Penyihir Antagonis

Penyihir Antagonis
Sihir 19


__ADS_3

“Aakhh! Tidak! Tania!” raung Abellona. Matanya membelalak, ia pun berusaha menarik napas panjang karena sesak yang ia rasakan tadi hingga membuatnya terbatuk keras. Sedetik kemudian setelah meyakini ia bisa bernapas kembali, Abellona menghirup udara dengan tak beraturan, napasnya memburu. Ia memejamkan matanya lagi lalu berteriak dan meraung dengan sangat memilukan. Sakit, perih dan ketakutan bersatu melahapnya.


“Abellona! Abellona! Buka matamu!” teriak Millard.


Abellona membelalak lagi, keringat bercucuran di wajah dan tubuhnya. Baju yang dipakainya bahkan sampai menjadi basah. Air mata tak berhenti berlinang, rasa pedih di hatinya terasa begitu nyata.


“Abellona? Kau kenapa?” tanya Millard. Ia menatap pujaannya dengan khawatir, mengusap kening dan rambut yang menutupi wajahnya.


Sang gadis mengerjapkan matanya berkali-kali agar penglihatannya yang buram kembali jelas.


“Milli?” jawab Abellona dengan suara parau. Tenggorokannya terasa kering.


“Milli!” katanya lagi seraya menghambur memeluk sahabat terdekatnya itu.


“Benarkah ini dirimu? Maafkan aku, maafkan aku. Kupikir, aku sudah kehilanganmu. Kupikir, aku ....” Abellona mendekapnya erat sembari terisak. Ia sangat takut kalau Millard akan menghilang.


“Ssshh, iya, ini aku. Tidak apa-apa, itu semua hanya mimpi.” Millard juga mendekap dan mengusap punggungnya dengan lembut.


Millard menyuruhnya untuk bernapas dengan teratur. Setelah tenang, Abellona pun melepaskan pelukannya. Ia menatap lelaki di hadapannya yang sedang menyeka air mata sang gadis. Sudut bibirnya terangkat, Abellona merasa bersyukur telah bangun dari mimpi buruk.


“Apa? Kenapa kau melihatku begitu?” tanya Millard penasaran. Namun, ia merasa lega karena Abellona telah siuman. Ia membelai rambut kusut gadis itu.


“Lalu kau sendiri? Kenapa menatapku begitu?”


“Cih, tinggal menjawab saja pertanyaanku, apa susahnya?” Millard mendengus sebal. Abellona malah menyengir.


“Aku akan panggilkan tabib dan perawat agar memeriksamu. Aku juga harus memberitahukan semua orang kalau Lady Adelard sudah siuman,” sambungnya.


“Wah, kurasa, nanti pasti akan menimbulkan kegemparan,” ucap Abellona memprediksi.

__ADS_1


Millard terkekeh. “Mungkin saja.”


Tatapan Millard pada Abellona sangat teduh. Dengan lekat, tak mengalihkan pandangan pada iris biru milik Abellona. Gadis itu tak tahu betapa Millard begitu bersyukur melihatnya bangun dari ‘tidur’ yang panjang. Setiap hari, setiap jam, setiap menit memeriksa keadaan dirinya yang terbaring dengan wajah pucat.


Sekarang, ia sudah bisa bergurau kembali. Mereka saling menatap dalam diam.


“Abellona!”


Pintu menjeblak terbuka, Justin dan Tristan menghambur masuk ruangan. Membuat Millard dan Abellona terkejut. Millard buru-buru bangun dari duduknya dan berjalan menuju jendela. Berpura-pura membuka jendela yang kebetulan tertutup.


Tristan menangkap gelagat yang aneh padanya, tapi ia abaikan hal itu. Fokusnya saat ini adalah adik perempuannya telah siuman. Abellona kaget melihat kakak sulungnya ada di hadapannya.


Sementara Justin langsung mengecek keadaan Abellona. Matanya tertuju pada simbol di dadanya yang menghitam layaknya sebuah tato. Suaranya tercekat.


“Kau tidak apa-apa, Adikku?”


Abellona mengangguk, ia tersenyum. Gadis itu baru sadar, sekujur tubuhnya terasa linu. Ia sangat lelah, seperti habis melakukan perjalanan jauh.


Ketiga lelaki dalam ruangan itu saling pandang.


“Kalian kenapa, sih? Membuatku penasaran saja,” selidik Abellona, matanya menyipit.


“Ah, tidak ada apa-apa. Kau ... hanya ... ehm, pingsan. Ya, pingsan!”


“Karena kelelahan. Karena tubuhmu tidak terbiasa memakai Portal Pejelajah. Ya, seperti itu!” ucap Justin dan Millard bersahutan.


Tristan menggeleng-gelengkan kepalanya. Menghela napas melihat tingkah kedua lelaki itu yang kentara sekali sedang mencari-cari alasan masuk akal. Sedangkan Abellona memandang mereka dengan tatapan menyelidik.


Tristan menepuk bahu adik lelakinya dan memintanya untuk menyingkir dari tempatnya duduk tanpa berkata. Namun, Justin mengerti, ia pun berdiri dan mempersilakan sang kakak duduk.

__ADS_1


“Tidak usah kau pikirkan. Sekarang, kau harus memulihkan kesehatan dan tenagamu dulu. Karena penobatan dirimu melenceng dari jadwal semula.”


“Maksud Kakak apa?”


“Jangan bilang kau lupa kedatanganmu ke Menara Sihir ini?”


“Bukan begitu! Yang ku tanyakan adalah, penobatanku yang melenceng dari jadwal? Bukankah penobatan akan diadakan lusa? Kenapa malah melenceng?”


Tristan menghela napas,


“Dengar, Adikku. Kau tidur lumayan lama.” Tristan memberi isyarat dengan mengangkat dua jarinya.


“Oh, ya? Berapa lama? Dua hari?”


“Bukan. Tapi, dua minggu.”


“Apa? Dua minggu? Yang benar saja! Bagaimana bisa?”


“Itu, bisa saja. Panjang ceritanya.”


“Apa? Ah! Pokoknya, kalian harus cerita padaku apa yang terjadi! Aku sungguh tak ingat apa yang terjadi! Aw!” Abellona memegangi kepalanya yang mendadak pening.


Sekelebat ingatan mencuat ke permukaan. Seraut wajah seorang wanita dan memori tentangnya menari-nari dalam otaknya seperti sebuah pertunjukkan. Saat mereka sekolah, piknik, makan bersama dan berbagai macam kegiatan lainnya.


“Abellona, kau kenapa?” tanya Tristan dan Justin.


Tiba-tiba saja, air matanya mengalir deras. Rasa rindu meledak dalam dada hingga membuatnya sesak dan sesenggukan. Membuat semua lelaki yang ada di kamar itu mengerubunginya. Justin segera memanggil tabib dan perawat.


“Tania!”

__ADS_1


“Apa?” tanya Tristan. Abellona memegangi lengannya dengan kuat sambil gemetaran.


“Tania, Kak!” jeritnya sembari terisak. “Aku ingat sekarang! Aku mendapatkan petunjuk mengenai benda-benda terkutuk itu!”


__ADS_2