Penyihir Antagonis

Penyihir Antagonis
Sihir 12


__ADS_3

Abellona menghela napas panjang, lalu ia pun mulai berceloteh.


Di suatu pagi yang cerah, telah berkumpul para pasukan berseragam prajurit di lapangan istana Joergen. Lengkap dengan pedang dan perisainya. Banyak dari mereka terlihat gugup. Memperlihatkan wajah yang ketakutan dan kebingungan. Sisanya terlihat membanggakan diri dengan membusungkan dada dan mengintimidasi kawannya yang terlihat lemah.


Seorang pemuda berdiri kikuk di barisan paling belakang. Tubuhnya lebih pendek dan ramping dari prajurit lainnya, menyebabkan dirinya menjadi tontonan aneh barisan lelaki di sana. Semua terlihat mencemooh padanya. Namun, ia tak gentar.


‘Kenapa kalian melihatku seperti itu? Belum pernah melihat pemuda sepertiku, ya?’ tantangnya.


“Tunggu, lelaki itu dirimu adikku?” potong Justin penasaran. “Mereka mencemoohmu? Memandangmu dengan tatapan aneh?”


“Oh, kakak. Biarkan aku bercerita dulu. Kenapa kakak memotong kisah yang bahkan baru kumulai,” keluh Abellona.


Justin pun menghela napas berusaha tenang mendengarkan kisahnya.


“Tapi, bagaimana bisa kau masuk pasukan kak Tristan tanpa diketahui olehnya?” Justin mengumpat kesal. Azzimir menepuk pundaknya, memberinya isyarat agar tetap tenang.


“Hemm, kurasa aku tak bisa menyebutkan hal itu, maaf, Kak. Boleh aku lanjutkan ceritaku?”


Mereka pun mengangguk.

__ADS_1


“Jadi aku berada bersama dengan pasukan elite Xanthos karena kegigihanku mengikuti ujian yang diadakan oleh kekaisaran. Kita lewati bagian itu.” Abellona berdeham, dan menatap mereka yang penasaran.


“Kami memulai ekspedisi, seperti yang kak Tristan bilang di awal pertemuan, bahwa perjalanan kami tidak akan mudah. Kami akan melewati padang pasir, hutan dan bukit. Belum lagi kami harus menghadapi cuaca yang tak menentu. Dan, mungkin saja, kami pun diterjang oleh binatang buas ataupun monster. Aku berjalan kaki bersama para prajurit menuju melewati padang pasir Arianta, di sana kami menghadapi cacing raksasa yang menghadang kami.”


“Bukan hanya satu, melainkan puluhan cacing raksasa muncul dan menyerang. Untung saja, aku pernah membaca buku Satwa Buas dan Cara Menghadapinya, hingga membuatku dengan mudah menebas mereka. Ketika mereka tiba-tiba muncul, kami terkejut. Banyak prajurit yang terluka karena mereka tidak siap dan lengah. Aku menolong prajurit yang ketakutan itu.”


“Aku berlari ke arah salah satu cacing yang berdiri menjulang tinggi mengintimidasi. Moncongnya terbuka lebar, ia akan mengeluarkan cairan beracun dari mulutnya, tapi dengan sigap dan tangkas, aku menaiki punggungnya sembari merapalkan mantra. Setelah ia tumbang, aku menggorok bagian lehernya.”


“Kau gila, Abellona!” sergah Justin. “Lalu, apa kau terluka?”


“Tidak, karena ada yang menolongku juga.”


“Siapa dia?”


“Zayn? Kau ikut dalam penaklukan itu?” Justin terbahak, “ya, tidak mungkin ayah tidak tahu kalau anak gadis satu-satunya ikut berperang,” dengusnya kesal. Abellona pun mendecih mendengar kakaknya berkata seperti itu.


“Justin, kumohon diamlah,” pinta Azzimir. “Lanjutkan, Lady.”


“Setelah mengalahkan monster cacing itu, kami pun melanjutkan perjalanan. Karena tak mungkin kami berkemah di padang pasir. Kami berusaha mencapai hutan hujan Rinabi sebelum matahari terbenam. Kami mendirikan kemah di sana. Lalu aku ....”

__ADS_1


“Silencio,” ucap Azzimir merapalkan mantra untuk membungkam mulut Justin yang sedari tadi selalu memotong pembicaraan Abellona.


Yang lain melongo, Justin menggeram kesal, wajahnya merah padam.


“Maaf kawan, aku harus melakukan ini,” kata Azzimir enteng. Millard dan Zayn hanya beradu pandang saja.


“Pokoknya, untuk mencapai wilayah Kontinhte butuh waktu lama. Ketika pada akhirnya kami sampai di perbatasan wilayahnya. Auranya terasa berbeda, apalagi ketika memasuki hutannya. Kabut berwarna abu-kehitaman menyelimuti hutan Rhodes. Suara lolongan serigalanya terdengar aneh, tiba-tiba satu-dua orang prajurit berteriak histeris. Kemudian jumlahnya bertambah menjadi sepuluh orang.”


“Mereka menggaruk badan mereka dengan kasar, seolah terserang gatal yang amat sangat. Perlahan, muncul ruam-ruam di wajah mereka. Seketika mereka terjatuh berguling di tanah dan menggeliat.”


“’Tolong-tolong, ini sangat gatal dan perih! Seperti ada yang menggerayangi tubuhku! Arrggh!’, teriak mereka terlihat tersiksa. Beberapa prajurit membawa mereka ke pinggir barisan dengan wajah yang pucat,” jelas Abellona.


“Aku yang ketika itu berada di barisan tengah, akhirnya bisa melihat kak Tristan meskipun tidak terlalu jelas. Kak Tristan memerintahkan para healer untuk mengobati prajurit yang kena kutukan itu.”


“’Kita bahkan belum mencapai sepertiga luas hutan ini! Kurang ajar!’ cerca kak Tristan dengan wajah garang. Ia pun menyuruh para wizard level delapan dan sembilan untuk memimpin perjalanan di depan.”


“Hutan Rhodes begitu menyeramkan. Semakin ke dalam, kami bagai terisap dalam kegelapan. Sesekali suara burung hantu dan burung lainnya bersenandung lirih, membuat bulu kuduk merinding. Rasanya ketakutan melahap kami perlahan. Satu demi satu prajurit pun tumbang terkena kutukan hutan.”


“Kak Tristan pun membuat keputusan untuk mendirikan kemah di tengah hutan. Para healer bekerja keras menyembuhkan luka para prajurit.

__ADS_1


“Ketika aku sedang patroli berkeliling daerah perkemahan, aku melihat sosok aneh. Ia memakai jubah rumbai seperti jerami yang koyak, memakai tudung dan topeng tengkorak. Wajahnya tak terlihat, di atas kepalanya penuh tanduk? Atau semacam ranting dan ada sesuatu yang menggantung di sana. Tangannya penuh darah.”


“Aku terpekik, dan tepat pada saat itu aku mendengar suara geraman dari semak-semak di belakangku.”


__ADS_2