan ilmu baru pada putri pembuat onar saya itu. Salam. Flippo Bernard del Adelard.’
__ADS_1
“Millard Baylor ... hmm?” Azzimir coba mengingat perkataan bawahannya sembari mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. “Dia bilang kalau putri Duke Adelard mempunyai sebuah pemikiran jikalau benda-benda terkutuk itu dijual di pasar gelap atau pelelangan?” Seketika Azzimir tergelak.
“Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? Ini menarik sekali,” gumamnya masih terkekeh.
“George! George!” panggilnya pada pengawal yang berada di luar ruangannya. Sang pengawal pun masuk dan menghampiri.
“Ya, Yang Mulia,”
“Panggilkan Justin del Adelard!”
“Baik, Yang Mulia.” George pun bergegas mencari orang yang dimaksud.
Azzimir menuliskan balasan surat untuk Duke Adelard. Setelah melipatnya, ia bangkit dari duduknya kemudian mendatangi burung hantu yang sedang bertengger sembari menutup mata. Putra Mahkota menyelipkan surat itu di kakinya dan mengikatnya. Burung hantu itu membuka matanya perlahan. Azzimir lalu menyodorkan lengannya, agar sang burung dapat berpindah ke sana. Ia pun berpindah seperti yang diharapkan Azzimir. Lelaki berambut pirang tembaga itu melenggang ke arah balkon kemudian menerbangkan sang burung hantu pembawa surat.
Azzimir mengangkat tangannya ke atas untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku. Ia kemudian memegang tepian pagar seraya menghirup udara segar lalu mengembuskannya. Putra Mahkota mengangkat tangannya untuk menaungi mata menatap matahari yang bersinar hangat hari ini, ia pun tiba-tiba tersenyum. Azzimir terkenang akan Abellona, gadis kecil berambut sewarna anggur yang pernah ditemuinya beberapa puluh tahun yang lalu.
Tok tok tok
Suara pintu diketuk, tanpa sang pemilik ruangan berucap sepatah kata pun, seseorang muncul dari baliknya. Azzimir hanya menoleh sedikit, untuk melihat siapa yang datang.
Putra Mahkota membalikkan badannya dan bersandar di pagar tembok.
“Oh, Justin. Aku sudah menunggu kedatanganmu. Kemarilah!” ajaknya.
Justin pun mendekatinya. “Ada apa Yang Mulia memanggil Hamba?” ucapnya dengan wajah datar.
“Hei, kau tak perlu kaku begitu. Kita sudah sepakat ‘kan untuk memanggil nama bila kita berdua saja.” Azzimir menyikut pelan lengan Justin. Namun, ia bergeming.
“Ah, aku tahu! Kau pasti sudah dengar, kalau ayahmu memintaku untuk memperkerjakan adikmu di bawahku bukan?” tanya sang Putra Mahkota, “apa itu yang membuatmu kesal?”
Justin masih diam. Raut wajahnya berubah masam, tapi ia berusaha menutupinya. Ia tahu tak bisa menyembunyikan apa pun dari sahabat sejak kecilnya itu.
“Maafkan Hamba, Hamba tidak berani Yang Mulia,” ujarnya kemudian. Ekspresinya berubah khawatir sekarang.
“Anda tahu ‘kan adikku itu seperti apa? Dia bahkan ... terkenal di kekaisaran.” Justin seakan berat mengatakannya, ia pun menghela napas panjang.
__ADS_1
Azzimir terbahak mendengar ucapannya.
“Iya, adikmu sangat terkenal di kekaisaran! Oh, Aku baru ingat sekarang! Abellona, putri del Adelard sang pembuat onar yang memesona dan mengagumkan,” tukasnya, “begitu bukan, nama panggilannya?” Ia tergelak lagi sembari menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.
“Yang Mulia!” keluh Justin lemas mendengar panggilan sang adik disebut olehnya.
“Maaf-maaf.” Azzimir masih terkekeh. Ia beranjak dari balkon ke dalam ruangannya lagi, lalu duduk di sofa empuknya yang elegan.
“Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa, ayahku memberinya izin untuk bekerja bersamamu ... membantumu?” Justin menyatakan keberatannya, “hah! Yang benar saja!”
Justin mengikutinya masuk ke ruangan, Azzimir pun menyuruhnya duduk.
“Hei, Justin, dia itu kandidat Sorcerer Agung. Kau tak boleh lupa itu. Cepat atau lambat, ia harus bergabung dengan Menara Sihir dan Kuil Suci untuk bersama menjaga dunia ini sebagai Sorcerer Agung selanjutnya.”
Justin menghela napas panjang lagi, ia seakan meragukan keahlian dan kompetensi adiknya sendiri.
“Kau benar. Dan aku tidak lupa hal itu. Hanya saja ....” Ia menggantungkan kalimatnya.
“Hanya saja, kau tidak mempercayainya, bukan?”
Justin terdiam, Azzimir menebak dengan tepat. Rasanya, seperti ada suatu lubang yang menganga seketika dalam dadanya.
“Seharusnya, dia sudah bergabung dengan Menara Sihir setelah lulus sekolah. Tapi ....”
“Kau benar, adikku sangat terlambat. Tidak seperti Lexie. Dia bahkan telah tergabung menjadi wizard level empat di Departemen Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Ia juga sedang mempelajari sihir-sihir baru di Departemen Penelitian dan Pengembangan Ilmu Sihir Kontemporer. Kau bisa bayangkan hal itu?” Justin seketika merasa kesal pada Abellona yang selama ini selalu saja bermain-main.
“Ngomong-ngomong, benda-benda terkutuk yang ditemukan oleh Lexie itu, Millard sudah menelitinya. Hasilnya, Anda pasti tidak akan percaya.” Justin merubah posisi duduknya. Matanya berkilat.
“Benda-benda itu disihir dan dimantrai untuk menyerap energi positif dari si pemilik. Lama-lama energi positif diubah oleh benda itu menjadi energi negatif yang menyelusup ketika mereka merapalkan mantra pemanggil.”
“Mantra pemanggil? Maksudnya? Aku tak mengerti,” tanya Azzimir mencerna penjelasan Justin.
“Begini, jadi, ketika seseorang memiliki benda terkutuk itu dan berkelahi atau katakanlah ia merapalkan sebuah mantra, -apa pun mantranya- maka benda itu akan bereaksi dan menyerap energi positif dari mantra itu. Bayangkan, bila yang memiliki benda-benda itu adalah para warlock, witch, enchanter, bahkan shaman,” jelasnya.
Azzimir merinding mendengar penjelasan Justin yang tidak masuk akal. Mau tak mau, ia pun memutar otaknya menelaah masalah sihir hitam yang menakutkan itu.
__ADS_1