
“Kalian pasti tidak akan percaya kalau aku dan Lexie berteman?” ucap Abellona sembari membaca sekilas-sekilas halaman yang memuat sejarah keluarga Clementine.
“Apa?”
“Benarkah?”
tanya Zayn dan Millard bersahutan.
“Tapi itu cerita lama, aku malas membahasnya.”
“Lalu sekarang?” tanya Millard penasaran.
Abellona mengangkat bahunya.
“Ah, lebih baik kita mulai belajarnya. Kalau aku mengingat dia, aku jadi kesal!”
Zayn dan Millard kembali saling lempar pandang.
“Baiklah, hmm ... bagaimana kalau kita belajar mengenai sejarah Black Wizard?” lanjutnya seraya mengambil sebuah buku bersampul tebal dengan bulatan seperti batu ruby di pinggirnya. Ekspresi gadis itu layaknya anak kecil yang penasaran akan sesuatu.
“Jangan! Lebih baik belajar mengenai sejarah keluargamu dulu.” Millard merampas buku yang dipegang oleh Abellona. Gadis itu mendecih sebal.
“Ini, silakan dibaca.” Zayn memberikan buku tebal lainnya dengan judul Sejarah Adelard.
“Terima kasih, Tuan Zayn.”
Zayn hanya mengangguk.
“Ah! Kenapa, sih kalian kompak banget?” Abellona mendengus.
Millard terkekeh dan mengacak rambutnya.
“Sudahlah, ayo cepat dibaca bukunya. Kita mulai pelajarannya.”
Zayn pamit untuk berjaga di luar kamar, supaya mereka lebih fokus belajar. Lebih tepatnya, sang nona gar bisa berkonsentrasi.
Abellona membaca dengan seksama buku sejarah keluarga Adelard. Di buku itu dijelaskan bahwa generasi pertama Adelard adalah keturunan dewa.
“Apa? Keturunan Uranus?” Abellona membelalakkan matanya.
__ADS_1
Millard tersenyum senang penuh kemenangan, dia merasa bangga. Akhirnya Abellona mempelajari sejarah bersamanya. Karena ia paham betul sifat gadis itu, bila Millard sudah bercerita panjang lebar soal sejarah, Abellona pasti langsung kabur. Atau lebih jahilnya lagi, Abellona akan merapalkan matra ‘silencio’ untuk membungkam mulutnya.
Sembari berdeham, lelaki yang juga seorang Knight ini mulai berceloteh panjang lebar.
“Uranus adalah dewa langit dan merupakan putra sekaligus suami dari dewi bumi Gaia. Mereka memiliki enam putra Titan, enam putri Titan, tiga Kiklos dan tiga Hekatonkheire. Titan adalah para penguasa bumi sebelum para dewa Olimpus. Kronos adalah satu Titan termuda dan menjadi pemimpin mereka. Uranus membenci anak-anaknya karena ia berpikir suatu saat mereka akan berkhianat padanya. Tanpa sadar, rasa benci itu begitu besar dalam hatinya hingga akhirnya Uranus menyembunyikan mereka di dasar bumi.”
“Gaia ingin membalas dendam padanya dan bersekutu dengan anak-anaknya. Di antara mereka hanya Kronos saja yang berani melakukannya, dengan imbalan akan menjadikannya penguasa dunia. Gaia pun memberikan Kronos sebuah senjata berbentuk sabit.”
“Ketika Uranus sedang berduaan dengan Gaia, saat itulah ia lengah lalu Kronos pun mengebiri sang dewa langit dan ....” Millard diam sejenak, wajahnya sedikit merona.
Abellona tersontak sembari mengerjapkan matanya, tak mengerti kenapa gurunya itu tiba-tiba merona. “Kau kenapa, Milli?”
Millard berdeham.
“Maaf ini sedikit vulgar, Abellona.” Wajah Millard bertambah merah.
“Kau ini kenapa, sih, Milli? Membuatku bingung dan penasaran saja,” kekehnya.
“Ini adalah ilmu. Ini adalah sejarah. Jadi jangan berpikir yang bukan-bukan, ya,” pinta Millard, wajahnya masih semerah udang rebus. Abellona pun menahan tawanya sambil mengangguk.
“Jadi, Kronos mengebiri Uranus, dan -ehem- dan a, alat ke, ke, ke-laminnya jatuh ke laut.”
Wajah Millard sangat merah sekarang diikuti wajah Abellona yang makin lama makin bersemu.
“A, a, aku permisi sebentar.” Millard salah tingkah.
“Ah, sepertinya sudah waktunya makan siang. Kita istirahat sejenak. Kita lanjutkan nanti. Permisi.”
Ia bergegas keluar kamar Abellona, sedangkan gadis itu menutup wajahnya karena malu.
“Apa-apaan ini? Benar-benar membuat mual! Aku benci sejarah!” teriaknya.
***
Waktu bergulir begitu cepat. Langit sudah berubah warna menjadi oranye. Senja perlahan muncul seakan menandakan dewi malam tengah bersiap menggantikan posisi sang raja siang.
