
๐๐๐ฉ๐ฉ๐ฒ ๐๐๐๐๐ข๐ง๐ ~
๐๐จ๐ก๐จ๐ง ๐๐ข๐ฃ๐๐ค ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐ฆ๐๐ฆ๐๐๐๐, ๐ฒ๐!
๐๐ฎ๐ญ๐ก๐จ๐ซ ๐ง๐๐ง๐ญ๐ข ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ซ๐ข ๐ค๐๐ฅ๐ข๐๐ง ๐ฃ๐ฎ๐ ๐, ๐ก๐๐ก๐. (*หแห*)แตแแตแขแต แตแตแต
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Dedaunan kering jatuh berserakan mengotori tanah, terbawa oleh angin yang berhembus kencang dan membuat dedaunan itu terbang ke udara.
Gabriel duduk di atas ranjang milik Hayan setelah dirinya tiba di kediaman Casta. Halaman yang begitu luas membuatnya sedikit sulit untuk bisa masuk ke dalam rumah itu.
Di dalam sana, Gabriel terus terbayang dengan ekspresi wajah Hayan ketika melihat dua orang di seberang jalan tengah beradu mesra.
Ia merasa kalau hubungannya dengan pria itu pasti cukup serius, hingga membuat Hayan seperti orang mau mati pagi tadi.
Di tengah-tengah membayangkan kejadian itu, Gabriel tiba-tiba merasa lapar. Ia pun terpaksa merubah wujudnya menjadi seekor kucing lagi, untuk bisa mencuri makanan yang berada di ruang makan.
Kriett โฆ
Pintu kamar ia buka dengan perlahan, lalu menatap ke segala arah untuk memastikan tidak ada seorangpun di sana.
Mulai melangkah, dan langkah kecilnya berhenti ketika tiba di tengah-tengah anak tangga, melihat sepasang suami istri tengah berbincang membahas sesuatu.
Merasa penasaran, pria itu pun melompat dari tangga, bersembunyi dibalik lemari kecil yang tak jauh dari tempat sepasang suami istri itu.
"Sayang, sebaiknya kau beritahu Hayan dan Qui โฆ kalau kita akan ke luar negeri besok pagi," ujar Lea seraya meraih pergelangan tangan sang suami.
"Tentu saja, aku harus memberitahu mereka. Tapi aku benar-benar takut jika masalah terjadi pada mereka saat kita tidak ada," balas Guinan merasa khawatir.
"Mereka sudah besar, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan."
"Baiklah, mungkin tidak akan ada masalah, kan?"
Lea mengangguk, lalu keduanya terlihat berjalan mendekati anak tangga untuk menuju lantai dasar.
Setelah dirasa cukup aman, Gabriel akhirnya keluar dari balik lemari kecil itu. Dia mengubah wujudnya menjadi seorang pria tampan, dengan pesona yang begitu luar biasa.
*****
Matahari telah berada di puncak tertingginya, membuat suhu ruangan semakin panas dengan pancaran sinar yang menembus kaca jendela perusahaan.
Hayan bersama seorang wanita tampak berjalan menuju kantin perusahaan, usai memasuki jam istirahat makan siang.
__ADS_1
Ia memesan satu persi makanan pedas seperti biasanya, dengan ditemani minuman soda yang tak kalah segar dari minuman lain.
"Bukankah itu tidak baik untukmu? Kau selalu minum-minuman seperti itu, aku khawatir. Apalagi keluargamu adalah orang yang terpandang, apa mereka akan membiarkanmu makan seperti ini?" tanya Sheliia, wanita yang duduk berseberangan dengan Hayan saat ini.
Sheliia adalah sosok wanita yang baik, entah kenapa sejak pertama kali Hayan masuk ke perusahaan Couse Grup, dirinya selalu menempel pada Hayan.
"Mereka tidak akan tau, mungkin tidak maโ "
Hayan berhenti mengunyah makanan di dalam mulutnya, ketika merasakan perih pada perut yang begitu menyiksa. Wanita itu bergegas lari menuju toilet yang letaknya tak jauh dari tempat mereka duduk.
Setelah kepergian Hayan, Sheliia tak sengaja melihat Qui saudara tirinya itu duduk sendirian di kursi kantin paling ujung. Wajahnya yang polos dengan rambut tergerai ke belakang, benar-benar membuatnya terpana dengan kecantikan Qui.
"Loh, dia hanya sendirian?" gumam Sheliia sedikit heran.
Sementara itu, Hayan yang baru saja keluar dari salah satu toilet dikejutkan dengan sosok Theo. Matanya menatap ke arah cermin, dan sesekali menyiram wajahnya menggunakan air.
