
๐๐๐ฉ๐ฉ๐ฒ ๐๐๐๐๐ข๐ง๐ ~
๐๐จ๐ก๐จ๐ง ๐๐ข๐ฃ๐๐ค ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐ฆ๐๐ฆ๐๐๐๐, ๐ฒ๐!
๐๐ฎ๐ญ๐ก๐จ๐ซ ๐ง๐๐ง๐ญ๐ข ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ซ๐ข ๐ค๐๐ฅ๐ข๐๐ง ๐ฃ๐ฎ๐ ๐, ๐ก๐๐ก๐. (*หแห*)แตแแตแขแตย แตแตแต
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Suasana malam di kota kala itu sungguh kejam. Suara gemuruh hujan deras disertai guntur yang menyambar dengan hebat, mampu memekakkan telinga bagi siapa saja yang berada di luar sana.
Terlihat seorang wanita tengah berjalan di tepi jalan raya, menggunakan payung untuk melindunginya dari hujan lebat yang entah akan turun sampai kapan.
Wanita bernama Hayan Aireen Casta, anak dari seorang konglomerat Guinan Casta. Dirinya dituntut untuk mandiri sejak usianya yang masih tujuh belas tahun, setelah usai lulus dari sekolah menengah atas.
Sudah tiga tahun ini, Hayan bekerja di perusahaan Couse Grup, berada di satu perusahaan sama dengan saudara tirinya, Qui Emilia Casta.
Melihat seekor kucing tengah mengumpat di balik pohon rindang, membuat Hayan penasaran dan nekat berjalan mendekatinya.
"Meow ... meoww ...."
Kucing kecil itu terus mengeluarkan suara manis. Jika mengingat perkataan dari sang guru, seekor kucing yang terus mengeong itu artinya sedang kelaparan.
Tidak terdiam lama, Hayan pun berdiri dari jongkok nya. Melihat sekeliling untuk mencari sebuah toko yang masih buka di jam sebelas malam.
Pandangan matanya kini terhenti, begitu melihat sebuah toko hotdog yang ramai dengan para pengunjung. Sepertinya malam itu adalah malam keberuntungan si kucing, karena Hayan akan memberinya makanan enak.
Kurang lebih dua puluh menit lamanya mengantri demi membeli hotdog, Hayan akhirnya bisa mendapatkan satu buah hotdog, ia berikan pada seekor kucing yang masih mengumpat di balik pohon rindang.
"Kau imut sekali, apa boleh jika aku bawa pulang saja?" gumam Hayan.
Wanita itu meraih ponselnya di dalam tas kecil, membuka layar ponsel dan menemukan sebuah nama kontak sang ibu, Azalea Casta.
~Flasback on~
"Hayan, awas saja jika kau membawa pulang seekor hewan! Ingat, ayahmu sangat membenci makhluk seperti itu, kau akan diusir dari rumah jika membawanya pulang!"
~Flashback off~
Hayan menghentikan jarinya, mengurungkan niat untuk menghubungi sang ibu kalau dirinya ingin membawa pulang seekor kucing. Mungkin akan lebih baik jika ia membawanya secara diam-diam, tanpa diketahui oleh siapapun.
__ADS_1
Usai menghabiskan seluruh hotdog pemberian Hayan, wanita itupun bergegas memasukkannya ke dalam tas kecil. Meraih kembali payung yang sempat diletakkan di sebelah pohon.
Ia berjalan cepat melawan hujan yang yang masih turun cukup deras. Sampai akhirnya tiba di halaman rumah besar dengan sebuah gerbang tinggi sebagai pembatas antara jalanan.
Tangan kecilnya itu perlahan membuka pintu rumah, menyelinap masuk agar tidak ada siapapun yang melihatnya membawa seekor kucing.
"Huh, akhirnya ...."
Hayan menghembuskan nafas panjang, merasa lega setelah berhasil masuk ke dalam kamar yang letaknya berada di lantai dua. Ia menaruh kucing itu ke dalam keranjang kecil, yang biasanya digunakan untuk mengumpulkan pakaian kotor.
Karena merasa lelah seharian bekerja di kantor, Hayan pun langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Matanya perlahan terpejam, dan masuk ke dalam alam mimpi.
...โฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆ...
Terbitnya matahari menciptakan suhu panas di dalam ruangan. Alarm yang tidak diatur membuat wanita di atas kasur itu reflek terbangun dengan kaget. Menatap angka jarum jam yang berada di dinding sudut kamar.