Abellona masih terpekur di kamarnya, berkutat dengan lembaran-lembaran sejarah keluarganya. Millard tak kembali ke kamarnya sejak itu. Tiba-tiba saja, ia harus menghadiri rapat dengan para penyihir di menara sihir bersama dengan duke.
Untuk menghilangkan penatnya, Abellona pun terkadang membaca buku di balkon kamarnya. Terkadang, ia juga menyihir kamarnya menjadi sebuah hutan kecil yang lantainya tergenang air menjadi sebuah kolam ikan lengkap dengan bunga teratainya.
__ADS_1
Atau, ia juga menyihir balkonnya dengan menumbuhkan akar pohon tempat untuk ia duduk dan bersandar sembari mengagumi rembulan dan gemintang yang menawan. Sesekali ia bermain dengan kunang-kunang fairy, yang memancarkan kemilau merah jambu dari tubuhnya.
Abellona masih tidak percaya, kalau kejadian leluhurnya yang kala itu hampir mati tenggelam malah menjadi berkat baginya. Air mani yang jatuh tersebar ke laut saat Kronos mengebirinya, menjadikan Adelard pertama, manusia setengah dewa. Meskipun ibunda Adelard dicemooh karena hamil tanpa adanya suami dan hidup sengsara, sampai-sampai ia dicoret dari silsilah keluarga sebelumnya. Ia pun diusir dari kota kelahirannya karena penuh dosa dan membawa aib. Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya, kemudian baru diketahui penyebab ia hamil, dan melahirkan anak dewa langit Uranus.
Adelard pertama adalah seorang wanita bernama Giovanna Avisha, ia sangat kuat dan hebat. Apa pun yang dipelajarinya dapat diserap dengan sempurna. Ia ingin membalas dendam pada orang-orang yang telah menghina ibu dan dirinya. Ia ingin mempunyai kekuatan yang mengatur agar mereka tunduk padanya. Giovanna yang setengah dewa, memiliki umur panjang hingga ia mampu mengumpulkan pundi-pundi kekayaan sepuasnya. Setelah banyak membawa kemenangan, kaisar pun menganugerahi dan menjadikannya wanita pertama yang mempunyai gelar duke di benua Rotansyha.
Ia dipercaya oleh kaisar sebelumnya untuk menjaga wilayah perbatasan dan terus-menerus melakukan penaklukkan. Kaisar pun menikahkannya dengan pangeran ke tiga belas untuk membuatnya mengabdi dan tetap berada di kekaisaran Campione.
“Ah, hebat juga ya leluhurku ini. Tapi, demi kekuasaan, masa ia mau saja sih menikah dengan pangeran yang bahkan tak ia kenal.” Abellona menghela napas.
“Menikah. Cinta. Apa suatu saat nanti aku juga akan merasakan jatuh cinta?” Tiba-tiba saja ia teringat wajah Millard. Abellona merinding.
“Aku ini mikir apa, sih? Ah, gara-gara Milli, aku jadi kepikiran kata-kata itu. Dia sedang apa, ya?” Abellona merebahkan dirinya di pembaringan. Ia sangat lelah karena membaca terus-menerus. Gadis cantik itu pun sering kali merubah warna rambutnya dengan sihir untuk menjaga suasana hatinya.
Keesokan harinya, hujan turun sejak pagi. Abellona menatap jendela kamarnya dengan tumpukan buku yang belum selesai ia baca. Hari ini, adalah hari terakhir masa hukumannya. Baik sang ayah atau pun gurunya tak ada yang datang mengunjunginya. Begitu pula ibu dan Justin.
Abellona menghela napas panjang.
“Nona, kenapa?” tanya Sofie seraya menuangkan secangkir teh. Wajah Abellona ditekuk.
“Nona bosan?” lanjut Marie. Abellona mengangguk.
Sofie dan Marie pun saling berpandangan, tak punya ide untuk menghibur majikannya itu. Selama ini, penyihir muda tersebut selalu bepergian ke sana kemari sesuka hati. Ia pun selalu mencari udara segar di taman istana atau bermain di hutan bersama para centaurus dan peri. Namun, hal ini tak bisa ia lakukan karena masa hukuman satu minggu belum selesai. Selama di hukum, biasanya kalau bosan, Abellona akan menyihir kamarnya menjadi suatu tempat yang ia ingin kunjungi.
Zayn berjalan menghampirinya. Ia pun tiba-tiba berlutut di hadapan Abellona hingga membuatnya tersontak.
“Zayn? Kau kenapa?”
“Nona, mau aku ceritakan sebuah dongeng yang secara turun temurun di kisahkan pada keluargaku?” tanya si pengawal gagah tanpa ekspresi.
Abellona membelalak lalu mengerjapkan matanya berkali-kali.
“Eh?”
Abellona terpukau dengan wajah Zayn yang datar. Namun, seketika sinar matanya berubah lembut kala menatap anak sang majikan yang ia kenal sejak masih remaja itu. Zayn menyunggingkan sebuah senyum tipis pada Abe
*pic from pinterest credit to owner
__ADS_1