Dengan ragu, Hayan mendekat ke arahnya. Membuat pria itu reflek terkejut saat Hayan meraih punggung kanannya.
"Aโ ah, astaga. Kau benar-benar membuatku hampir mati!" ucap Theo dengan suara keras, sejak dulu ia memang tidak pernah berkata lembut pada wanita di hadapannya.
"Aku hanya ingin bertanya." Hayan menunduk, tak berani sedikitpun untuk menatap mata berwarna hitam itu.
"Bertanya? Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan pertanyaanmu. Qui sudah menunggu ku di luar, aku harus segera menemui dia," tangkas nya.
"Huh, dia selalu dingin kepadaku. Apa dia hanya mencintai Qui saja?"
*****
Jam istirahat makan siang telah usai, membawa Hayan kembali menuju kursinya untuk melanjutkan pekerjaan. Namun, wanita berambut pendek itu spontan terkejut, ketika melihat beberapa data di komputernya telah hilang.
Waktu dua hari yang ia habiskan demi menyelesaikan pekerjaan itu, hilang sia-sia tanpa jekak. Hayan memijat keningnya, merasa pusing dengan data yang hilang secara tiba-tiba.
Selang beberapa waktu kemudian, terlihat seorang pria berjalan mendekati meja Hayan. Pria itu adalah sang bos, pemilik perusahaan Couse Grup.
"Mana datanya? Sudah beres, kan?" tanya Harley, tangannya di hulurkan pada Hayan.
"Maaf, taโ tapi, datanya tiba-tiba hilang," jawabnya dengan gugup.
Seketika tangan Harley mendarat di meja dengan keras, sukses menyita perhatian para pegawai lainnya, termasuk Sheliia dan Qui yang berada di satu lantai yang sama.
"Bagaimana bisa data itu hilang?!! Kau sangat ceroboh! Benar-benar ceroboh!" bentak pria itu.
Sheliia yang melihat sahabatnya sendiri dimarahi merasa tidak tega. Padahal selama ini, Harley si bos tidak pernah memarahi siapapun.
__ADS_1
Sudah bertahun-tahun menahan kesabarannya, kini semua kata-kata buruk dilontarkan pada Hayan.
"Dasar bodoh!! Kau benar-benar menghancurkan perusahaan jika data itu belum siap untuk hari ini jutga. Aku sudah percaya padamu, dan memberikan tugas penting ini. Apa kau akan membalasnya dengan menghilangkan data itu?!!"
"Maaf, tapi saya benar-benar tidak tau kenapa datanya bisa hilang. Tapi jujur, saya sudah menyimpan nya di dalam dokumen," ungkap Hayan berusaha untuk membela dirinya.
"Aku tidak ingin tau, kau harus menyelesaikan nya malam ini juga!" tegas Harley.
"Maksdunya, lembur?"
"Ya!"
Begitulah, Hayan hanya bisa menghela nafas panjang. Malam ini dirinya benar-benar harus lembur panjang untuk mengganti data yang telah hilang.
*****
Langit tampak gelap, hanya ada rembulan serta bintang-bintang yang bersinar terang di langit malam. Hayan akhirnya bisa menutup layar komputer, usai menyelesaikan pekerjaan lembur nya.
Mungkin pekerjaan itu akan selesai lebih awal jika saja Sheliia tidak pergi karena ada kepentingan.
Hayan keluar dari gedung perusahaan, menatap langit malam dengan pasrah.
"Sudah selesai? Kenapa malam sekali?"
Kontan matanya terbuka lebar, begitu melihat sosok Gabriel tengah berdiri di sebelah pintu perusahaan dengan kedua telapak tangan diletakkan ke dalam saku celana.
Bola matanya yang berwarna biru sukses menyita perhatian Hayan. Membuat kedua bola mata mereka saling bertemu dalam jarak yang cukup dekat.
"Keโ kenapa kau bisa di sini? Bahaya, tau! Bagaimana jika kau tersesat?!!" oceh Hayan.
Bukannya kesal, Gabriel justru tersenyum manis. Wajah imutnya lagi-lagi ia tebarkan pada wanita berambut pendek itu.
"Hai, aku sudah dewasa. Lagipula โฆ aku kan seekor kucing, sudah pasti tahu jalan," sahutnya cengengesan.
"Ah, beโ benar juga sih."
"Ayo pulang, kau pasti sangat lelah ya?" tanya Gabriel, langsung meraih lengan Hayan untuk berjalan.
"Tentu saja!!"
Bersambung ...
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (เน`โชฬคโกโชฬค)โแฆิตีฐษีฒฦีแฆ
__ADS_1