"Uh, aku kira akan terlambat!" ucapnya kesal, seraya mengucak kedua bola mata yang masih terasa berat.
Kalau bukan berciuman dengan pria tampan di dalam mimpi, mungkin sekarang ini Hayan masih tertidur, dan akan terlambat datang ke kantor tempat bekerjanya.
Duk**!!
Hayan menoleh, setelah tak sengaja menyenggol sesuatu yang dirasa seperti sebuah kepala. Begitu menoleh wanita itu kontan terkejut, melihat pria tampan bersurai hitam dengan kedua bola mata berwarna biru tanpa busana, tengah terbaring disebelah nya.
"Si-- siapa kau?!! Kenapa kau ada si sini? Jangan bilang, kau adalah pria mesum yang menyelinap masuk ke kamar wanita seperti di film-film?!!" tanya Hayan menaikkan nada bicaranya.
Namun tampaknya pria dengan rambut hitam itu hanya tersenyum. Menunjukkan wajah manis, imut, yang bahkan belum pernah ia lihat di dunia ini.
"Kenapa kau marah-marah denganku? Justru kau sendiri yang membawaku pulang kemarin malam. Apa kau lupa?"
Hayan mencoba mengingat kejadian semalam, dan yang masih diingat adalah ketika dirinya membawa seekor kucing ke rumah.
Bola matanya itu mulai menatap ke setiap sudut kamar, mencari sosok kucing kecil manis. Namun hasilnya nihil, karena tidak ada siapapun yang di dalam kamar, selain dirinya bersama si pria.
"Tu-- tunggu sebentar," ucap Hayan setelah menyadari sesuatu.
Bibir pria itu tampak menyeringai lebar, menatap Hayan dengan pesonanya yang memukau.
"Apa kau adalah kucing yang semalam ku bawa?!!"
__ADS_1
"Hmmm, tepat sekali! Namaku Gabriel."
"Berarti ... apa aku benar-benar berciuman dengannya? Aku kira itu adalah mimpi!"
Pria itu berjalan mendekati Hayan yang berdiri di balik pintu masuk kamar. Tubuh kekar tanpa busana tentu membuat Hayan kelabakan. Melihat setiap kotak-kotak di perutnya, serta otot di bagian lengan, begitu indah.
"Jangan mendekat!!"
Sosok pria bernama Gabriel menghentikan langkah kakinya. Kepalanya di dongak ke atas, menatap langit atap dengan hiasan bintang berwarna hitam.
"Apa kau tidak ingin memberiku pakaian?" tanya Gabriel, wajah tampannya seketika berubah imut dengan kepala yang di letakkan tepat di atas dada besar wanita itu.
"Ah, dasar mesum! Aku akan mengambilkan pakaian ayah!"
Hayan berlari keluar dari kamarnya, menaiki anak tangga untuk menuju kamar sang ayah. Letaknya berada di lantai empat rumah itu. Sedangkan rumahnya memiliki enam tingkat.
"Sial! Kenapa dia bisa imut sekali?" gumam Hayan penuh rasa kesal.
Wanita itu membuka pintu kamar sang ayah, mungkin ini adalah waktu yang tepat, karena seluruh keluarganya sedang berkumpul di ruang makan untuk sarapan.
Hayan dengan asal mengacak lemari ayahnya, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menemukan pakaian yang dirasa cocok dikenakan oleh Gabriel.
Setelah beberapa saat, iapun menarik sebuah setelah kemeja berwarna hitam dari dalam lemari tersebut.
Keluar dari dalam kamar dengan hati-hati, dan menyisipkan setelan nya ke dalam pakaian. Hal yang dilakukan nya sekarang ini benar-benar mirip seperti pencuri.
Kriett ...
Kini Hayan membuka pintu kamarnya, dan melihat Gabriel tengah duduk di atas kasur, menutupi tubuhnya dengan sebuah selimut.
Ia melemparkan setelah itu padanya, kemudian bergegas keluar dari kamar agar tidak melihat tubuh Gabriel yang telanjang untuk kedua kalinya.
"Pakai setelah kau mandi! Ingat, jangan pernah keluar dari kamar!!" teriaknya dari balik pintu.
"Ehmmm, baiklah."
Hayan menuruni tangga untuk menuju lantai dasar, dimana seluruh keluarganya tengah menikmati sarapan pagi.
Tapi selama berjalan, hatinya terasa ragu jika harus meninggalkan Gabriel sendirian di dalam kamar.
__ADS_1
Bersambung ...
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (เน`โชฬคโกโชฬค)โแฆิตีฐษีฒฦีแฆ