
๐๐๐ฉ๐ฉ๐ฒ ๐๐๐๐๐ข๐ง๐ ~
๐๐จ๐ก๐จ๐ง ๐๐ข๐ฃ๐๐ค ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐ฆ๐๐ฆ๐๐๐๐, ๐ฒ๐!
๐๐ฎ๐ญ๐ก๐จ๐ซ ๐ง๐๐ง๐ญ๐ข ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ซ๐ข ๐ค๐๐ฅ๐ข๐๐ง ๐ฃ๐ฎ๐ ๐, ๐ก๐๐ก๐. (*หแห*)แตแแตแขแต แตแตแต
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Hayan membuka kedua bola matanya, ia menatap sekeliling ruangan dengan bingung ketika melihat sebuah benda menempel tepat di wajahnya.
Tak lain sekarang ini Hayan tengah dirawat di sebuah rumah sakit yang sama dengan korban kebakaran lainnya.
"Hayan, kau sudah bangun?" tanya seorang pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Gaโ Gabriel? Kau โฆ kau baik-baik saja?" balasnya sekaligus bertanya.
Lantas pria itu mengangguk seraya tersenyum kecil. Kedua bola matanya tiba-tiba meneteskan cairan bening yang tentu membuat Hayan merasa heran dengannya.
"Kenapa menangis?" tanya Hayan pelan. Karena hal yang sempat menimpa saat kebakaran membuatnya tidak bisa berbicara dengan suara keras untuk sementara waktu.
"Aku minta maaf, aku tidak mengira kau akan mencariku ke dalam perusahaan."
Gabriel langsung memeluk tubuh wanita yang masih terbaring lemas di atas ranjang itu dengan erat. Tangis air mata tidak kunjung berhenti, benar-benar membuat Gabriel merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan.
"Hei, kau kenapa sih?!!" tanya Hayan keras langsung memukul kepala Gabriel hingga membuatnya bangkit dari pelukan.
"Aku minta maaf, kau masih belum paham?" tuturnya reflek memalingkan pandangan. Siapa sih yang tidak kesal jika orang yang diajak bicara tidak mengerti apa maksud perkataan kita.
"Memangnya apa yang sudah kau lakukan sampai meminta maaf padaku?"
"Huh, sudahlah! Lupakan saja."
Gabriel menunjukkan sebungkus makanan yang baru dibelinya saat perjalanan menuju rumah sakit.
Dia membeli wasabi makanan Jepang yang bahkan belum pernah dicoba sama sekali. Begitu pun dengan Hayan yang sama belum pernah mencobanya.
Malam itu keduanya makan bersama menggunakan wasabi. Mungkin Hayan akan bisa sembuh satu atau dua hari lagi sesuai perkataan dokter yang sempat menanganinya.
...****************...
Langit cerah dengan burung-burung yang berterbangan bersiul merdu bagai alunan musik. Mereka mendarat di tangkai pohon bersama kawanannya, lalu terbang kembali ke tangkai pohon yang lain untuk mencari makanan.
Di kediaman Casta, tampak seorang wanita berambut pirang tengah menyantap sarapan pagi. Sarapan yang telah disiapkan mewah oleh para pelayan kediaman tersebut khusus untuk sosoknya seorang.
Selama melahap makanan itu, wanita berambut pirang yang tak lain adalah Qui merasa penasaran dengan keberadaan Hayan saudara tirinya. Dia yang tidak pulang sejak kemarin tentu membuat Qui merasa curiga.
__ADS_1
"Pelayan! Tolong ambilkan jus limun!" teriak Qui pada pelayan yang bertugas di dapur.
Tak lama setelah wanita itu meminta air limun, seorang pelayan datang membawakan minuman yang diinginkan nya.
"Ini Nona muda," ucap pelayan tersebut seraya memberikan segelas minuman limun pada Qui.
"Eh, sebentar. Apa kau tau dimana Hayan?" tanya Qui menatap wanita di sebelahnya.
"Nona muda Hayan belum kembali sejak kemarin. Dan semalam pihak rumah sakit menghubungi kalau katanya nona muda Hayan sedang menjalani perawatan," balasnya memberitahu.
Kontan Qui yang sebelumnya mengira kalau Hayan sedang pergi bersama Gabriel si kekasih, langsung terkejut. Dia tidak menyangka kalau Hayan bisa berada di tempat itu.
"Oh, baiklah."
Pagi itu usai sarapan Qui langsung melakukan perjalanan menuju perusahaan. Waktu yang digunakan cukup lama lantaran hanya berjalan kaki.
Begitu tiba di halaman perusahaan, Qui terkejut melihat gedung yang telah hancur di bagian lantai sebelas, dua belas dan tiga belas.
