Penyihir Antagonis

Penyihir Antagonis
Sihir 18


__ADS_3

Sebuah pemandangan padang bunga terhampar di hadapan. Meskipun matahari bersinar terik tetapi udara tidak sepanas teriknya. Sebaliknya, angin malah berembus dengan sejuk menerpa wajah Abellona dengan lembut. Semerbak wangi bunga melewati indra penciumannya.


Pemandangan yang ia rindukan, tapi entah kenapa perasaannya begitu gamang. Sekian lama ia bertualang di wilayah antah berantah. Entah bagaimana, ia bisa sampai ke daerah yang tiada satu orang pun dikenalnya. Apa ia telah terpisah dari gerombolan prajurit ekspedisi penaklukan? Entahlah, ia tak yakin.


Saat sedang menerawang, dari kejauhan, samar-samar Abellona melihat sesosok wanita sedang berdiri menatapnya. Wanita berbaju hitam dengan aura pekat, begitu kontras dengan hamparan bunga berwarna-warni, ia bergeming.


“Siapa itu?” tanya Abellona setengah berteriak, tapi ia merasa suaranya tak terdengar oleh wanita itu karena sosok tersebut masih tak beranjak satu senti pun.


Abellona ingin berlari menghampirinya. Entah mengapa, tiba-tiba saja ada perasaan rindu yang membuncah. Seakan mengenal sosok itu, tapi ia tak bisa mengingatnya. Mendadak matanya terasa buram dan panas, bulir air lolos dari sana.


“Kenapa aku menangis?” Ia mengusap air matanya. Gadis itu bahkan tak mengerti mengapa timbul rasa sedih saat melihat sosok wanita bergaun hitam itu.


“Kenapa? Siapa kau? Apa maumu?”


Seketika muncul benang tipis seperti kabut berwarna abu-abu kemerahan menjerat kaki Abellona hingga membuatnya terjatuh saat hendak berlari. Benang kabut itu menjalarinya, membuatnya terkekang tak bisa bergerak. Abellona meronta berusaha melepaskan benang kabut itu tapi semakin banyak bergerak, semakin kuat pula jeratnya. Mendadak tubuhnya terasa ringan dan ia pun melayang.


Abellona terbang mendekati sosok wanita itu, ia pasrah. Wanita itu menjulurkan tangannya, gadis berambut merah itu pun berhenti di hadapan wanita bergaun hitam.


“Kau!”


“Hallo, Nona.”


Mereka bersitatap. Wanita itu tersenyum pada Abellona.

__ADS_1


“Kita bertemu lagi. Apa kau merindukanku?”


Abellona tak sanggup berkata-kata, lidahnya kelu.


“Ya, kau pasti rindu, karena ... ini, kau selalu menangis bila merindukan seseorang.” Wanita itu mendekati Abellona dan mengusap air matanya.


“Apa yang terjadi? Kukira kau ....”


“Mati?” potongnya. Ia terkekeh. “Aku tidak mati. Aku, ehm ... Sepertinya, nona merasa tidak nyaman. Tahan sebentar lagi. Aku tidak punya banyak waktu,” ucapnya ketika Abellona sedikit meronta masih berusaha melepaskan jerat benang kabut.


“Lepaskan aku sekarang juga! Kenapa kau berbuat ini, Tania?” protesnya.


“Apa nona tahu, kalau jiwa nona terpisah dari raga Anda saat ini? Jika tidak segera kembali, nona akan mati. Aku di sini untuk membantumu.”


“Kau pasti sudah bertemu dengan ayahku ‘kan. Ia pun pasti sudah memperlihatkan sebuah visi padamu. Gadis yang mati itu adalah saudara kembarku, Tinia. Ayahku memanipulasi pikiranmu. Ia ingin membalas dendam pada white wizard. Kau sekarang dalam ilusinya. Semua ini tak nyata! Kau harus bangun nona!”


“Aku tidak mengerti. Ilusi, saudara kembar, visi, ayahmu?”


Tania menjulurkan telunjuknya ke dada sebelah kiri Abellona dan menekannya. Seketika Abellona merasa kesakitan. Lambat laun sakitnya semakin menjadi.


“Aakh! Apa yang kau lakukan Tania? Sakit! Hentikan!”


Perlahan sebuah simbol aneh muncul di sana layaknya sebuah tato.

__ADS_1


“Ini semua ilusi, bangunlah!” teriaknya.


Tiba-tiba saja langit biru cerah berubah menjadi kehitaman. Matahari yang terik perlahan menghilang lalu muncul gumpalan awan besar. Guntur dan petir di antara awan kelabu bergemuruh sangat menakutkan. Roh-roh tembus pandang terbang tak tentu arah. Seakan mereka tak menyadari kalau mereka sudah mati. Padang bunga pun perlahan terserap kabut hitam dan semua bunga berwarna-warni itu pun lenyap berganti tanah kering penuh mayat dan tengkorak. Harum manis bunga, hilang seketika menjadi aroma amis bangkai dan darah. Suhu udara turun menjadi sangat dingin.


“Apa ini? Tania!” Abellona mengerang kesakitan hingga membuat kakinya lemas kemudian jatuh berlutut di hadapan Tania.


“Bangunlah, semua ini ilusi!” ucap Tania lirih sembari menitikkan air mata. “Maafkan aku.”


Tania menekan simbol di dada Abellona dengan kuat. Rasa sakit dan perih pun bertambah parah. Abellona meraung kesakitan bercampur dengan rasa takut akan kelam dan mengerikan sekelilingnya. Apakah Abellona akan mati? Di sini? Saat ini?


Perlahan tapi pasti, kabut hitam itu mulai merambati kaki, naik ke paha lalu perutnya. Tiba-tiba saja ia merasa sesak. “Tidak!” jeritnya. Sosok Tania pun perlahan hilang ditelan oleh kabut hitam itu.


Abellona masih berusaha meronta dan mencoba merapal mantra yang ia ingat. Namun, jerat kabut lebih kuat yang sekarang sudah mencapai daerah leher dan membekap mulutnya. Ia pun hanya bisa mengerang dengan sekuat tenaga. Kabut hitam itu berhasil menelannya, lalu semuanya gelap.


##


Hallo, terima kasih buat para pembaca yang ngasih support. Hehehe.. saya kembali lagi nih. Moga pada kangen en gak lupa ama ceritanya. Kalo lupa boleh baca ulang, kok 🤭


Maaf hiatusnya lama, semua karena corona 😭


Moga bisa selesaikan dan update tiap hari. Doakan sayaaa! Jangan lupa kasih love, like juga vote!


Terima Kasih ❤

__ADS_1


__ADS_2