"Apa yang telah terjadi?" gumamnya masih heran dengan menatap bangunan tersebut.
"Nona, sedang apa di sini?" tanya seorang pria yang sedang melewati tempat itu.
"Ah, ngomong-ngomong โฆ apa yang sudah terjadi dengan gedung perusahaan ini?"
"Kemarin terjadi kebakaran hebat. Apa Nona tidak tau? Oh ya, dan sekarang perusahaan sedang diliburkan."
Qui berjalan pergi meninggalkan halaman gedung perusahaan. Dia berhenti saat melihat sebuah kursi panjang yang terpajang di tepi jalan. Wanita itu duduk di kursi lalu membuka layar ponselnya.
"Halo," sapa seseorang dari balik telepon tersebut.
"Ah, pelayan โฆ kau tau rumah sakit mana yang semalam menghubungi?" tanya Qui. Benar, dia sedang menghubungi pelayan di rumahnya.
"Rumah sakit A."
"Baiklah, terima kasih."
...----------------...
Sementara itu, Hayan yang baru saja bangun dari tidurnya lantas membangunkan Gabriel yang masih tertidur pulas di sebelah ranjang. Mungkin karena semalam tidur terlalu larut membuat keduanya sama-sama mengantuk.
"Hai! Bangun! Apa tidak lihat ini sudah jam berapa?" Hayan menggoyangkan tubuh pria itu dengan keras hingga membuatnya terbangun dengan kaget.
"Ah โฆ memang sudah jam berapa?" tanya Gabriel seraya mengucak kedua bola matanya. Ia menatap ke arah dinding dimana terlihat sebuah jarum jam menunjukkan angka delapan tepat.
"Aku tidak tau kalau aku akan kesiangan."
__ADS_1
Gabriel bangkit dari kursi lalu berjalan menuju pintu keluar ruangan. Matanya menatap sekeliling seperti sedang mencari keberadaan seseorang.
"Sedang apa kau?" tanya Hayan sedikit jengkel.
"Tidak ada."
"Bawa aku pulang, aku benar-benar sudah tidak tahan terus berada di sini," rajuk nya.
Seketika Gabriel langsung mengangguk. Dia meninggalkan ruangan dimana Hayan masih terbaring di sana. Langkahnya terseret menuju sebuah ruangan, tak lain adalah ruangan dokter yang menangani Hayan.
"Permisi," ucap Gabriel pelan seraya membuka pintu ruangan.
"Masuklah."
"Ada apa?" tanya sang dokter.
"Pasien bernama Hayan ingin pulang, apa sudah boleh jika saya bawa pulang?"
"Sebentar, akan saya periksa."
Gabriel bersama si dokter berjalan menuju ruangan Hayan. Setelah tiba di ruangan, dokter langsung memeriksa tubuh Hayan. Karena kondisi wanita itu yang semakin membaik, sang dokter akhirnya mengizinkan ia untuk pulang.
Di halaman rumah sakit, tiga orang tampak saling memandang keheranan. Pertemuan yang tak disengaja membuat Hayan merasa jijik melihat wajah saudara tirinya.
Tiga orang yang saling bertatapan heran adalah Hayan, Gabriel serta Qui yang baru saja tiba di sana. Tak disangka mereka akan bertemu di depan halaman rumah sakit.
"Sedang apa kau?" tanya Hayan ketus.
"Menjenguk mu, apa tidak bolah?"
Qui menunjukkan beberapa buah yang ia sempat beli dari toko ketika perjalanan menuju rumah sakit.
"Tidak perlu, kau ambil lagi saja," ucap Hayan berlalu pergi meninggalkan sosok wanita itu.
Langkah kakinya diikuti oleh Gabriel dari belakang. Sesekali setengah wajahnya menoleh ke belakang, menatap sosok saudara tiri Hayan yang masih tampak berdiri di sana.
"Apa tidak sebaiknya kau ambil saja buah itu?" saran Gabriel.
Jika boleh jujur, pria itu sebenarnya merasa kasihan melihat sosok Qui ditinggal begitu saja. Niat baik, kenapa juga harus dibalas dengan keburukan, bukan?
"Tidak perlu, aku tau apa yang akan dia lakukan," jawabnya tanpa menoleh sedikitpun.
"Oh ya, aku bingung kenapa kemarin kau tiba-tiba menjauhiku?" tanya Hayan masih penasaran dengan sikap Gabriel kemarin.
"Seโ sebenarnya โฆ."
__ADS_1
Bersambung ...
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (เน`โชฬคโกโชฬค)โแฆิตีฐษีฒฦีแฆ